Maknai Hijrah dengan Memahami Peran Kepemimpinan

Maknai Hijrah dengan Memahami Peran Kepemimpinan
OPINI
Adi Supriadi
| 14 December 2010 | 13:45
Oleh : Adi Supriadi (Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan)

Email : adisupriadi@rabbani.co.id

“Dunia ini tempat bekerja, bukan tempat untuk memperoleh pahala, sedangkan akhirat itu tempat memperoleh pahala, bukan untuk tempat bekerja. Karena itu bekerjalah dengan sungguh-sungguh di tempat yang tiada pahala untuk nanti di tempat yang tiada pekerjaan”

Ali Bin Abi Thalib

Di peristiwa Isra’ dan Mi’raj dan Hijrah, ada banyak hal yang dapat kita renungkan bersama, mengapa Rasulullah SAW dapat bertemu langsung dengan Allah Swt di Peristiwa Isra dan Mi’raj? Sementara malaikat Jibril As tidak bisa? Bukankah malaikat Jibril adalah malaikat yang diyakini sangat dekat dengan Allah Swt? Dan bukanlah Rasulullah SAW hanya manusia biasa? Kemudian mengapa Rasulullah memilih Hijrah ke Madinah di saat kondisi dakwah sedang dimulai di Kota Makkah. Di Artikel ini, penulis ingin membahasnya

hijrahJika kita renungkan hal ini, maka kita sesungguhnya akan menyadari bahwa Muhammad Rasulullah SAW dapat mengungguli Jibril As. Artinya seorang manusia biasa dapat mengungguli malaikat. Dahsyat bukan? Rasulullah SAW memang Nabi utusan Allah Swt, tetapi perlu kita ingat juga beliau adalah manusia biasa. Sedangkan Jibril adalah malaikat yang suci dari perbuatan dosa. Untuk itulah, mengapa banyak pendapat di kalangan Muslim, berkenaan dengan penafsiran ayat Al Qur’an surat At Tin yang menyatakan bahwa manusia bisa mempunyai derajat yang rendah layaknya bintang, tetapi juga bisa mempunyai derajat yang tinggi layaknya malaikat.

Tetapi, merujuk pada peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau bisa lebih tinggi dari malaikat, karena malaikat hanya melakukan apa-apa yang diberikan Allah Swt. Sebaliknya manusia akan selalu mampu melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena kebebasan eksistensinya. Karena itu manusia bisa berkedudukan lebih rendah dari binatang yang paling rendah dan bisa berkedudukan lebih tinggi dari kedudukan malaikat.

Pertanyaannya, apakah hanya bisa dilakukan Rasulullah SAW saja? Jawabanya tidak! Karena Islam sudah menjawabnya dengan melahirkan tokoh-tokoh besar dengan karya besar mereka karena mereka sungguh-sungguh menjalani profesinya. Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman Bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Imam Al Ghazali, Ibnu Rusd, Ibnu Sina, dan ulama ilmuwan yang lainnya.

Sekarang mari kita lihat kedalam diri kita masing-masing, yaitu tentang kerja kita selama ini, apakah pekerjaan kita sudah sangat bermanfaat untuk ummat sekalian ‘alam, sudahkah pekerjaan kita sudah kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Mari kita jujur, sudah berapa banyak kebaikan yang sudah tersebar dari tangan kita? Kita manusia seperti Rasulullah SAW, lalu kapan kita bisa seperti beliau dengan kesungguhannya menjalankan amanah kerjanya sebagai seorang Nabi beliu bisa mengungguli malaikat? Pahamilah, bahwa kita mempunyai potensi yang sama. Sama-sama berpotensi untuk melebihi binatang dan sama-sama berpotensi melebihi malaikat. Kita diwajibkan untuk memilih diantara keduanya, islam mengajarkan pilihlah antara NUR dan JULUMAT ; Cahaya atau kegelapan atau lebih tepatnya SUKSES atau GAGAL.

Cobalah untuk kita mengerti mengapa kita suka melakukan kebohongan, menipu orang yang bermitra dengan kita, memfitnah pesaing-pesaing kita, mencuri harta yang bukan milik kita, takabur akan status kita, dan kita pun sudah sangat tahu kalau bangsa kita menjadi bangsa terkorup di dunia. Kitapun semakin sadar kenapa orang-orang terlalu berat melakukan kebaikan, tetapi cukup mudah untuk bermaksiat, mengapa dunia ini sangat menggiurkan dan akhirat sangat menakutkan. Jika dia adalah seorang pekerja, maka pekerja seperti ini akan sangat sulit tercerahkan, akhlaqnya buruk, dan hatinya dipenuhi kezaliman-kezaliman. Pekerja seperti ini sangat sulit untuk dibuat cerdas dan maju, dan orang ini tidak pantas diberi amanah pekerjaan.

Disamping itu, kita tidak boleh merasa puas dengan hasil karya kita yang sesaat itu, orang bijak mengatakan musuh terbesar kesuksesan hari ini adalah kesuksesan hari kemarin, dan musuh terbesar kesuksesan di hari esok adalah kesuksesan hari ini. Sekali lagi, kita tidak boleh puas dengan adilnya kita dalam membuat kebijakan, jujurnya kita dalam menjalankan tugas, dan tidak boleh puas dengan kerendah hatian kita. Karena itu musuh kebaikan di hari selanjutnya.

Untuk mengakhiri tulisan ini, mari kita renungkan perkataan Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang anda baca diatas : “Dunia ini tempat bekerja, bukan tempat untuk memperoleh pahala, sedangkan akhirat itu tempat memperoleh pahala, bukan untuk tempat bekerja. Karena itu bekerjalah dengan sungguh-sungguh di tempat yang tiada pahala untuk nanti di tempat yang tiada pekerjaan.”

Rasulullah sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang utusan Allah, Rasulullah sangat mengerti dengan tugas kekhalifahannya, beliau seorang profesional, dan beliau tidak berharap apa-apa dari apa yang telah beliau lakukan, karena dunia ini adalah tempat bekerja bukan tempat menerima pahala, pahala diterima disaat kita sudah tidak mampu melakukan pekerjaan apapun.

Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita semua untuk menjunjung tinggi profesionalitas (baca : ikhlas) dalam menjalankan amanah kekhalifahan kita di muka bumi ini, sebagai seorang presiden, pengusaha, maupun pekerja akan sangat menjadi perpaduan yang indah jika kita semua melakukan pekerjaan seperti halnya Rasulullah SAW. Kita akan menjadi bangsa yang maju karena kita memainkan peran kita dengan peran terbaik apapun peran itu, sebagaimana Rasulullah SAW telah sukses membangun sebuah bangsa yang maju dari bangsa-bangsa yang lain, yaitu Madinah Al Munawarah. Satu hal lagi, Rasulullah SAW juga telah berhasil menjadi pribadi terbaik mengalahkan derajat malaikat yang suci, karena Rasulullah sangat mengerti dengan amanah kerja ke khalifahannya dan memahami tujuan hidupnya.

Jika anda terlahir gagal dan miskin itu bukan salah anda. Tetapi jika anda mati dalam keadaan gagal dan miskin, itu salah anda. Orang bijak mengatakan hidup manusia itu pilihan dan apapun pilihan mempunyai resiko, dan yang terbaik adalah bukan bagaimana memulainya tetapi bagaimana dia mengakhirinya. Sukses dalam genggaman anda, Amin…

*) Penulis adalah Writer, Trainer dan Public Speaker di Kota Bandung, Jawa Barat. Alumni STAI Al Haudl Ketapang Kalbar. (Kontak : assyarkhan@yahoo.com / adikalbar@gmail.com )

About these ads

Komentar ditutup.