APA & BAGAIMANA MANUSIA MATI .

Apa & Bagaimana Manusia MATI?
Catatan : ©D?M?D?N™? oleh ©Ab Dive™
Jakarta, 11 Desember 2010

Bismillaahirrohmanirrohiim,
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Qul innal-mautal-lazi tafirruna minhu fa innahu mulaqikum summa turadduna ila ‘alimil-gaibi wasy-syahadati la yu-nabbi’ukum bima kuntum ta’malun.” (Al-Jumu’ah:8).

Shalawat hanya teruntuk Baginda Rasul yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan salam bagi keluarga, sahabat, serta seluruh ummat beliau hingga akhir zaman.

Amma ba’du.

Ikhwaanii wa Akhwaatii yang Abi sayang dan dimuliakan oleh Allah swt…

Menurut bahasa, mati berarti keluarnya ruh dari jasad atas perintah Allah swt semata, tidak seorang pun diberi hak untuk itu karena perintahnya datang dari Allah swt, sedangkan pelaksanaannya adalah malaikat yang diberi wewenang untuk mencabut nyawa.

Hal ini, merupakan sunnatullah bagi makhluk-Nya, sejak Adam diciptakan sampai hari kiamat. Tidak ada seorangpun yang dapat menolak kematian meskipun ia memiliki ilmu, seperti ilmu kedokteran dan ilmu bedah, yang telah menguasai anatomi tubuh manusia dan DNA yang dapat membedakan manusia satu dari yang lain.

Allah yang Mahasuci telah menganugerahi akal kepada manusia. Meskipun ilmu pengetahuan sekarang ini telah berkembang sangat pesat serta banyak penemuan baru yang dapat mengangkat kesejahteraan hidup manusia, kemampuan akal manusia tertap terbatas karna semuanya akan terhenti pada usia pikun dan kematian. Tidak seorang pun dapat mengelak dari kedua hal tersebut, tidak ada yang mampu membatalkan, bahkan tidak ada yag mampu mengetahui misteri keduanya.

Kematian merupakan sunnatullah yang tidak dapt diubah oleh makhluk. Sebagaimana segala peristiwa di alam ini yang merupakan ketetapan Allah, seperti sperma yang merupakan asal manusia, udara yang mengandung unsur oksigen, hydrogen, karbondioksida yang menjadi sumber kehidupan manusia. Meskipun kandungan unsurnya sama. Komposisi unsur di udara air dan tanah tidak sama. Manusia tidak dapat mengubah apa yang telah ditetapkan Sang Khalik.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“…(Allah telah menciptakan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (QS Al-Ahzab : 38)

“…Itulah (ketentuan) Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan ketika itu rugilah orang-orang kafir.” (QS. Al-Mu’min: 85)

“Sebagai sunnah Allah yang (*berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu) dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 62)

Sesungguhnya manusia tidak akan dapat menyelesaikan masalah tersebut meskipun ilmu pengetahuan telah mengalami kemajuan pesat. Manusia dapat saja membuat keturunan tanpa proses alamiah, misalnya dalam sebuah tabung yang dikenal dengan bayi tabung. Di masa yang akan datang mungkin saja manusia akan mencapai ilmu pengetahuan yang lebih maju karena penemuan ilmiah akan terus berjalan tanpa dapat dicegah, hanya saja semua itu akan terhenti pada ketentuan Allah yang Mahasuci karena kemampuan manusia terbatas, sedangkan ilmu Allah tak terbatas.

Allah berfirman,

“…Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya, melainkan apa yang Dia kehendaki…” (QS. Al-Baqarah: 255)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia akan mencapai kemajuan ilmu pengetahuan yang paling luar biasa, berkat kemampuan akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia, akal yang diciptakan atas kekuasaan Allah.

Tidak juga dipungkiri bahwa kemajuan ilmu itu tidak dapat dibendung lagi, tetapi semua itu akan terhenti pada dua hal, yaitu ketuaan dan kematian. Selain penyakit tua dan mati, Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan berpasangan. Setiap penyakit ada obatnya dan hal itu dapat diketahui oleh manusia yang berilmu.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit sekalipun, kecuali menurunkan obatnya, tahulah orang yang berilmu dan tidak mengetahuinya orang yang bodoh kecuali mati.” (HR Hakim)

Rasulullah saw telah menjelaskan bahwa kesungguhan, ilmu dan kajian yang dilakukan manusia dapat mencapai kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk menemukan obat manusia perlu riset berulang kali dan jika obat telah ditemukan berarti manusia mengetahui tubuh manusia. Meskipun manusia telah mencapai kemajuan ilmu pengetahuan, saat kiamat telah tiba, ia tetap tidak akan mampu lari atau keluar dari kematian karena kematian tidak ada obatnya. Sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah saw pada hadits yang lain bahwa manusia juga tidak memiliki obat untuk mencegah terjadinya pikun.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak pernah menurunkan penyakit, kecuali Dia menurunkan juga obatnya, kecuali penyakit pikun, untuk itu minumlah susu sapi karena susu itu terbuat dari sari pati pohon.” (HR Hakim)

Segala sesuatu yang Allah ciptakan di dunia, baik yang berada di angkasa, bumi, maupun tubuh manusia itu sendiri telah diciptakan batas waktunya dan ini merupakan sunnatullah yang tidak dapat diubah atau diganti oleh manusia.

Pikun dan mati merupakan dua unsur yang tidak dapat dihindari manusia, sebagai hukum Allah yang berlaku bagi manusia karena dunia bukan tujuan melainkan sarana dalam menjalani kehendak Allah. Akhirat merupakan tujuan manusia diciptakan di muka bumi karena tempat manusia yang langgeng dan abadi adalah surga atau neraka. Sedangkan, dunia hanya sebagai tempat singgah sementara, tempat beristirahat, atau seperti seseorang yang berteduh di bawah sebuah pohon kemudian berlalu.

Agar manusia tidak beralasan kepada Allah, Allah mengutus para rasul untuk menjelaskan kepada manusia tentang rahmat Allah di akhirat kelak dan mengingatkan mereka dari fitnah dunia, yaitu manusia yang menjadikan dunia sebagai tujuan, yang memperturutkan hawa nafsu, serta tidak percaya kepada hari akhirat dan akan kembali kepada Allah setelah meninggal. Mati, sesuatu yang pasti di alami semua manusia, seolah-olah telah berada didepam mata, sementara akhirat bagai sesuatu yang tidak nyata, tidak tampak di depan mata.

Mati, adalah satu ketetapan bagi kehidupan manusia. Manusia wajib merenungkan dan memikirkannya karena setiap manusia, apa pun keyakinan dan agamanya akan bertanya-tanya, apa yang akan terjadi setelah mati? Jika ia orang beriman, jawabannya ialah sesungguhnya ia akan kembali kepada Allah Yang Mahasuci. Allah mengisahkan ungkapan penyesalan lisan orang-orang kafir pada hari kiamat nanti, dengan berfirman,

“Dan mereka berkata, “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 10)

Allah yanmg Mahasuci telah meniadakan akal dan pendengaran dari setiap orang yang menjadi penghuni neraka sa’ir. Orang yang akan menjadi penghuni neraka tidak pernah ada waktu untuk bertanya-tanya tentang ‘Apa yang akan terjadi setelah mati?’ jika ia bertanya-tanya tentang masalah tersebut, niscaya akan mencapai kebenaran, selamat dari neraka dan bahagia. Namun, jika kamu bertanya-tanya tentang “Apa yang akan terjadi setelah mati?” niscaya kamu menyiapkan dirimu dengan persiapan yang baik agar selamat dari neraka jahanam.

Wahai ikhwaani wa akhwaatii rahimakumullah…

Semoga saja keterangan dan kejelasan yang kami beritakan ini, dapat kiranya memperingatkan kita untuk suatu bentuk KEPASTIAN yang tidak akan dapat dihindari. Dengan begitu, apakah MATI lantas diartikan sebagai kehancuran bagi manusia? Nah apabila kita yang “calon mayyit” ini berkeinginan mengetahui dan mencernanya lebih jauh lagi, insya Allah Abi akan komunikasikan pengetahuan tersebut pada pertemuan ataupun catatan berikutnya…

Barakallaahu fiekum,
Wassalamu’alaykum wr.wb.
©D?M?D?N™? oleh ©Ab Dive™

About these ads

Komentar ditutup.