Willem Iskandar : Tokoh Pendidikan Nasional “YANG TERLUPAKAN”

Willem Iskandar : Tokoh Pendidikan Nasional “YANG TERLUPAKAN” ?

Willem Iskandar, seorang tokoh pendidikan berskala nasional, jauh sebelum Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, beliau sudah mendidirikan lembaga pendidikan untuk menghasilkan guru-guru, yang berbasis kerakyatan (1862). Selain seorang seniman, penulis dan tokoh publik pada massa itu, beliau juga seorang cendikiawan pertama dari tanah Batak yang menempuh pendidikan formal hingga ke Netherland (tahun 1857). Williem Iskandar dilihat dari study literature dicerminkan sebagai seorang tokoh yang sederhana walaupun secara genetic beliau adalah darah biru.
Dalam sejarah pendidikan nasional, nama Willem Iskandar tercatat secara local tidak banyak yang mengetahui sejarah beliau secara nasional bahkan di sumatera utara pun banyak yang tidak mengenal sosok yang satu ini. Mungkin penyebabnya nama beliau tidak dimasukkan dalam kurikulum sejarah nasional sebagai seorang pahlawan nasional.

Siapakah Willem Iskandar?
WILLEM ISKANDAR, Seorang putera raja, budayawan sekaligus sastrawan yang aktif berjuang menanamkan dasar-dasar semangat pembaharuan di bidang pendidikan ala Barat dan pemikiran yang pragmatis. Sebagai penyair ia disebut-sebut 60 tahun mendahului Pujangga Baru. Pantunnya tak terikat oleh bentuk sajak tertentu. Pada tahun 1978 ia mendapatkan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Willem Iskandar lahir pada bulan Maret 1840 di Pidoli Lombang, Tapanuli Selatan. Nama kecilnya Sati, ia anak bungsu Raja Tinating, Tapanuli Selatan. Sati mendapat pendidikan ala Barat di Sekolah Rendah Panyabungan. Sekolah ini didirikan Alexander Philipus Godon, seorang berkebangsaan Belanda yang bertugas sebagai kontrolir atau asisten presiden di Mandailing. Sebagai kontrolir ia harus menjalin hubungan baik dengan Raja Tinating agar tugasnya lancar. Sekolah Panyabungan itulah yang digunakan Godon untuk mendapatkan perhatian raja-raja setempat. Guru-gurunya terdiri dari orang-orang Melayu.
Baginda Mangaraja Enda, generasi III Dinasti Nasution, mempunyai tiga orang isteri yang melahirkan raja-raja Mandailing. Isteri pertama boru Lubis dari Roburan yang melahirkan putera mahkota Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar. Baginda Mangaraja Enda menobatkan Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menjadi raja di Hutasiantar dengan kedudukan yang sama dengan dirinya.
Isteri kedua, boru Hasibuan dari Lumbanbalian yang melahirkan empat orang putera yang kelak menjadi raja. Mereka adalah Sutan Panjalinan raja di Lumbandolok, Mangaraja Lobi raja di Gunung Manaon, Mangaraja Porkas raja di Manyabar dan Mangaraja Upar atau Mangaraja Sojuangon raja di Panyabungan Jae. Isteri ketiga, boru Pulungan dari Hutabargot yang melahirkan dua orang putera, ialah: Mangaraja Somorong raja di Panyabungan Julu dan Mangaraja Sian raja di Panyabungan Tonga.
Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar menobatkan tiga orang puteranya menjadi raja, masing-masing Baginda Soalohon raja di Pidoli Lombang, Batara Guru raja di Gunungtua, dan Mangaraja Mandailing raja di Pidoli Dolok.
Penobatan tiga putera Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar itu dilakukan menyusul pemberontakan yang dilancarkan raja-raja di tiga daerah tersebut terhadap Baginda Mangaraja Enda. Sutan Kumala Sang Yang Dipertuan Hutasiantar berhasil memadamkan pemberontakan terhadap ayahandanya itu. Sementara itu raja- raja yang berontak eksodus bersama sebagian rakyatnya ke daerah pantai dan pedalaman Pasaman.

Ada tiga tokoh penting dalam generasi XI Dinasti Nasution. Pertama, Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar, yang biasa disingkat menjadi Yang Dipertuan. Tokoh ini dikenal sebagai raja ulama yang namanya banyak disebutkan oleh Multatuli di dalam karyanya Max Havelaar. Belanda menjulukinya Primaat Mandailing. Yang Dipertuan membantu kompeni melawan pasukan Paderi. Tokoh inilah yang bekerjasama dengan Asisten Residen Mandailing Angkola, 1848-1857,
Alexander Philippus Godon (1816-1899), merancang dan membangun mega proyek jalan ekonomi dari Panyabungan ke pelabuhan Natal sepanjang kl. 90 kilometer. Kedua, Sutan Muhammad Natal, yang banyak disebut Multatuli di dalam Max Havelaar dengan nama Tuanku Natal, seorang raja Natal yang muda dan cerdas, sahabat karib Multuli ketika menjabat Kontrolir Natal (1842-1843). Ketiga, Sati gelar Sutan Iskandar ialah tokoh kita, Willem Iskander, yang lahir di Pidoli Lombang pada bulan Maret 1840. Tuanku Natal dan Willem Iskander adalah cucu langsung dari Sutan Kumala Porang, raja Pidoli Lombang.
Pada usia 13 tahun, 1853, Sati masuk sekolah rendah dua tahun yang didirikan Godon di Panyabungan. Begitu lulus, 1855, Sati diangkat menjadi guru di sekolahnya. Barangkali Willem Iskander lah guru formal termuda, 15 tahun, dalam sejarah pendidikan Indonesia. Pada saat yang sama ia juga diangkat oleh Godon menjadi juru tulis bumiputera (adjunct inlandsch schrijfer) di kantor Asisten Residen Mandailing Angkola di Panyabungan. Jabatan guru dan juru tulis itu dijabatnya dua tahun, menggantikan Haji Nawawi yang berasal dari Natal, sampai menjelang keberangkatannya ke Negeri Belanda bersama Godon, Februari 1857.
Salah satu penemuan saya tentang riwayat hidup Willem Iskander adalah Acte van bekenheid, ialah Surat Kenal sebagai pengganti Akte Kelahiran. Dokumen inilah antara lain yang saya pamerkan pada acara peringatan 100 tahun wafatnya Willem Iskander tanggal 8 Mei 1976 di Geliga Restaurant, Jln. Wahid Hasyim 77C, Jakarta Pusat. Sejak itu masyarakat mengetahui tarikh kelahiran Willem Iskander, ialah pada bulan Maret 1840 di Pidoli Lombang, Mandailing Godang. Ibunya Si Anggur boru Lubis dari Rao-rao dan ayahnya Raja Tinating, Raja Pidoli Lombang. ( lihat tulisan Basyral Hamidy Harahap dalam Waspada, Rabu, 18 Mei 1977/Jumadil Awal 1397H )
Akte ini dibuat oleh sejumlah orang yang memberikan kesaksian tentang kelahiran Willem Iskander, ialah Arnoldus Johannes Pluggers amtenar diOnderafdeeling Groot Mandailing en Batang Natal, Johannes Hendrik Kloesman berusia 50 tahun amtenar yang berdiam di Tanobato, dan Philippus Brandon usia 40 tahun amtenar yang berdiam di Muarasoma. Akte bertanggal 28 Februari tahun 1874 ini ditandatangani oleh tiga amtenar tersebut, kemudian dilegalisasi oleh Residen Tapanuli, H.D. Canne, di Sibolga. Seterusnya akte ini dilegalisasi lagi oleh Sekretaris. Ministerie van Kolonien, Henney, di Den Haag pada tanggal 7 Juni tahun 1876.
Nama Sati Nasution gelar Sutan Iskandar adalah nama yang dicantumkan di dalam teks Acte van Bekenheid. Nama Willem Iskander diberikan kepadanya ketika dia masuk Kristen di Arnhem pada tahun 1858, setahun sebelum ia belajar diOefenschool di Amsterdam. Seterusnya, nama Willem Iskander dipakainya di dalam karyanya, surat-surat, beslit, piagam, surat nikah dll. Jadi adalah salah kalau orang menulis namanya menjadi Willem Iskandar, yang benar adalah Willem Iskander.
Kecerdasan Sati menarik perhatian Godon. Ketika tiba masa remaja Sati mendapat gelar Sutan Iskandar, dan ia diangkat anak oleh keluarga Godon. Saat itu usianya menginjak tahun ke-13. Pada tahun 1857 Sutan Iskandar diboyong keluarga angkatnya ke Negeri Belanda.
Di Belanda namanya berubah menjadi Willem Iskandar, dan ia masuk ke Oetenschool, sebuah sekolah guru. Salah satu gurunya Prof. H.S. Milles adalah ahli bahasa dan sastra Timur. Ia berhasil membangkitkan minat Willem Iskandar untuk mempelajari bahasa dan sastra Timur khususnya bahasa, huruf dan sastra Batak Mandailing.
Willem berhasil menamatkan pendidikannya pada tahun 1860, dan tak lama kemudian kembali ke tanah air. Pekerjaan pertamanya adalah menjadi guru bantu di Sekolah Rendah Panyabungan, almamaternya dulu. Pada tahun 1862 ia mendirikan sekolah guru di Tanobate, yang guru-guru dan fasilitas sekolahnya banyak didukung oleh profesional asal Belanda. Pelajaran pokok di sekolahnya adalah fisika, matematika, bahasa Melayu dan Belanda, sedangkan ekstra kurikulernya antara lain pelajaran sejarah tanah air.
Willem mendidik pribadi-pribadi mandiri yang mampu membuat esei dan mahir menulis surat dalam Bahasa Melayu maupun Belanda. Penguasaan bahasa dimaksudkan agar muridnya memiliki pengetahuan luas, dan kelak mereka bisa menjadi guru sekaligus pengarang. Berkat kegigihannya itu Willem telah meletakkan dasar-dasar pendidikan Eropa untuk kemajuan kaum pribumi di mada depan. Kendati disibukkan oleh urusan belajar mengajar, Willem terus mengembangkan kemahirannya menciptakan karya sastra disamping melakukan penerjemahan karya sastra Belanda.
Willem Iskander bukan secara kebetulan menjadi pengarang, akan tetapi ia adalah hasil tempaan dari pendidikan formal dan informal, serta pengalaman tak terbatas dan bacaan yang luas pula. Intelektualitasnya yang tinggi, kepekaannya terhadap segala sesuatu yang bergerak di alam ini, dan kehausannya terhadap ilmu menyebabkan ia tumbuh dan berkembang. Ia hidup dalam dua dunai. Dunia sekitarnya yang masih terbelakang dan dunia intelektual yang amat maju di depan. Ia sungguh terlempar ke masa depan yang amat jauh.
Dalam situasi seperti itu ia tidak frustrasi, tetapi justru ia merasa bersyukur berada dalam lingkungan masyarakat yang terbelakang untuk kemudian dibangkitkannya dengan tekun. Ia bekerja melalui sekolah dan karangan-karangannya. Sebelum ia mengarang tentu saja ia telah terlebih dahulu membekali dirinya dengan pengetahuan yang antara lain diperolehnya melalui bacaan. Dalam hal ini karya-karya Munshi Abdullah dan Multatuli merupakan bacaannya yang utama, ini dapat difahami, karena sebagian besar karya-karya Abdullah telah terbit sebelum Willem Iskander lahir dan beberapa diantaranya terbit ketika ia kanak-kanak.
Kepergiannya ke negeri Belanja untuk belajar, 1857-1861, memberi peluang yang amat luas baginya untuk membaca sebanyak-banyaknya karja-karja Abdullah yang tersedia disana. Telah diketahui bahwa peranan Abdullah dalam sejarah kesusastraan Melayu/Indonesia amat besar berupa kepeloporannya dalam melepaskan diri dari tradisi kesusastraan lama yang masih hidup di sekitar istana. Sekalipun Abdullah belum dapat lepas sama sekali dari tradisi itu, ia ternyata telah meninggalkan kehidupan istana. Isi karya-karya Abdullah telah membicarakan hal-hal yang hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, ia menentang setiap kezaliman dan sekaligus memperhatikan pendidikan pribumi.
Munshi Abdullah berdarah Arab-Keling, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang terpelajar. Masa mudanya digunakan untuk belajar bahasa Arab, Tamil, Inggeris dan Melayu serta agama Islam. Kemudian ia bekerja di suatu percetakan di Malaka. Karier selanjutnya antara lain sebagai juru bahasa di kantor Raffles. Pergaulannya yang luas dengan orang-orang barat menempanya menjadi seorang yang berfikir rasionil lepas dari ketahyulan. Kepribadian Abdullah seluruhnya tergambar dalam karangan-karangannya yang amat mengesankan. Kehadiran pengaruh Abdullah dalam karangan-karangan Willem Iskander dapat dirasakan terutama yang bertema pendidikan, ketuhanan dan kritik sosial, dan terasa adanya warna kepribumian yang memperjuangkan bangsa sendiri.
Kumpulan prosa dan puisinya dimuat dalam buku Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk yang telah mulai ditulis sejak tahun 1869. Isinya penuturan Willem perihal sikap luhur manusia di sisi Tuhan. Willem juga menciptakan karya-karya sastra yang mendobrak kehidupan feodalistis dengan penuturan yang humoris. Ini tentu saja tak disukai oleh keluarganya yang berdarah bangsawan. Akibatnya, Willem tak mendapat tanah warisan secuilpun. Namun pengorbanan Willem itu tak sia-sia. Pada akhirnya ia justru mampu membangun masyarakat Tapanuli Selatan menjadi pribadi-pribadi yang kreatif, gemar belajar dan bekerja keras, kritis dan memiliki semangat nasionalisme yang luar biasa yang otomatis menempatkan sukuisme jauh di bawah rasa kebangsaan.
Berkat Willem, rakyat biasa mulai mampu melancarkan protes terhadap penjajahan melalui pantun ataupun prosa. Pantun atau ende-ende bernada protes terhadap ketidakadilan itu biasanya digelar di tengah keramaian, di areal kebun kopi atau sawah saat orang-orang sedang berkeringat dalam sebuah kerja rodi. Ia wafat tahun 1876, namun baru pada tanggal 15 Agustus 1978 Willem Iskandar mendapatkan penghargaan dalam bidang seni dari Menteri Pedidikan dan Kebudayaan. Penerimanya, ahli warisnya yang khusus datang dari tanah Pidoli Lombang. Karya Si Hendrik Yang Baik Hati karya terjemahan pertama yang dilakukan Willem dari buku berbahasa Belanda yang berjudul De Brave Hendrik karya Gonggrijp.

Pertemuan Willem Iskander dengan Munshi Abdullah dan Multatuli
Kepeloporan Willem Iskander dalam sejarah pendidikan di Indonesia tidak dapat diragukan lagi. Hal ini bukan saja telah terbukti dalam arsip-arsip abad yang lalu, tetapi juga telah diulas orang dalam karangan ilmiah, dalam disertasi, bahkan telah dicanangkan oleh berbagai mass media di Jawa dan Belanda satu abad yang lalu. Ia terpendam begitu lama, dan sekarang penulis sedang sibuk mengadakan penelitian tentang tokoh ini untuk membuka tabir masa silamnya yang selama ini masih gelap.
Willem Iskander bukan saja menjadi guru di kelas, tetapi ia juga benar-benar menjadi pelopor modernisator, yang berusaha keras memerangi keterbelakangan bangsa melalui kontaknya yang akrab dengan masyarakat di sekitarnya. Tano Bato di kaki gunung Sorik Marapi tumbuh sebagai pusat modernisasi satu abad yang lalu, dari tempat ini Willem Iskander mencetak banyak cendekiawan muda yang kemudian tersebar ke pusat-pusat pemerintahan di Sumatra. Ia bukan saja mencetak cendekiawan guru, tetapi sekaligus menghasilkan guru pengarang, seperti dirinya.
Di Kweekschool Tanobato, Willem Iskander juga mengajar kesusastraan Melayu. Dalam matapelajaran ini ia mewajibkan kepada murid-muridnya untuk membaca dan memahami “Panja tandaran yaitu hikayat Kalillah dan Daminah”. Karya ini diterjemahkan oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dengan bantuan sahabatnya Tambi Muttu Virabattar di Malaka, dan diterbitkan pada tahun 1838. Pengajaran kesusastraan Melayu yang diberikan oleh Willem Iskander pada ketika itu, mutunya sudah tinggi. Murid-muridnya sama sekali tidak mengalami kesukaran untuk memahami karangan-karangan berbahasa Melayu, karena bahasa dan kesusastraan Melayu merupakan salah satu matapelajaran yang penting disamping bahasa Mandailing dan bahasa Belanda. Dari kemampuan berbahasa ini, murid-muridnya memiliki cakrawala yang luas. Mereka kemudian bukan saja menterjemahkan dan menyadur, tetapi juga mengarang sendiri. Kemampuan mengarang dan menterjemahkan murid-muridnya, dibinanya antara lain dengan memberikan tugas-tugas sekolah untuk menterjemahkan karya-karya yang mereka senangi, yang kamudian dibicarakan bersama sebelum siap untuk diterbitkan. Karya-karya mereka ini tidak terbatas pada bahasa dan sastra, tetapi juga dihasilkan buku pelajaran berhitung yang kemudian dipakai di sekolah rendah pada ketika itu.
Willem Iskander bukan secara kebetulan menjadi pengarang, akan tetapi ia adalah hasil tempaan dari pendidikan formil dan informil, serta pengalaman yang luas dan bacaan yang luas pula. Intelektualitasnya yang tinggi, kepekaannya terhadap segala sesuatu yang bergerak di alam ini, dan kehausannya terhadap ilmu menyebabkan ia tumbuh dan berkembang. Ia hidup dalam dua dunai. Dunia sekitarnya yang masih terbelakang dan dunia intelektuil yang amat maju di depan. Ia sungguh terlempar ke masa depan yang amat jauh. Dalam situasi seperti ini ia tidak frustrasi, tetapi justru ia merasa bersyukur berada dalam lingkungan masyarakat yang terbelakang itu untuk kemudian dibangkitkannya dengan tekun. Ia bekerja melalui sekolah dan karangan-karangannya. Sebelum ia mengarang tentu saja ia telah terlebih dahulu membekali dirinya dengan pengetahuan yang antara lain diperolehnya melalui bacaan. Dalam ini karya-karya Abdullah merupakan bacaannya yang utama, ini dapat difahami, karena sebagian besar karya-karya Abdullah telah terbit sebelum Willem Iskander lahir dan beberapa ketika ia kanak-kanak.
Kepergiannya ke negeri Belanja untuk belajar, 1857-1861, memberi peluang yang amat luas baginya untuk membaca sebanyak-banyaknya karja-karja Abdullah yang tersedia disana. Telah diketahui bahwa peranan Abdullah dalam sejarah kesusastraan Melayu/Indonesia amat besar berupa kepeloporannya dalam melepaskan diri dari tradisi kesusastraan lama yang masih hidup di sekitar istana. Sekalipun Abdullah belum dapat lepas sama sekali dari tradisi itu, ia ternyata telah meninggalkan kehidupan istana. Isi karya-karya Abdullah telah membicarakan hal-hal yang hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, ia menentang setiap kezaliman dan sekaligus memperhatikan pendidikan pribumi. Abdullah yang berdarah Arab-Keling ini, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang terpelajar. Masa mudanya digunakan untuk belajar bahasa Arab, Tamil, Inggeris dan Melayu serta agama Islam. Kemudian ia bekerja di suatu percetakan di Malaka. Karier selanjutnya antara lain sebagai juru bahasa di kantor Raffles. Pergaulannya yang luas dengan orang-orang barat menempanya menjadi seorang yang berfikir rasionil lepas dari ketahyulan. Kepribadian Abdullah seluruhnya tergambar dalam karangan-karangannya yang amat mengesankan. Kehadiran pengaruh Abdullah dalam karangan-karangan Willem Iskander dapat dirasakan dalam karangan-karangan Willem Iskander yang bertema pendidikan, ketuhanan dan kritik sosial, dan terasa adanya warna kepribumian yang memperjuangkan bangsa sendiri.
Kisah perjalanan Willem Iskander dari Batavia, ketika ia pulang tahun 1861, menuju Padang Natal, Muara Soma, dan akhirnya di Pidoli Lombang, mengingatkan penulis pada gaya Abdullah mengisahkan perjalanannya. Ia menyebut orang-orang yang ditemuinya di Batavia, dan tempat-tempat yang dikunjunginya, ia juga bicara tentang kapal perahu dan kuda yang ditumpang dan ditungganginya. Suasana disekitarnya digambarkan dengan sederhana dan sentimentil. Berbicara tentang warna karya Willem Iskander, tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang karya Multatuli yang terkenal Max Havelaar. Kita juga dapat melihat kehadiran Multatuli di dalam karya-karya Willem Iskander terutama dalam hal ketajaman kritik sosial dan kekocakannnya. Kekocakan adalah tempatnya melindungi kritik yang satiris, ia dapat bermakna macam-macam. Bait ke 12 sajak Mandailingnya yang berbunyi:
aslinya:

Adong alak ruar
Na mian di Panyabungan
Tibu ia aruar
Baon ia madung busungan

terjemahannya:

Ada orang luar
Yang berdiam di Panyabungan
Cepat ia ke luar
Sebab ia sudah buncit

dapat diintepretasikan sebagai berikut:
Interpretasi yang paling dominan diberikan oleh masyarakat Tapanuli Selatan sebagai berikut: Penjajah Belanda yang berdiam di Panyabungan, segera meninggalkan daerah ini setelah ia berhasil mengeruk kekayaan pribumi.
Bait yang sama diinterpretasikan pula, bahwa kepergian orang asing/luar yang berdiam di Panyabungan itu disebabkan oleh penyakit malaria yang membuat perutnya buncit (aloton dalam bahasa Mandailing). Interpretasi ini masuk akal pula, karena cuaca Panyabungan yang lembab dan tidak sehat itu telah pula lama diketahui oleh orang Belanda dan banyak muncul dalam laporan-laporan resmi atau laporan perjalanan pada awal abad yang lalu. Ketidaksehatan udara Panyabungan ini pula yang menyebabkan pejabat-pejabat Belanda berdiam di Tano Bato di suatu pasanggarahan, sekalipun mereka berkantor di Panyabungan sebagai pusat pemerintahan.
Adapun interpretasinya, sajak ini mengandung kritik juga sekaligus menantang suatu usaha besar untuk meniadakan malaria di kawasan itu, misalnya dengan jalan melebarkan muara Batanggadis dan Batang Angkola yang bertemu pada suatu muara yang sempit di timur Singkuang. Kita lihat betapa besarnya tantangan ini dan betapa tidak usangnya tantangan ini, karena sampai kini kita belum berhasil menjawabnya. Disinilah antara lain kebesaran Willem Iskander, yaitu kemampuan dan kesediaannya untuk bertanya, dan sekaligus kekerdilan kita yang belum mampu menjawabnya. Gaya ini juga dimiliki oleh Multatuli yang sampai sekarang belum terjawab, sekalipun ia kemukakan satu abad yang lalu.
Tokoh Multatuli pasti salah satu diantara sekian orang yang paling dikagumi oleh Willem Iskander. Kita mulai melihat hubungan itu dari kehadiran Multatuli di Natal sebagai kontroler 1842-1843. Di daerah ini pada ketika itu hidup suasana kehidupan yang penuh dengan intrik antar kepala-kepala bumiputra, dimana Douwes Dekker, alias Multatuli, terpaksa terlibat didalamnya. Disini ia amat menderita, yang ditambah lagi dengan pemanggilannya ke Padang dimana ia diterlantarkan. Sang Yang di Pertuan Huta Siantar di Mandailing merupakan tokoh yang tidak asing baginya. Tokoh yang terakhir ini adalah keluarga dekat Willem Iskander sendiri, yang mau tidak mau juga pernah bercerita kepada Willem Iskander tentang tokoh Douwes Dekker. Douwes Dekker mulai bekerja di Natal untuk menggantikan seorang kontroler yang masa dinasnya telah selesai. Ayah mertua dari sang kontroler yang habis tugas itu adalah bekas Asisten Residen Mandailing Angkota yang dipecat oleh Gubernur Pantai Barat Sumatra, Jenderal Mitchiels. Pemecatan sang Asisten Residen adalah akibat oleh Sang Yang Dipertuan Huta Siantar yang mendesak gubernur untuk menyingkirkan orang-orang Belanda dan pengikut-pengikutnya di Natal. Perihal ini dikisahkan oleh Multatuli dan Max Havelaar bab XIV.
Tokoh Douwes Dekker yang kita yakin sudah didengar oleh Willem Iskander dari Sang Yang Dipertuan Huta Siantar, kembali menjadi perhatiannya ketika Max Havelaar diterbitkan untuk pertama kali pada tahun 1860 di negeri Belanda. Ketika itu Willem Iskander sudah berada 3 tahun di negeri Belanda, dan secara kebetulan buku yang amat menggemparkan kalangan pemerintah dan parlemen Belanda itu, diperdebatkan dalam sidang yang sama di Tweede Kamer pada tahun 1860 dengan Willem Iskander. Pembicaraan tentang Max Havelaar dan Willem Iskander adalah masalah pembiayaan atau tujuan pendidikannya. Tetapi sukar untuk disangkal dari perhatian Willem Iskander, karena selain karya ini banyak bicara tentang dua tokoh famili dekatnya yaitu Sang Yang Dipertuan Huta Siantar dan Patuan Natal, buku ini juga benar-benar menggemparkan seluruh negeri.
Masih dalam tahun 1860 terbit pula karya Multatuli di Arnhem, dimana Willem Iskander juga pernah belajar, yang berisi a.l. surat-surat dengan judu “Indrukken van den dag”. Disini Douwes Dekker alias Multatuli juga bicara tentang Sang Yang Dipertuan Huta Siantar, seorang tokoh yang rupanya tak terlupakannya. Kita yakin bukan dua buku ini saja karya-karya Multatuli yang dibaca oelh tokoh kita Willem Iskander, tetapi juga yang lain yang terbit sebelum 1872.
Apabila Abdullah mempengaruhi Willem Iskander untuk melepaskan diri dari isi karangan yang berkisar kehidupan istana, maka ia mendapat pengaruh isi, semangat dan bentuk dari Multatuli. Ia tidak mengikut Abdullah dalam hal bentuk, karena dalam menulis Abdullah masih menggunakan bentuk syair. Untuk memahami Willem Iskander melalui karya-karyanya, diperlukan suatu studi yang mendalam tentang sejarah, kebudayaan, politik pada abad ke 19, tetapi juga tidak dapat diungkiri keharusan mempelajari karya-karya Abdullah dan Multatuli. Pertemuan Willem Iskander dengan Abdullah dan Multatuli telah banyak mewarnai karya-karya Willem Iskander. Dengan kemampuannya, menyebabkan lahirnya Willem Iskander sebagai Willem Iskander, bukan Willem Iskander ala Abdullah atau Multatuli. Bahkan tidak berkelebihan apabila tempat Abdullah sebagai pelopor kesusastraan Melayu/Indonesia modern ditempati oleh Willem Iskander. Willem Iskander adalah pribumi yang menulis di baris depan yang menulis puisi-puisi modern dalam salah satu bahasa Nusantara.
WILLEM ISKANDAR DALAM PERSPEKTIF GENERASI MUDA?
Dua tahun terakhir ini penulis indekost di Medan untuk sekolah lagi di Unimed. Ketika berada di medan (jumat-minggu), hampir setiap petang, penulis melintas di jalan Willem Iskandar. Menurut penuturab msyarakat Kawasan jalan Willem Iskander 40 tahun silam, masih merupakan perkebunan tembakau. Kini di atasnya berdiri beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta dan beberapa sekolah tingkat menengah pertama. Tidak heran bila pada jam-jam pulang sekolah, jalan Wille Iskander dipadati mahasiswa dan pelajar, berebutan menaiki angkot berlapis memenuhi badan jalan, menyebabkan jalan jadi macat. Willem Iskander. Seberapa masyhurkah dia dikalangan pelajar dan insane kampus?
Pengamatan penulis, ternyata banyak juga para pelajar dan mahasiswa yang menuntut ilmu di sekitar jalan Willem Iskander, tak tahu siapa sebenarnya Willem Iskander. Iseng-iseng hal itu pernah penulis tanyakan kepada salah seorang mahasiswa dan beberapa pelajar sekolah menengah pertama, kebetulan satu angkot dengan penulis. Mereka yang penulis tanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. Begitu juga sewaktu penulis singgah di salah satu warung bakso dorong di dekat salah satu kampus. Abang penjual bakso juga tak tahu siapa Willem Iskander. Malah ada yang mengatakan Willem Iskander itu adalah orang Belanda yang dulu berkuasa di perkebunan tembakau Deli.
Tidak mengherankan, bila generasi sekarang banyak yang tidak tahu siapa sebenarrnya orang bernama Willem Iskander, kemudian oleh pemerintah nama tersebut di abadikan menjadi nama jalan menuju ke kampus Unimed, IAIN, Universitas Amir Hamzah dan kampus lain di wilayah Medan Estate.
Pemahaman sejarah tentang kepahlawan para pejuang bagi siswa di Sumatera Utara sangat memprihatinkan. Banyak siswa yang tidak mengenal para pahlawan, khususnya pahlawan asal Sumut dalam pembelajaran sejarah di Indonesia, padahal tokoh-tokoh ini memiliki kontribusi yang sangat besar pada perjuangan bangsa ini.
Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari mengatakan, hingga kini terdapat tujuh pahlawan nasional dari Sumatera Utara yakni Sisingamangaraja XII, Adam Malik, Amir Hamzah, AH Nasution, Kiras Bangun, FL Tobing, Muhammad Hasan dan satu pahlawan revolusi yaitu DI Panjaitan.Mereka disebut sebagai pahlawan nasional dan revolusi ini dinilai memiliki kontribusi sangat besar dalam memperjuangkan, mengisi dan mempertahankan ke-Indonesia-an, sehingga nama mereka dicatat dalam pelajaran Sejarah Indonesia dan wajib diketahui para pelajar.
Namun menurut sejarawan ini, beberapa nama yang juga layak dikenal sebagai pahlawan Sumut tapi kurang dikenal dalam Sejarah Nasional Indonesia, di antaranya Datuk Sunggal (pemimpin Perang Sunggal), Bedjo (pemimpin Pertempuran Medan Area), Raja Sang Na Ulauh Damanik (tokoh dari Siantar yang menolak kolonial di Siantar).Selain itu Raja Rondahaim Saragih (tokoh dari Raya yang menolak kolonial), Sultan Mahmud Perkasa Alamsjah (tokoh pembangun Kota Medan), Parada Harahap (tokoh pers Sumatera Utara), Adinegoro (tokoh pers Sumatera Utara), Willem Iskandar (tokoh pendidikan), Abdoellah Loebis (tokoh pendidikan) dan Raja Orahili dari Nias. “Mereka kurang dikenal karena nama-nama mereka tidak pernah masuk sebagai muatan materi kurikulum pembelajaran sejarah nasional,” ujarnya.
Untuk itu, sudah seharusnya kurikulum pembelajaran sejarah lokal yang memuat materi-materi lokal harus diperkenalkan kepada pelajar, sehingga dapat mengetahui lebih luas tentang pejuang, tokoh dan pahlawan daerahnya. Menurutnya hal ini penting terutama untuk menghilangkan pelajar yang tidak mengenal pahlawan daerahnya, demikian pula untuk mencari simpul-simpul perjuangan antara nasional dan daerah, maupun daerah dengan daerah.”Dari sana kemudian akan diketahui bahwa masing-masing daerah memiliki perjuangan yang sama untuk membentuk negara Indonesia. Apabila pelajar hanya ‘dicecoki’ dengan kurikulum yang disebut dengan kurikulum nasional, maka pelajar di daerah tidak akan menemukan bahwa daerahnya juga memiliki peran yang sangat nyata dalam membentuk keindonesiaan itu”, jelas Ichwan. Lebih berbahaya lagi, kata Ichwan adalah dalam pikiran mereka terbentuk suatu mata rantai perjuangan yang putus, bahwa kemerdekaan itu diperoleh dengan tanpa upaya dari tokoh-tokoh, pejuang dari daerahnya. Karena itu sudah saatnya kurikulum sejarah membuat materi-materi lokal, sehingga para pelajar tersebut akan mengetahui sejarah daerahnya.

Penutup
Mungkin tidak ada satu orang pun tokoh bangsa ini yang semasa hidupnya ingin ketika sudah wafat namanya tertulis dalam sejarah bangsa, karena mereka sadar perjuangan mereka dilakukan secara iklhas bukan mencari popularitas. Tapi sebagai generasi bangsa yang cinta terhadap founding father negara ini harus mencintai sejarah termasuk mencintai tokoh-tokohnya.
Sangat disayangkan tokoh sekaliber Willem Iskandar, tidak terpatri dalam jiwa generasi muda yang ada di negara ini. Banyak yang tidak mengenal, tidak mengetahui, bahkan tak mau ambil pusing tentang siapa WILLEM ISKANDAR.

About these ads

One Response to Willem Iskandar : Tokoh Pendidikan Nasional “YANG TERLUPAKAN”

  1. ngobrolislami mengatakan:

    KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: PERSETUBUHA DENGAN ADANYA SYUBHAT
    Pendapat Zhahiriyah tidak menganggap hadits yang menerangkan tentang pengaruh syubhat terhadap hukuman had sebagai hadits yang shahih. Hadits yang diperselisihkan itu lengkapnya adalah sebagai berikut

    Nabi Muhammad bersabda;
    “hapuslah hukuman had dengan adanya syubhat. Tolaklah pembunuhan dari kaum muslimin menurut kemampuanmu.”

    Dengan demikian menurut Zhahiriyah hukuman hudud tidak dapat digugurkan dan ditegakan dengan syubhat. Yaitu apabila tidak bisa dibuktikan, hukuman had tidak dapat ditegakan dengan syubhat. Akan tetapi apabila tindak pidana dapat dibuktikan maka hukuman had tidak dapat dihentikan dengan syubhat.

    Akan tetapi, para fuqaha lain berpendapat bahwa hadits tentang pengaruh syubhat tersebut merupakan hadits yang shahih. Dengan demikian mereka sepakat bahwa persetubuhandengan adanya syubhat tidak dikenai hukuman had, tetapi mereka berbeda pendapat tentang apa yang disebut dengan syubhat. Dasar perbedaan dalam menentukan syubhat ini adalah perbedaan mengenai penilaian dan perkiraan. Suatu pihak menganggap bahwa suatu keadaan tertentu dianggap sebagai syubhat, sementara oleh pihak lainya bukan syubhat.

    Adapun yang dimaksud dengan syubhat adalah;
    “sesuatu yang menyerupai tetap (pasti) tetapi tidak tetap (pasti).”

    Dari definisi ini dapat dipahami bahwa syubhat itu adalah suatu peristiwa atau keadaan yang menyebabkan suatu perbuatan berada di antara ketentuan hukum, yaitu dilarang atau tidak. Dalam hubunganya dengan persetubuhan (wathi’), yang dianggap sebagai syubhat adalah apabila terdapat suatu keadaan yang meragukan, apakah persetubuhan itu dilarang atau tidak. Misalnya adanya keyakinan pelaku bahwa wanita yang disetubuhinnya itu adalah istrinya padahal sebenarnya bukan, dan keadaan waktu itu seang gelap, dan wanita itu berada di kamar istrinya. Keadaan ini merupakan syubhat dalam prsetubuhan (wathi’) sehingga pelaku bisa dibebaskan dari hukuman had.

    Golongan Syafi’iyah dan Hanafiyah mengadakan pembagiansyubhat ini, sedangkan ulama-ulama yang lain tidak membaginya, melainkan mencukupkan dengan mengemukakan apa yang dianggap sebagai syubhat dan apa alasan dari anggapan itu. Hal itu karena syubhat jenisnya sangat banyak dan tidak mungkin dihitung satu per satu, karena ia mengikuti peristiwa peristiwa yang terjadi yang selalu berkembang.

    Golongan Syafi’i membagi syubhat ini kepada tiga bagian sebagai berikut;

    [1] syubhat dalam objek atau tempat
    Pengertian syubhat dalam objek adalah suatu bentuk syubhat yang terdapat dalam objek atau tempat dilakukanya persetubuhan. Contohnya adalah menyetubuhi isteri yang sedang haid atau sedang berpuasa, atau menyetubuhi istri pada duburnya. Dalam contoh ini syubhat terdapat dalam objek (tempat) dilakukanya perbuatan terlarang, karena istri (objek) dimiliki oleh suami, dan adalah haknya menyetubuhi istrinya. Akan tetapi karena istri sedang haid atau puasa ramadhan, atau menyetubuhi pada duburnya maka persetubuhan itu dilarang. Hanya saja keadaan istri yang milik suami dan adanya hak suami untuk menyetubuhinya, menyebabkan syubhat pada persetubuhan tersebut dan menyebabkan terbebas dari hukuman had. Keyakinan pelaku tentang halal-haramnya perbuatan, tidak ada pengaruhnya, karena dasar dari syubhat disini bukan keyakinan atau dugaan pelaku, melainkan tempat atau objek perbuatan dan kewenangan yang diberikan oleh syara’ kepada pelaku.

    [2] syubhat pada dugaan pelaku
    Syubhat disini bukan terletak pada objek perbuatan, melainkan pada dugaan dan keyakinan pelaku. Contohnya menyetubuhi wanita yang tidur di kamar seorang suami yang di sangka sebagai istrinya, padahal sebenarnya seorang tamu. Peristiwa ini menimbulkan syubhat dan dasar dari syubhat disini adalah sangkaan dan keyakinan pelaku bahwa perbuatan yang dilakukanya bukan perbuatan yang di larang. Adanya syubhat ini kemudian dapat mengakibatkan hapusnya hukuman had bagi pelaku tersebut.

    [3] syubhat pada jihat atau aspek hukum
    Adapun yang dmaksud syubhat model ini adalah syubhat dalam ketidakjelasan hukum halal-haramnya perbuatan. Dasar dari syubhar ini adalah adanya perbedaan pendapat dari para fuqaha mengenai hukum perbuatan tesebut. Dengan demikian, setiap perbuatan yang diperselisihkan oleh para fuqaha mengenai hukum halal haramnya maka perselisihan tersebut menyebabkan timbulnya syubhat dan dapat menggugurkan hukuman had. Contohnya : nikah tanpa wali. Imam Abu Hanifah membolehkanya, sedangkan ulama lain, seperti Imam Syafi’i tidak membolehkanya. Contoh yang lain; Imam Malik membolehkan nikah tanpa saksi, sementara menurut ulama lain, saksi merupakan syarat sah nika yang wajib dipenuhi. Ibnu Abbas dan golongan Syi’ah membolehkan nikah mut’ah, sedangkan ulama yang lain tidak membolehkanya. Karena adanya perbedaan pendapat antara hukum pernikahan tersebut maka timbulah syubhat dalam persetubuhan yang dilakukan oleh orang yang melakukan pernikahan semacam itu. Dengan adanya syubhat tersebut, pelaku tidak dikenakan hukuman had.

    Golongan Hanafiyah membagi syubhat tersebut menjadi dua bagian:

    [a] syubhat dalam perbuatan
    Syubhat ini berlaku dalam hak nya orang yang merasa ragu-ragu tentang hukum suatu perbuatan, bahkan bagi orang yang tidak meragukanya. Syubhat ini disebut juga syubatul isytibah atau syubatul musyabahah. Syubhat ini terjadi dalam hak orang yang meragukan tentang halal atau haramnya suatu perbuatan bagi dirinya, dan tidak ada dalil yang menunjukan halalnya, melainkan ia menyangka seuatu yang bukan dalil. Contohnya adalah laki-laki yang menyetubuhi istrinya yang sudah ditalak tiga tetapi masih dalam iddah. Dalam kasus ini jelas persetubuhanya dilarang karena hubungan perkawinan mereka telah putus dengan talak tiga. Akan tetapi hukuman had dapat dihapus apabila ia menyangka bekas istrinya itu masih halal baginya untuk disetubuhi, dengan alasan tidak ada hak nasab bagi anak yang lahir dalam masa kurang dari dua tahun sejak dijatuhkanya talak. Di samping itu dalam masa iddah, suami masih diwajibkan memberikan nafkah dan membolehkan bekas istrinya untuk tinggal di rumahnya. Sangkaan tersebut meskipun tidak pantas dijadikan alasan (dalil) halalnya perbuatan (persetubuhan), namun karena ia menganggapnya sebagai dalil (alasan) maka hal itu dapat menimbulkan syubhat yang dapat menggugurkan hukuman had.
    Untuk terwujudnya syubhat dalam hal ini disyaratkan bahwa di dalam masalah tersebut sama sekali tidak ada dalil yang menunjukkan dilarangnya perbuatan, dan pelaku menyangka bahwa perbuatan tersebut adalah halal. Dengan demikian apabila ada dalil yang menunjukan dilarangnya perbuatan, atau sangkaan tentang halalnya perbuatan tidak terbukti maka tidak ada syubhat sama sekali, dan pelaku tetap dikenai hukuman had.

    [b] syubhat dalam tempat atau objek
    Syubhat ini disebut syubhatul hukmiyah atau syubhatul milk. Syubhat ini terjadi apabila tidak ada kejelasan dalam hukum syara’ tentang halalnya objek, bukan dalam sangkaan pelaku. Dalam syubhat jenis ini disyaratkan bahwa syubhat timbul dari hukum syara’, dengan adanya dalil syar’i yang menghilangkan keharaman perbuatan tersebut. Golongan Hanafiyah memberikan contoh dlapan kasus jarimah zina yang termasuk syubhatul mahal (syubhat dalam objek). Tujuh kasus diantaranya berkaitan dengan persetubuhan terhadap jariyah atau hamba sahaya. Akan tetapi karena zaman ini masalah sahaya telah dihapuskan maka hal itu tidak dibicarakan disini. Adapun syubhat yang satu lagi adalah menyetubuhi istri yang ditalak bain bil kinayah (dengan sindiran). Alasan Hanafiyah menganggap syubhat dalam kasus menyetubuhi istri yang di talak bain dengan kinayah, karena hilangnya hak milik terhadap istri dengan talak bain bil kinayah merupakan masalah yang masih diperselisihkan hukumnya sejak zaman sahabat. Menurut sayidina Umar dan Ibnu Mas’ud, talak ba’in dengan kinayah merupakan talak raj’iy yang tidak menghilangkan hak milik. Sedangkan menurut sayidina Ali, talak tersebut merupakan talak tiga, hingga dengan demikian hubungan pernikahan sudah putus sama sekali.
    Ulama-ulama Syafi’iyah dan Hanabilah dalam hal ini sama pendapatnya dengan Hanafiyah, sedangkan Malikiyah sebagian sama pendapatnya dengan Hanafiyah, sebagian lagi menganggapnya sebagai syubhat.

    Sebenarnya Imam Abu Hanifah sendiri masih menambah macam syubhat ini dengan macam yang ketiga yaitu syubhat bil aqdi, yakni syubhat yang terjadi karena adanya akad walaupun akad tersebut telah disepakati oleh para ulama tentang haramnya. Contohnya seperti nikah dengan wanita muhrim (wanita yang haram untuk dinikahi). Akan tetapi murid-muridnya tidak menerima syubhad bil aqdi, karena akadnya sudah jelas diharamkan, dengan demikian hukumnya batal dan tidak menimbulkan hak milik.

    Dalam hubungan dengan syubhat dalam wathi’ karena adanya akad ini, berikut ini akan dikemukakan contoh beberapa kasus sebagai berikut.

    [1] wathul maharim
    Adapun yang dimaksud dengan wathul maharim adalah menyetubuhi wanita muhrim yang dinikahi. Hukum pernikahan ini adalah batal menurut kesepakatan para ulama. Dengan demikian apabila terjadi persetubuhan dengan wanita muhrim yang dinikahi, menurut Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Zhahiriyah, Syi’ah Zaydiyah, dan Abu Yusuf serta murid Imam Abu Hanifah maka pelaku harus dikenakan hukuman had karena di sana tidak ada syubhat. Akan tetapi, Abu Hanifah berpendapat bahwa orang yang kawin dengan seorang wanita yang tidak halal baginya untuk dinikahi kemudian ia melakukan persetubuhan denganya maka tidak dikenai hukuman had, walaupun ia tahu wanita itu haram untuk dinikahinya. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa dalam hal ini terdapat syubhat, yaitu adanya akad nikah yang merupakan sebab dibolehkannya persetubuhan pada umumnya. Akan tetapi karena pernikahan itu dilarang maka sebab kebolehan menjadi hilang dan tinggalah bentuk syubhatnya. Dengan adanya syubhat yang menggugurkan hukum had maka hukuman yang dikenakan pada pelaku adalah hukum ta’zir.
    Akan tetapi, ulama-ulama lain menolak argumantasi yang dikemukakan Imam Abu Hanifah dengan alasan persetubuhan yang dilakukan terhadap farji yang disepakati haramnya karena bukan hak milik dan tidak ada syubhat milik, tetap perbuatan zina yang harus dikenakan hukum had.dalam hal ini, akad nikah yang dilakukan adalah akad yang batal dan tidak ada pengaruhnya sama sekali, sehingga hal itu tidak dapat dianggap sebagai syubhat.

    [2] persetubuhan dalam pernikahan yang batal
    Apabila terjadi persetubuhan dalam lingkungan pernikahan yang batal, seperti nikah dengan istri yang ke lima, atau dengan wanita yang bersuami atau yang di talak tetapi masih dalam masa idah maka persetubuhan tersebut merupakan zina dan harus dikenai hukuman had. Pendapat ini dikemukakan oleh jumhur ulama. Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah akad tersebut meskipun batal, tetap menimbulkan syubhat yang dapat menimbulkan gugurnya hukuman had, sehingga yang demikian perlu dikenai hukuman ta’zir.

    [3] persetubuhan dalam pernikahan yang diperselisihkan hukumnya
    Persetubuhan dalam pernikahan yang diperselisihkan hukum sahnya, seperti nikah mut’ah, muhallil, nikah tanpa wali, nikah tanpa saksi, tidak dianggap sebagai zina, dan pelaku tidak dikenai hukuman had. Hal ini disebabkan karena pernikahan tersebut menimbulkan syubhat yang dapat menggugurkan hukuman had, kecuali menurut kelompok Zhahiriyah.

    [4] Persetubuhan karena dipaksa
    Para ulama telah sepakat bahwa tidak ada hukuman had bagi wanita yang dipaksa untuk melakukan persetubuhan yang dilarang (zina). Dalam hal ini keadaan tersebut dapat digolongkan kepada keadaan darurat. Dasar hukumnya adalah ;
    “…Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya…”
    (Terjemahan Qur’an Surat al Baqarah [2]:173)
    “…ALLAH telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya…”
    (Terjemahan Qur’an Surat al An’am [6]:119)
    Alasan lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn majah, Baihaqi. Nabi Muhammad bersabda;
    “sesungguhnya ALLAH mengampuni umatku atas perbuatan yang dilakukan karena kekeliruan, lupa, dan apa yang dipaksakan atas nya”

    Akan tetapi jika yang dipaksa berzina adalah laki-laki, menurut pendapat yang marjuh (lemah) di dalam mahdzab Maliki, hanafi, Syafi’i, Hambali, dan Syi’ah Zaydiyah, ia tetap dikenai hukuman had. Alasanya adalah jika yang dipaksa itu wanita, kemungkinanya besar sekali karena wanita tugasnya itu adalah menyerahkan dirinya. Tetap jika laki-laki tidak bisa dikatakan dipaksa jika alat kelaminya menegang, karena tegangnya itu menunjukan kesediaanya. Apabila alat kelaminya tidak menegang tetapi dipaksa maka disini dikenakan hukuman had.

    Menurut pendapat yang rajih (kuat) dari mahzab mahzab tersebut, tidak ada hukuman had bagi laki-laki yang dipaksa untuk berzina, karena paksaan itu bagi laki-laki maupun perempuan statusnya sam saja. Alasanya masalah tegangnya kelamin itu kadang-kadang merupakan pembawaan (tabiat) dan itu lebih menunjukan sifat kejantananya daripada kesediaanya. Terlepas dari itu semua, ikrah (paksaan) itu merupakan syubhat yang dapat menyebabkan gugurnya hukuman had.

    Golongan zhahiriah berpendapat bahwa tidak ada hukuman had bagi orang yang dipaksa untuk berzina, baik laki-laki maupun perempuan. Apabila seorang wanita menahan seorang laki-laki untuk berzina dengan dirinya atau sebaliknya maka tidak ada hukuman had.

    [e] kekeliruan dalam persetubuhan

    Kekeliruan atau kesalahan dalam persetubuhan ini ada dua kemungkinan, yaitu kekeliruan dalam persetubuhan yang mubah dan kekeliruan dalam persutubuhan yangb diharamkan.

    [1] kekeliruan dalam persetubuhan yang mubah
    Apabila terjadi kekeliruan dalam persetubuhan yang diharamkan maka pelaku tidak dikenai hukuman, karena ia tidak memiliki niat untuk melakukan perbuatan yang dilarang. Dasar hukumnya adalah;
    “…Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf (keliru) padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu…”
    (Terjemahan Qur’an Surat al Ahzaab [33]:5)
    Dasar hukum yang lain adalah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh al Baihaqi dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad bersabda;
    “sesungguhnya ALLAH swt mengampuni dari umatku atas perbuatan yang dilakukan karena kesalahan, lupa, dan apa yang dipaksakan atasnya”
    (Terjemahan hadits riwayat Baihaqi dari Ibnu Abbas)
    Dengan adanya kekeliruan ini maka terdapatlah syubhat dalam persetubuhan yang dapat mengakibatkan gugurnya hukuman had. Contoh kekeliruan macam pertama ini adalah seperti seseorang yang menyetubuhi seorang wanita yang disangka sebagai isterinya, karena wanita sedang berbaring di kamar tidur suami, padahak ia seorang tamu atau saudara kembar istri. Alasan tidak dikenakan hukuman had ini adalah bahwa pelaku menyangka perbuatanya itu adalah mubah. Akan tetapi Imam Abu Hanifah tidak memandang contoh yang disebutkan diatas sebagai syubhat yang dapat menggugurkan hukuman had, karena yang dapat menggugurkan had adalah syubhatul hil, yaitu syubhat dalam halalnya perbuatan. Adapun dalam kasus ini tidak ada syubhat selain menemukan wanita itu ditempat tidurnya dan itu tidak bisa dijadikan sandaran timbulnya sangkaan halalnya perbuatan tersebut.

    [2] kekeliruan dalam persetubuhan yang diharamkan
    Apabila kekeliruan terjadi dalam persetubuhan yang diharamkan maka pelaku tidak bisa dibebaskan dari hukuman, karena keadaan tersebut tidak bisa dianggap sebagai syubhat yang dapat menggugurkan hukuman. Contoh seseorang yang memesan pelacur A, tetapi yang dikirim adalah pelacur B, lalu B disetubuhinya karena disangka A. Dalam hal ini, A dan B adalah waniata yang diharamkan untuk disetubuhi sehingga sangkaan pelaku yang keliru tidak menimbulkan syubhat dan karenanya pelaku tidak bisa dibebaskan dari hukuman had. Namun apabila pelaku memesan pelacur kemudian yang datang adalah istrinya kemudian ia menyetubuhi istrinya karena disangka pelacur, maka dalammhal ini ia tidak dikenai hukuman. Karena wanita yang disetubuhinya tidak haram baginya, walaupun ia berdosa karena sangkaanya itu.

    [f] perkawinan setelah terjadinya zina

    Perkawinan yang menyusul setelah terjadinya zina dianggap sebagai syubhat yang dapat menggugurkan hukuman had. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah menurut riwayat Abu Yusuf. Akan tetapi menurut riwayat Muhammad bin Hasan, perkawinan tersebut tidak dianggap sebagai syubhat, karena persetubuhan tersebut merupakan zina yang terjadi sebelum timbulnya hak milik. Disamping itu, perkawinan itu tidak belaku surut, karena dalam kasus ini tidak ada syubhat.

    [g] utuhnya selaput dara

    Utuhnya selaput dara merupakan syubhat bagi hak orang yang terbukti oleh saksi melakukan perbuatan zina. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Syi’ah Zaydiyah. Dengan demikian apabila empat orang saksi menyaksikan seorang wanita berzina, tetapi berdasarkan pemeriksaan dokter ahli yang dapat dipercaya, selaput dara wanita tersebut masih utuh maka tidak ada hukuman had bagi wanita, karena hal itu dianggap sebagai syubhat. Demikian para saksi tidak dikenakan hukuman, karena mereka bertindak sebagai saksi bukan sebagai penuduh.

    Akan tetapi, Imam Malik berpendapat bahwa wanita tersebut tetap harus dikenai hukuman had, karena pembuktian dengan saksi yang menyatakan dilakukanya zina harus didahulukan untuk diterima sebagai bukti daripada hasil pemeriksaan dokter yang menerangkan keutuhan selaput dara yang seolah-olah menunjukan wanita tersebut tidak melakukan zina. Disamping itu terdapat pula kemungkinan terjadinya persetubuhan tanpa merusak selaput dara.