SIFAT SHOLAT NABI by Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Orcela Puspita
6 Juli 2011

SIFAT SHOLAT NABI
[BAG.I : LATAR BELAKANG PENULISAN -- TATA CARA SHOLAT sampai TATA CARA RUKU & BACAANNYA]

Link BAG. II :
Tata Cara & Bacaan Sujud Serta Duduk Diantara Dua Sujud sampai Tasyahhud Akhir & Salam : <https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1948159506160&set=a.1653325175486.2085068.1307751853&type=1&theater>

Muhammad Nashiruddin Al-Albani

LATAR BELAKANG PENULISAN

Saya tidak pernah menemukan kitab yang membahas seluruh tema ini. Karena itu saya berkewajiban untuk menyusun sebuah buku yang mencakup semua yang berkaitan dengan sifat shalat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sejak dari takbir hingga salam untuk ikhwan-ikhwan umat Islam yang selalu berkeinginan meneladani petunjuk Nabinya dalam beribadah. Sehingga mempermudah mereka melaksanakan perintah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sebagaimana yang disabdakan ”Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku melakukan shalat”

Atas dasar inilah, saya berusaha keras menelusuri hadits-hadits yang berkaitan dengan tujuan ini di berbagai kitab hadits, yang diantarnya adalah buku yang sedang di tangan anda ini.

Dalam penulisan buku ini saya telah menetapkan sebuah aturan agar tidak menggunakan haditshadits Nabi sebagai dalil kecuali yang sanadnya kuat, sesuai dengan kaidah dan prinsip-prinsip ilmu hadits. Disamping itu saya juga mencampakkan setiap hadits majhul atau dhaif berkenaan dengan tata cara shalat, zikir, keutamaan-keutamaan dan lain sebagainya. Karena saya yakin bahwa setiap hadits yang kuat sudah cukup dari pada yang dhaif karena yang dhaif itu tidak ada gunanya- tanpa ada perselisihan diantara ahli hadits -kecuali hanya prasangka. Sedangkan keyakinan yang bersumber dari prasangka adalah sebagaimana halnya firman Alloh dalam Qur’an surat an-Najm ayat 28 :

”Persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” Juga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Janganlah sekali-kali berprasangka karena persangkaan itu adalah perkataan yang paling dusta” (HR. Bukhari dan Muslim).

Langkah semacam ini tidak dapat ditempuh untuk beribadah kepada Alloh. Bahkan dengan tegas Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melarangnya sebagaimana disabdakan ”Berhati-hatilah kamu sekalian akan hadits kecuali yang telah kamu ketahui” (HR. Tirmidzi, Ahmad & Ibnu Abi Syaibah).

Oleh karenanya meriwayatkan hadits dhaif tidak dibolehkan apalagi bila untuk diamalkan.

Demikian buku ini saya susun dalam dua alur, atas dan bawah.

Alur pertama,
seperti matan hadits atau struktur yang serupa yang saya susun pada tempat yang layak dan tersusun secara serasi, dari awal hingga terakhir. Saya tetap menjaga lafal teks hadits yang terdapat pada kitab-kitab sunnah. Kadangkadang sebuah hadits lafalnya berbeda-beda dan saya memilih salah satu lafal untuk alas an penyusunan.

Terkadang saya menambahkan dengan lafal yang lain dan aku beri tanda dengan kata-kata ”Dalam suatu lafal : demikian, demikian”. Atau ”Dalam sebuah riwayat : Demikian, demikian”. Dalam penulisan riwayatpun jarang dinisbatkan kepada sahabat. Tidak pula saya jelaskan perawi-perawinya dikalangan imam hadits untuk mempermudah bacaan dan rujukan.

Alur kedua,
berupa syarah, penjelasan matan sebelumnya. Dalam hal ini saya telah mentakhrij hadits-hadits yang terdapat pada alur atas, dengan mengemukakan lafalnya, alur riwayatmua disertai dengan uraian sanad, syahid-syahid jarah dan ta’dil, sahih dan dha’ifnya sesuai dengan kaidah-kaidah dalam ilmu hadits. Sering kali ditemukan pada sebagain riwayat, lafal-lafal yang berbeda atau tambahan-tambahan yang tidak terdapat riwayat jalur yang lain. Lalu, saya tambahkan kepada hadits yang tertera pada jalur atas. Itupun dilakukan bila serasi dengan hadits yang asli.

Kemudian saya beri tanda dalam kurung dengan garis lurus seperti ini [ ], tanpa mencantumkan perawi yang telah meriwayatkan sendirian yang asli. Itupun kalau sumber hadits dan rawinya diriwayatkan oleh satu orang sahabat. Bila tidak maka akan saya jadikan seatu bentuk tersendiri yang terpisah, seperti halnya doa- doa pembuka dan yang lainnya. Yang demikian ini merukanan suatu yang bernilai dan terpuji yang jarang ditemui pada sebuah karangn.
Alhamdulillah, karena nikmatNya segala kebaikan menjadi sempurna.

Selain itu saya sebutkan pendapat-pendapat mazhab sekitar hadits yang menjadi topik dan yang sedang dikaji dengan menyertakan dalil-dalil setiap pendapat dan mendiskusikannya dengan menjelaskan kelebihan dan kekurangnnya masing-masing. Sehingga pada gilirannya dapat kita ambil kesimpulan yang kuat dari uraian yang terdapat pada bagian jalur atas. Terkadang saya lampirkan juga beberapa masalah yang tidak terdapat pada teks-teks sunnah tetapi terdapat pada pendapat seorang mujtahid namun tidak termasuk topik pembahasan.

Sayang sekali mencetak dua pembahasan itu tidak mudah dilakukan dikarenakan masalah-masalah yang mendesak. Karena itulah saya menerbitkan pembahasan pertama yang sama sekali terpisah dengan pembahasan kedua dan saya beri judul ”Sifat-sifat Sholat Nabi Dimulai dari Takbir Sampai Salam Seakan Engkau Melihatnya Sendiri”

Mudah-mudahan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan buku ini sebagai kebaikan untuk mendapatkan ridhaNya dan bermanfaat bagi rekan-rekan sesama muslim. Sesungguhnya Dia Maha Mengabulkan doa.

Pendapat Para Imam Sekitar Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan Pendapat-Pendapat yang Bertentangan Dengannya.

Kiranya ada baiknya saya paparkan disini apa yang telah sebagian yang saya uraikan diatas, mudah-mudahan menjadi nasihat dan pengingat bagi orang yang bertaklid terhadap meraka. Bahkan bertaklid buta1 kepada orang-orang yang kelasnya jauh dibawah mereka, berpegang kepada pendapatpendapat mereka seakan-akan pendapat itu datang dari langit, sedangkan Alloh berfirman dalam surat al-A’raaf ayat 3 (artinya) ”Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amatlah sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”

1. Abu Hanifah

Yang pertama adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Telah diriwayatkan darinya pendapat-pendapat dan ungkapan-ungkapan beragam yang semuanya bermuara pada satu makna.

Yaitu kewajiban mengambil hadits sebagai dalil dan meninggalakan pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya.

a>. Bila suatu hadits itu benar maka itulah mazhabku

b>. Tidak dibolehkan bagi seseorang untuk mengambil pendapat kami bila tidak mengetahui darimana kami mengambilnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan ”Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku berfatwa dengan pendapat saya”

Dalam riwayat lain ditambahkan ”Sesungguhnya kita adalah manusia yang mengemukakan pendapat hari ini dan berubah pendapat pada keesokan harinya”. Disebutkan juga dalam riwayat lain ”Apa-apaan engkau wahai Ya’kukb! (Abu Yusuf), jangan engkau tulis semua yang kau dengan dariku. Karena aku mengemukakan pendapat hari ini dan keesokan harinya mungkin aku meninggalkannya. Besok aku berpendapat sesuatu dan lusanya aku tinggalkan”

c>. Apabila aku mengemukakan suatu pendapat yang bertentangn dengan kitab Alloh dan khabar dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, hendaknya kalian meninggalkan pendapatku.

2. Malik bin Anas

Ia berkata sebagai berikut.

a>. Sesungguhnya aku adalah manusia yang terkadang salah dan terkadang benar, maka lihatlah pendapatku. Apabila sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah maka ambillah. Setiap yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, tinggalkan.

b>. Setiap perkataan orang boleh dipakai atau ditinggalkan kecuali perkataan Nabi shalallahu alaihi wassalam.

c>. Ibu Wahab berkata : ”Aku mendengar Malik ditanya tentang menyela-nyela jari-jari kedua kaki dalam wudlu. Ia berkata ’Hal itu tidak wajib’. Lalu saya meninggalkannya sampai orangorang yang mengelilinginya sedikit. Saya katakan kepadanya, ’Hal ini menurut kami sunnah’

Malik bertanya ’Apa haditsnya?’ Saya menjawab ’Dikatakan Laits bin Sa’ad, Ibnu Luhai’ah dan Amru bin Harits, dari Yazid bin Amru al-Ma’afiri, dari Abu Abdurrahmanal-Habli, dari al-Mustaurid bin Syadad al-Qurasyi, ia berkata ’Aku melihat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menggosokkan jari-jari manisnya pada cela-cela jari kedua kakinya’ Lalu Malik menyela ’Hadits ini hasan, aku tidak pernah mendengarnya kecuali sekarang ini.’ Kemudian di lain waktu ia ditanya dengan masalah yang sama dan ia menyuruh agar menyela-nyela jari-jari kedua kakinya.”

3. Imam Syafi’i

Ucapan Imam Syafi’i dalam masalah ini lebih banyak dan lebih baik. Para pengikutnyapun lebih banyak mengamalkannya dan lebih menyenangkan. Diantara ucapannya adalah sebagai berikut.

a>. Tidak ada seorangpun yang bermazhab melainkan mazhab Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Apapun pendapat yang saya kemukakan atau yang saya sarikan sedangkan terdapat hadits yang bertentangan dengan pendapatku maka yang benar adalah sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam Itulah pendapatku.

b>. Umat Islam telah berijma bahwa orang yang telah mengetahui sebuah hadits dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam maka tidak boleh meninggalkannya untuk mengambil pendapat seseorang.

c>. Jika kalian mendapati dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam maka ambillah sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dan tinggalkanlah pendapatku. Dalam sebuah riwayat dikatakan ’Maka ikutilah dan janganlah kalian mengikuti pendapat siapapun’

d>. Bila sebuah hadits dinyatakan sahih, maka itulah mazhabku.

e>. Kalian lebih mengetahui hadits dan rawi-rawinya daripada aku. Bila suatu hadits dinyatakan sahih maka beritahukanlah kepadaku darimanapun asalnya, dari Kufah, Basrah atau Syam.
Bila benar sahih aku akan menjadikannya mazhabku.

f>. Setiap masalah yang ada haditsnya dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menurut ahli hadits yang bertentangan dengan pendapatku, niscaya aku cabut pendapatku baik selama aku masih hidup atau setelah matiku.

g>. Bila kalian melihatku mengemukakan suatu pendapat, dan ternyata ada hadits sahih yang bertentangan dengan pendapatku maka ketahuilah bahwa pendapatku tidak pernah ada.

h>. Semua yang aku ucapkan sedangkan ada hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang sahih bertentangan dengan pendapatku maka hendaknya diutamakan hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, janganlah bertaklid kepadaku.

i>. Setiap hadits yang sahih dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya dariku.

4. Ahmad bin Hambal

Imam Hambali adalah seorang imam yang terbanyak mengumpulkan hadits dan yang paling teguh memegangnya. Bhakan ia tidak mau menyusun buku yang mencakup furu’ dan ra’yu. Karena itu ia berkata sebagai berikut.

a>. Janganlah bertaklid kepadaku, Malik, Syafi’i, Auza’i dan tidak pula Tsuri, ambillah dari apa yang meraka ambil. (Dalam sebuah riwayat dikatakan : Janganlah bertaklid dalam masalah agama kepada para Imam, ikutilah apa yang dapat dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Sedangkan dari tabi’in boleh memilihnya (menolak atau menerima).

b>. Al-Auza’i berpendapat, Malik berpendapat, dan Abu Hanifah berpendapat. Menurutku

semuanya adalah ra’yu, sedangkan yang dapat dijadikan hujjah dalam masalah-masalah agama adala atsar (hadits).

c>. Barangsiapa menolak hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam maka ia berada di tepi kehancuran.

Demikian pendapat-pendapat para imam dalam masalah berpegang teguh pada hadits, dan larangan bertaklid tanpa pengetahuan. Masalahnya sangat jelas tanpa perlu perdebatan dan penakwilan. Yaitu barangsiapa berpegang teguh terhadap hadits, seklipun bertentangan dengan pendapat para imam, tidak berarti menyalahi pendapat mazhab yang dianut dan juga tidak berarti telah keluar dari jalan yang ditempuh mazhabnya. Bahkan dengan demikian telah mengikuti jalan dan pendapat para imam, telah berpegang pada tali yang kuat yang tidak dapat dipisahkan.

Akan tetapi tidak demikian dengan sebaliknya. Barangsiapa yang meninggalkan sunnah yang sahih hanya dikarenakan tealh berbeda dengan pendapat para imam maka bearti telah melanggar para imam dan telah menentang pendapat para imam sebagaimana tersebut diatas. Alloh berfirman dalam

QS. an-Nisaa’ ayat 65 (artinya) ”Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dangan sepenuhnya” Dan QS. An -Nur ayat 63 (artinya) ”Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”

Al-Hafidz Ibnu Rajab berkata ”Hendaknya orang yang telah mengetahui hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjelaskannya kepada umat, menasihatinya dan menyeru mereka mengikuti dan ber-ithba’ meski bertentangan dengan pendapat orang yang berpengaruh sekalipun. Sesungguhnya hagist Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam lebih layak untuk diagungkan dan diteladani daripada pendapat orang yang paling berpengaruh dan terkenal dikalangan umat yang berselisih pendapat, yang terkadang pendapat mereka itu salah.

Berdasarkan hal inilah para sahabat dan generasi setelahnya menolak setiap pendapat yang bertentangan dengan sunnah yang sahih. Bahkan cara penolakannya terlihat kasar. Bukan karena perasaan benci tetapi karena perasaan cinta dan pengagungan pada diri mereka. Pasalnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam lebih mereka cintai dan perintahnya dijunjung tinggi diatas perintah semua makhluk. Apabila terjadi pertentangan antara perintah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dengan yang lainnya maka hendaknya perintah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam didahulukan dan diikuti. Namun tetapi menghargai orang yang berselisih dengan perintah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam meskipun dia itu adalah orang yang telah diampuni. Bahkan orang yang telah diampuni oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala apabila didapi pendapatnya bertentangan dengan perintah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tidak merasa benci bila seseorang meninggalkan pendaptnya jika benar-benar pendapatnya itu bertentangan dengan perintah Rasulnya.

Menurut saya, tidak masuk akal apabila mereka membenci akan hal itu. Sedangkan imam telah memerintahkan pengikutnya dan mengharuskan mereka agar menginggalkan pendapat mazhab jika kemudian didapati bertentangan dengan sunnah. Bahkan imam Syafi’i memerintahkan kepada muridnya agar mengatasnamakan dirinya terhadap sunnah yang sahih, meskipun dia sendiri tidak meriwayatkannya atau malah pendapatnya bertentangan dengan sunnah itu.

Oleh karena itu Ibnu Daqiq al-’Id ketika menyusun masalah-masalah setiap imam mazhab yang bertentangan dengan sunnah dalam satu jilid besar, ia dalam mukadimahnya berkata ”Sesungguhnya menisbatkan masalah-masalah ini kepada para imam mujtahid hukumnya haram. Hendaknya para ahli fikih yang mengikuti jejeaknya mengetahuinya agar tidak terjadi salah paham sehingga berakibat berlaku dusta kepada mereka” Lihat al-Fulani halaman 99.

TATA CARA SHOLAT

A. Menghadap Kiblat

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dalam melaksanakan sholat fardhu dan sunnah menghadap kiblat. Beliau pun memerintahakannya demikian dalam sabdanya kepada orang yang tidak benar sholatnya, ”Bila engkau berdiri untuk melakukan sholat maka sempurnakanlah wudhumu, kemudian menghadaplah kiblat, lalu bertakbirlah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam perjalanannya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam biasanya melakukan sholat sunnah diatas kendarannya (unta). Beliau juga melakukan witir diatas kendaraannya dan mengadap kemana saja kendaraannya menghadap (timur maupun barat). Alloh berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 115 (artinya) ”Maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Alloh”.

Dalam riwayat Bukhari dan Ahmad disebutkan bahwa apabila hendak melakukan sholat fardhu,Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam turun dari tunggangannya lalu menghadap kiblat.

B. Berdiri

Dalam sholat fardhu dan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melakkukannya sambil berdiri sesuai dengan perintah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS al-Baqarah ayat 238 (artinya) ”Berdirilah untuk Alloh (dalam sholatmu) dengan khusyu.”

Dalam sebuah riwayat Tirmidzi dan Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melakukan sholat menjelang datang ajalnya sambil duduk. Dalam kesempatan lain Beliau melakukan sholat sambil duduk, yaitu ketika dalam keadaan sakit. Sedangkan orang-orang dibelakangnya mengikutinya sambil berdiri. Lalu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memberikan isyarat agar mereka duduk, maka merekapun duduk. Setelah selesei sholat Beliau bersabda ”Kalian tadi hampir saja melakukan apa yang telah dilakukan oleh bangsa Romawi dan Persia, dimana mereka berdiri di depan rajanya sedangkan rajanya duduk. Maka janganlah kalian melakukannya. Sesungguhnya keberadaan imam adalah agar diikuti. Bila ia ruku, maka rukulah; bila berdiri maka berdirilah; dan jika sholat sambil duduk maka duduklah bersama-sama”. (HR Muslim).

Sholat orang sakit sambil duduk, seperti sabda Beliau ”Shalatlah sambil berdiri. Bila tidak bisa, sambil duduk. Bila tidak bisa sambil terlentang.” (HR. Bukhari, Abu Daud & Ahmad). Juga Beliau bersabda ”Barangsiapa melakukannya dengan berdiri, maka itu lebih utama. Adapun bagi yang melakukannya sambil duduk maka baginya separoh pahala yang berdiri. Barangsiapa yang sholat sambil tidur (terlentang) baginya separuh pahala orang yang sholat sambil duduk. Yang dimaksud disini adalah orang yang sakit.” (HR. Bukhari, Abu Daud & Ahmad).

Suatu ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengunjungi orang yang sakit lalu melihat orang itu melakukan sholat diatas bantal. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengambil bantal itu dan melemparkannya. Orang itu lalu mengambil ’ud (papan kayu) untuk sholat diatasnya. Tatapi Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam mengambil dan membuangnya lalu bersabda ”Sholatlah diatas tanah bila engkau bisa. Bila tidak cukuplah dengan isyarat, dan hendaknya isyarat sujudnya lebih rendah dari rukumu.” (HR. Thabrani,Bazzar dan Baihaqi).

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Ahmad, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berdiri di dekat pembatas. Jarak antara beliau dan pembatas sekitar 3 hasta. Menurut Bukhari dan Muslim, jarak antara tempat sujudnya dan tembok cukup untuk dilalui seekor kambing.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Janganlah engkau sholat kecuali dengan pembatas, dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di depanmu dikala sholat. Jika dia memaksakan kehendaknya lewat di depanmu, bunuhlah dia karena sesungguhnya ia bersama dengan setan.”(HR. Ibnu Khuzimah); dan juga ” Jika seseorang dari kalian melakukkan sholat pada pembatas hendaknya mendekatkan pada batas itu sehingga setan tidak dapat memutus sholatnya.” (HR Abu Daud, Bazzar dan Hakim).

Apabila Beliau sholat di tempat terbuka, tidak ada sesuatu sebagai pembatas (didepan tempat sholat), maka beliau menancapkan tombak didepannya. Lalu beliau melakukan sholat menghadap pembatas itu, sedangkan orang-orang bermakmum dibelakangnya. Hal ini sebagaimana dikatakan Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah. Beliau bersabda, ”Apabila seseorang diantara kalian meletakkan tiang sepanjang pelana di depannya, maka sholatlah menghadapnya dan hendaknya tidak menghiraukan orang yang lewat dibelakang tiang itu.” (HR Muslim dan Abu Daud).

Ibnu Khuzimah, Thabrani dan Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tidak pernah membiarkan sesuatu yang melewati antara dirinya dan pembatasnya. Pernah Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam sholat lalu lewat didepannya seekor kambing. Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mendahuluinya maju kedepan sampai perutnya menempel di dinding (sehingga kambing itu melewati belakang Beliau).

Suatu ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sholat wajib, Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam menggenggam tangannya. Usai sholat mereka bertanya “Wahai Rasulullah, adakah sesuatu yang baru dalam sholat?” Beliau menjawab “Tidak, hanya saja setan hendak lewat di depanku. Lalu aku cekik sampai lidahnya terasa dingin di tanganku. Demi Alloh, seandainya saudaraku, Nabi Sulaiman tidak mendahuluiku, maka aku akan ikat setan itu pada sebuah tiang masjid sehingga dapat dilihat anak-anak kecil penduduk Madinah.” (HR Ahmad, Daruquthni dan Thabrani).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Apabila seseorang melakukkan sholat menghadap sesuatu sebagai pembatas dari orang lain, maka apabila seseorang melampaui batas didepannya itu maka hendaknya mendorong sekuatnya atau semampunya (dalam riwayat lain disebutkan : hendaknya menghalanginya dua kali). Jika ia tetap menerobos maka bunuhlah ia. Sesungguhnya dia adalah setan.” (HR Bukhari dan Muslim); juga Beliau bersabda ”Apabila orang yang lewat di depan orang yang sholat itu mengetahui dosanya, niscaya dia akan lebih baik berdiri 40 (empat puluh) tahun daripada berlalu didepan orang yang sholat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Sholat seseorang menjadi putus apabila tidak dibatasi dengan semacam pelana didepannya lalu dilewati oleh wanita haid (balig), keledai dan anjing hitam”

Abu Dzar berkata ”Wahai Rasulullah, apakah bedanya anjing hitam dan anjing berwarna merah?” Beliau menjawab ”Anjing hitam adalah setan.” (HR Muslim, Abu Daud & Khuzaimah).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melarang orang melakukan sholat menghadap kubur dengan sabdanya ”Janganlah kalian sholat menghadap kubur dan janganlah duduk diatasnya.” (HR Muslim, Abu Daud & Ibnu Khuzimah).

C. Niat-Niat

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya (HR Bukhari & Muslim)

D. Takbir

Dalam hadits riwayat Muslim dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membuka sholatnya dengan ucapan Allohu Akbar (Alloh Mahabesar). Beliaupun memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar dalam sholatnya, sebagaimana sabda Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam ”Tidaklah sholat seseorang itu menjadi sempurna sampai ia berwudhu dengan benar, lalu berkata Allohu Akbar”(HR Thabrani)

Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda ”Kunci sholat adalah suci, tahrimnya3 pengharamannya adalah takbir dan thalilnya4, penghalalannya adalah salam.” (HR Abu Daud, Tirmidzi & Hakim).

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Hakim disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengangkat suaranya dalam takbir sehingga terdengar oleh orang- orang yang makmum dibelakangnya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Apabila imam mengucapkan Allohu Akbar, maka katakanlah Allohu Akbar” (HR Ahmad dan Baihaqi).

E. Mengangkat Tangan

Terkadang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan takbir5, dan terkadang mengangkatnya setelah takbir6, dan terkadang (mengangkat tangan) setelah ucapan takbir7.

Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka rapat (tidak renggang dan tidak menggenggam)8. Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengangkatnya sampai sejajar dengan kedua bahunya dan terkadang sampai kedua telinganya9.

F. Meletakkan Tangan Kanan Diatas Tangan Kiri (Bersedekap)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya10. Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Sesungguhnya para Nabi memerintahkan kepada kita agar mempercepat saat berbuka dan mengakhirkan waktu sahur dan agar meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri kita dalam sholat.” (HR Ibnu Hibban dan Dhiya).

G. Meletakkan Kedua Tangan (Bersedekap) di Dada

Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam meletakkan tangan kanan diatas punggung tangan kirinya, pergelangan dan lengan11, dan memerintahkan demikain kepada sahabat- sahabatnya12. Terkadang Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam mengenggam lengan kirinya dengan jari-jari tangan kanannya13. Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam meletakkan keduanya diatas dada14.

H. Khusyu dan Memandang Tempat Sujud

Dalam hadits riwayat Baihaqi dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dalam sholat menundukkan kepalanya dan pandangannya tertuju ke tanah. Rasulullah melarang mengangkat pandangannya ke langit sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud.

Larangan itu dipertegas dengan sabdanya ”Hendaknya orang-orang menghentikan mengarahkan pandangannnya ke langit pada waktu sholat atau tidak dapat kembali lagi kepada mereka (dalam riwayat lain disebutkan : atau mata-mata mereka tercolok)”. (HR Bukhari, Muslim & Siraj).

Dalam hadits lain disebutkan ”Apabila kalian melakukan sholat maka hendaknya janganlah menolah-noleh karena Alloh akan menghadapkan wajahNya kepada wajah hambanya ketika sholat selama ia tidak menolah-noleh.” (HR Tirmidzi dan Hakim)

Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Ya’la disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melarang 3 perkara dalam sholat. Yaitu sholat dengan cepat seperti ayam yang mematuk, duduk diatas tumit seperti duduknya anjing, dan menolah-noleh seperti musang. Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda ”Sholatlah seperti halnya sholat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau melihat Alloh. Jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Thabrani, Ibnu Majah & Ahmad).

Beliau telah sholat dengan baju yang terbuat dari wol yang bergambar, lalu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melihat sepintas gambar-gambar itu. Usai sholat Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Bawalah bajuku ini kepada Abu Jahm dan bawalah kepadaku kain yang kasar Abu Jahm. Karena bajuku ini telah mengalihkan perhatian sholatku tadi. (dalam riwayat lain dikatakan : Sesungguhnnya aku telah melihat gambarnya saat sholat dan hampir saja aku tergoda).” (HR Bukhari, Muslim & Malik).

Aisyah mempunyai kain bergambar untuk tirai, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sholat menghadapnya. Lalu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Jauhkanlah kain itu, sesungguhnya gambarnya mengganggu sholatku.” (HR Bukhari & Muslim)

Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Tidak sempurna sholatnya orang yang telah terhidang makannya, serta ketika menahan keluarnya angin dan buang air.” (HR Bukhari & Muslim).

DO’A DAN BACAAN DALAM SHOLAT

A. Doa-Doa Pembuka

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membuka bacaan dengan doa-doa yang banyak dan bermacam-macam. Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam memuji Alloh, mengagungkanNya dan menyanjungNya. Rasulullah telah memerintahkan demikian bagi yang tidak benar sholatnya. Beliau bersabda ”Tidak sempurn sholat seseorang sehingga ia bertakbir, bertahmid dan menyanjungNya serta membaca ayat-ayat al-Qur’an yang dihapal.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam bacaan pembukaan, terkadang Beliau SAW membaca doa sebagai berikut :

1>. Allohumma baa’id baini wa baina khothoyaya …… dan seterusnya.

2>. Wajjahtu wajhiya lilladzi fathorossamawaati wal ardh ……. dan seterusnya.

3>. Subhaanaka Allohumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wadduka walaa ilaha ghoiruka, yang artinya ”Mahasuci Engkau ya Alloh, Maha Terpuji Engkau, Mahamulia Engkau serta Mahatinggi kehormatanMu dan tiada tuhan selain Engkau (HR Ibnu Mundih dan Nasa’i)

4>. Dan lain-lain.

B. Tata Cara Bacaan Dalam Sholat

1>. Membaca Ta’awwudz.

Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membaca ta’awwudz dengan mengucapkan ”A’udzubillahi minasyaithonirrojim min hamazihi wanafkhihi wanafatsihi” (Aku berlindung kepada Alloh dari godaan setan yang terkutuk dari semburannya, kesombongannya, dan embusannya) (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Daruquthni & Hakim).

Terkadang Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam menambahinya dengan ”A’udzubillahis-samii’il’alim minasysyaithoonirrojim” (Aku berlindung kepada Alloh Yang Mahamendengan lagi Mahamengetahui dari godaan setan yang terkutuk) (HR Abu Daud, Tirmidzi & Ahmad).

Setelah itu Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam membaca ”Bismillahir-rahman-nirrahim” (Dengan nama Alloh Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang) (dengan tanpa mengangkat/mengeraskan suara). (HR Bukhari, Muslim & Ahmad)

2>. Membaca Surat al-Faatihah, Ayat per Ayat Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membaca surat al-Faatihah dengan memotong setiap ayat :

a. Bismillaahir-rahmanir-rahim.
b. Alhamdulillaahirab-bil’aalamiin.
c. Sampai dengan akhir ayat.

Demikian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membaca al-Fatihah sampai akhir surah. Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam tidak menyambung ayat dengan ayat berikutnya. Demikian yang diriwayatkan Abu Daud dan Sahmi.

3>. Membaca al-Faatihah Sebagi Rukun Dan Keutamaannya

Beliau selalu mengagunggkan surat ini dengan sabdanya ”Tidak sah sholat seseorang apabila belum membaca surah al-Faatihah (dan seterusnya). (HR Bukhari, Muslim dan Baihaqi)

4>. Mengeraskan Bacaan Bagi Makmum

Sebelumnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membolehkan makmum membaca al-Fatihah dengan keras. Akan tetapi pada suatu sholat Subuh Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam merasa terganggu oleh bacaan seorang makmum. Setelah selesei sholat Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Apakah kalian tadi ikut membaca bacaan imam?” Mereka menjawab “Benar, akan tetapi dengan cepat wahai Rasulullah” Rasulullah berkata “Janganlah kalian lakukan kecuali kalian membaca al-Fatihah. Sesungguhnya tidak sah sholat seseorang kecuali membacanya.” (HR Bukhari, Abu Daud & Ahmad).

Tetapi kemudian membaca cara ini dilarang oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam Yaitu ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam kembali dari sholat jahr (sholat yang dibolehkan membaca al-Qur’an dengan keras). Dalam sebuah riwayat dikatakan pertisiwa itu terjadi pada sholat Subuh. Beliau bersabda ”Adakah tadi kalian mengikutiku membaca al-Qur’an dengan suara keras?” Seseorang menjawab ”Aku wahai Rasulullah” Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam berkata ”Kenapa ada yang membaca demikian sehingga mengganggu bacaanku?” Abu Hurairah berkata ”Maka para sahabat berhenti membaca al- Qur’an dengan keras dalam sholat dimana Rasulullah mengeraskan bacaannya ketika mereka mendengar teguran dari Rasulullah. (Mereka membaca tanpa suara pada sholat dimana imam tidak mengeraskan bacaan)” (HR Malik, Humaidi, Abu Daud dan Bukhari).

Maka berdiam saat imam membaca al-Qur’an menjadi syarat kesempurnaan bermakmum.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Sesungguhnya dijadikannya imam itu agar diikuti oleh makmum, maka apabila mengucapkan takbir, ikutilah mengucapkan takbir. Janganlah membaca al- Qur’an, diam dan dengarkanlah.” (HR Abu Daud, Muslim & Abu Uwanah).

Oleh karena itu makmum yang mendengarkan bacaan imam tidak perlu lagi turut membacanya.
Sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ”Barang siapa yang sholat bermakmum maka bacaan imam adalah menjadi bacaannya juga.” (HR Daruquthni, Ibnu Majah & Ahmad). Ini untuk sholat-sholat yang jahr (imam mengeraskan bacaannya).

5>. Kewajiban Membaca Tanpa Suara

Adapun pada sholat-sholat yang harus membaca tanpa suara, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam telah menetapkan kehaursan membaca al-Qur’an padanya. Jabir berkata ”Kami membaca al-Faatihah dan surah al-Qur’an pada sholat Dzuhur dan Ashar dibelakang imam pada dua rakaat pertama, sedangkan pada dua rakaat berikutnya membaca al-Faatihah (saja).”(Riwayat Ibnu Majah).

6>. Imam Mengucapkan Amin Dengan Mengangkat Suara

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud disebutkan bahwa ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam selesai membaca al-Faatihah, Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam mengucapkan amin dengan suara jelas dan panjang. Orangorang yang bermakmumpun dianjurkan untuk mengucapkannya. Sabda Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam ”Apabila imam sholat mengucapkan ”Ghoiril maghdhuubi’alaihim waladhaaliin” maka katakanlah ”Amin”. (Sesungguhnya malaikiat berkata ”Amin” dan imampun mengucapkan ”Amin”).

Dalam lafal lain disebutkan bahwa jika seorang imam sholat mengucapkan amin, maka ikutilah dengan mengucapkan amin. Apabila ucapan amin itu bersama dengan ucapan malaikat, (Dalam lafal lain disebutkan : Apabila seseorang mengucapkan amin dalam sholat, dan para malaikat di langit mengucapkan amin dengan bersamaan) niscaya dosa-dosanya akan diampuni.” (HR Bukhari, Muslim & Nasa’i).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda ”Tidak ada suatu yang paling menjadikan orang-orang Yahudi iri kepada kalian kecuali ucapan salam dan amin (dibelakang imam).” (HR Bukhari, Ibnu Majah dan Ahmad).

7>. Bacaan Setelah Membaca al-Faatihah.

Setelah membaca al-Faatihah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam membaca surah lainnya. Terkadang membaca surah panjang dan kadang surah pendek karena suatu penyebab seperti sedang dalam perjalanan, sakit batuk atau sakit lainnya. Atau mendengar tangis anak kecil sebagaimana yang disebutkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu

8>. Boleh Hanya Membaca al-Faatihah

Mu’adz pernah sholat Isya berjamaah dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam di akhir waktu, lalu pulang. Disana ia sholat lagi bersama sahabat-sahabatnya sebagai imam. Dlam jamaah itu terdapat seorang anak muda bernama Sulaim dari bani Salamah. Anak muda itu merakan sholatnya terlalu lama, maka ia keluar dan sholat sendiri di pojok masjid. Usai sholat ia bergegas keluar masjid dan menunggang untanya langsung meninggalkan tempat itu.

Setelah sholat Mu’adz diberitahu akan kejadian ini. Ia berkata ”Sungguh hal ini perbuatan munafik!. Aku akan laporkan apa yang diperbuatnya kepada Rasulullah.” Anak muda itu juga berkata ”Aku juga akan adukan apa yang dilakukan kepada Rasulullah.”

Keesokan harinya mereka datang kepada Rasulullah. Mu’adz mengadukan apa yang dilakukan anak muda itu, dan anak muda itupun melaporkan apa yang diperbuat oleh Mu’adz. Ia berkata ”Wahai Rasulullah dia telah sholat yang lama denganmu. Lalu ia pulang dan mengimami kami dengan lama”. Rasulullah menjawab ”Wahai Mu’adz akankah engaku membuat fitnah?”

Rasulullah bertanya kepada anak muda itu ”Apa yang engkau lakukan dalam sholatmu?” Ia menjawab ”Aku membaca al-Faatihah, lalu berdoa memohon surga kepada Allah, dan berlindung dari siksa neraka. Aku tidak tahu apa yang engaku baca dengan suara lirih dan yang dibaca Mu’adz” Nabi menyahut ”Aku dan Mu’adz seperti ini (telunjuk dan jari tengah).”

Anak muda itu berkata ”Akan tetapi Mu’adz akan tahu kalau musuh datang, sedangkan mereka telah diberitahu bahwa musuh telah datang di tempat mereka.” Orang yang meriwayatkan hadits ini berkata ”Kaum tersebut kemudian datang menyerang dan anak muda itu gugur sebagai syahid. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda kepada Mu’adz ”Setelah peristiwa itu bagaimana kamu dengan orang yang mengadukanmu kepadaku?” Mu’adz menjawab ”Wahai

Rasulullah, Allah Mahabenar dan saya keliru. Anak muda itu telah gugur sebagai syahid.” (HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ahmad, Abu Daud, Bukhari & Muslim)

9>. Membaca al-Faatihah Dengan Suara Keras dan Tanpa Suara Pada Sholat Lima Waktu Dan Sholat Lainnya.

Pada sholat Suhubh dan pada rakaat pertama dan kedua pada sholat Maghrib dan ’Isya,

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membaca al-Faatihah dan surah lainnya dengan suara keras. Sedangkan pada sholat Dzuhur dan Ashar Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam membacanya dengan tanpa suara. Para sahabat mengetahui apa yang dibaca oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dalam sholat-sholat yang tanpa suara dari gerakan jenggotnya dan terkadang Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sendiri memperdengarkan bacaannya. Demikian penjelasan Bukhari dan Abu Daud.

Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam juga membaca dengan mengangkat (mengeraskan) suara pada sholat Jum’at , ’Idul Fitri, ’Idul Adha, Istisqa’ (sholat meminta hujan), dan sholat Kusuf (gerhana).

C. Bacaan-Bacaan Sholat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam Bacaan sholat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bermacam-macam. Kadang Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam membaca surat ar -Rum (60 ayat), kadang ash-Shaffat (182 ayat), kadang surat Zalzalah (7 ayat) dan lain-lain.

D. Bacaan Tartil dan Memerdukan Suara

Perintah Allah terhadap Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah agar membaca al-Qur’an dengan tartil, tidak pelan, dan tidak terlalu cepat. Tetapi dibaca kalimat per kalimat sehingga bacaan satu surah lebih lama daripada dibaca dengan biasa.

Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Kelak akan dikatakan kepada orang yang membaca al-Qur’an ”Bacalah, telitilah dan tartillah sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu adalah diakhir ayat yang engkau baca.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Beliau menyuruh para sahabatnya untuk membaca al-Qur’an dengan suara merdu dalam sabdanya ”Hiasilah al-Qur’an dengan suaramu. Sesungguhnya suara yang bagus dapat menjadikan al- Qur’an bertambah indah.” (HR Bukhari, Abu Daud & Hakim).

Beliau juga bersabda ”Sesungguhnya orang yang bagus suaranya adalah apabila engkau mendengarkan suara bacaan al-Qur’an sedangkan kamu mengira bahwa dia adalah orang yang takut kepada Allah.” (HR Thabrani, Ibnu Mubarak & Abu Nu’aim).

E. Membetulkan Bacaan Imam Yang Salah

Abu Daud, Ibnu Hibban dan Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam menyuruh membetulkan imam yang salah membaca al-Qur’an. Beliau pernah melakukan sholat dan salah dalam membaca al-Qur’an. Usai sholat Beliau bertanya kepada Ubay, ”Apakah engkau sholat bermakmum dengan saya?” Ubay menjawab ”Benar” Beliau menimpali ” Kenapa tidak membetulkan bacaanku yang salah?”

F. Berta’awwudz Dan Meludah Saat Sholat Untuk Menghilangkan Gangguan

Dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan bahwa Utsman bin Abi ’Ash berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menggangguku ketika aku membaca al-Qur’an saat sholat sehingga sholatku kacau.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda ”Itulah setan yang bernama Khinzib. Jika engkau merasakan keahdirannya, bacalah ta’awwudz dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali.” Utsman berkata ”Aku kemudian melakukannya sehingga Allah mengeyahkan setan dariku.”

TATA CARA RUKU DAN BACAANNYA

Setelah membaca al-Qur’an, Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam diam sejenak. Lalu Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam mengangkat kedua tangannya sebagaimana yang telah dijelaskan pada penjelasan di depan dalam Takbiratul Ihram. Kemudian mengucapkan Allahu Akbar, lalu ruku.

A. Tata Cara Ruku

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua lututnya . Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam memerintahkan sahabatnya melakukan yang demikian. Juga memerintahkan orang yang tidak benar sholatnya.

Kedua telapak tangan Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam tampak menekan kedua lututnya (seakan-akan mencengkram keduanya). Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam merenggangkan jari-jarinya. Lalu memerintahkannya kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Jika engkau ruku letakkanlah kedua tangnmu di atas lututumu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu menjadi mapan ditempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).

Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya. Ketika ruku Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam membentangkan dan meluruskan punggungnya sampai-sampai jika dituangkan air dari diatasnya tidak akan tumpah, Lalu, Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada orang yang tidak benar sholatnya ”Jika engkau ruku, letakkanlah tangamu pada kedua lututmu. Lalu, bentanglah punggungmu dan tekanlah tanganmu dalam rukumu.” (HR Ahmad & Abu Daud).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tidak membungkuk terlalu kebawah dan tidak pula mendongakkan terlalu keatas. Akan tetapi tengah-tengah di antara keduanya.

B. Wajib Thumaninah Dalam Ruku

Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam dengan thumaninah (tenang) dan memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar sholatnya sebagaimana yang dijelaskan diatas. Sabda Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam ”Sempurnakanlah ruku dan sujudmu. Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya, sesungguhnya aku benar-benar melihat kamu dari balik punggungku saat kamu ruku dan sujud.” (HR Bukhari & Muslim).

Dalam riwayat Ath-Thayalisi dan Ahmad, Abu Hurairah berkata ”Kekasihku Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-nolah seperti musang dan duduk sepeti kera.”

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda ”Pencuri yang paling jahat adalah pencurian yang mencuri dalam sholatnya.” Para sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana yang dimaksud dengan mencuri dalam sholat itu?” Rasulullah menjawab ”Yaitu orang yang tidak sempurna ruku dan sujudnya dalam sholat.” (HR Thabrani dan Hakim).

Ketika sedang sholat, Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam melirik orang yang sujud dan ruku dengan punggung tidak lurus. Usai sholat Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Wahai kaum muslimin, sesungguhnya tidak sah sholat seseorang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku dan sujud.” (HR Ibnu Majah & Ahmad).

C. Bacaan-Bacaan Ruku

Dalam ruku Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membaca bacaan yang beragam. Terkadang membaca sebuah bacaan dan di lain kesempatan membaca bacaan lain. Diantara bacaan Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam adalah :

a>. ”Sub hana rabbiyal’adhim” (3x) (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung”) (Dibaca 3 kali) (HR. Ahmad, Abu Daud & Ibnu Majah). Terkadang membacanya lebih dari 3 kali (yang menunjukkan lamanya sholat Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam).

Bahkan pada suatu kali dalam sholat lail Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam membacanya dengan mengulang-ulang sehingga lama ruku’nya sama dengan lama berdirinya. Padahal Beliau membaca 3 surah panjang (al-Baqarah, an-Nisaa dan Ali Imran) diselingi dengan doa-doa dan istighfar.

b>. ”Sub hana rabbiyal’adhimi wabihamdih” (3x) (”Mahasuci dan Mahaagung Allah, segala puji bagiNya”) (Dibaca 3 kali) (HR Abu Daud, Daruquthni, Ahmad & Thabrani).

c>. ”Sub hanaka allahumma wabihamdika allahummagh firli” (”Mahasuci Engkau wahai Thuhan dan dengan memujiMu ampunilah aku”)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memperbanyak dao ini dalam ruku dan sujudnya.

d>. Dan lain-lain.

D. Larangan Membaca Al-Qur’an Saat Ruku

Beliaushalallahu ‘alaihi wassalam melarang membaca al-Qur’an saat ruku dan sujud dalam sabdanya ”Ketahuilah sesungguhnya aku melarang bacaan al-Qur’an saat ruku. Hendalah kalian mengagungkan Tuhan Yang Mahaperkasa. Sedangkan dalam bersujud hendaknya bersungguh-sungguhlah berdoa karena doa itu tentu dikabulkan.” (HR Muslim & Abu Uwanah).

E. Bangun dari Ruku (I’tidal) dan Bacaannya

Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bangkit dari ruku sambil mengucapkan ”Sami allahu liman hamidah” (Allah mendengar orang yang memujiNya”) (HR Bukhari & Muslim).

Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Tidak sempurna sholat seseorang sehingga bertakbir. Kemudian ruku lalu mengucapkan Sami’a Allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya) sampai berdiri dengan tegak” (HR Abu Daud dan Hakim)

Ketika berdiri dengan tegak Beliau mengucapkan ”Rabbanaa walakal hamdu” (”Wahai Tuhan kami dan segala puji hanyalah milik-Mu”) (HR Bukhari dan Ahmad)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memerintahkan demikian kepada semua orang yang sholat, baik makmum maupun bukan makmum dalam sabdanya ”Sholatlah seperti kalian melihatku sholat” (HR Bukhari & Ahmad).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda ”Sesungguhnya imam dijadikan tiada lain untuk diikuti. Jika imam mengucapkan ’Sami’a Allhu liman Hamidah’, maka ucapkanlah Allahumma walakal hamdu.’ Pasti Allah mendengar ucapan kalian. Sesungguhnya Allah berfirman melalui ucapan RasulNya, ’Sami’a Allahu liman Hamidah’.” (HR Muslim, Abu Uwanah, Ahmad & Abu Daud).

Penyebab masalah ini dipertegas dalam hadits lain ”Sesungguhnya barangsiapa yang ucapannya itu berbarengan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya sebelumnya.” (HR Bukhari & Muslim).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengangkat tangan saat berdiri i’tidal seperti telah dijelaskan pada takbiratul ihram didepan, dengan mengucapkan bacaan berikut :

1>. ”Rabbanaa walakal hamdu” (HR Bukhari & Muslim). Masalah mengangkat tangan ini sanadnya benar-benar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Pendapat ini juga diperkuat oleh jumhur ulama dan sebagian penganut mazhab Hanafi.

2>. ”Rabbana lakal hamdu” (HR. Bukhari & Muslim).

3>. ”Allahumma rabbana walakal hamdu” (HR Bukhari & Muslim)

4>. ”Allahumma rabbana lakal hamdu” (HR Bukhari & Muslim).

5>. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memerintahkan berbuat demikian dalam sabdanya ”Apabila imam mengucapkan ’Sami’a Allahu liman hamidah’ maka ucapkanlah ’Allahumma Rabbana lakal hamdu’. Barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari & Muslim).

6>. Terkadang Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam menambah dengan lafal ”Milussamawaati wamil ul ardli wamil umaasyikta min syai in ba’du.” (Mencakup seluruh langit dan bumi dan semua yang Engkau kehendaki selain dari itu.” (HR Muslim & Abu Uwanah).

7>. Dan lain-lain.

F. Memperpanjang Berdiri I’tidal dan Kewajiban Thumuninah.

Lama berdiri i’tidal Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sama seperti rukunya, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Bahkan kadang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berdiri lama sampai dianggap lupa oleh sahabatnya karena lamanya Beliau berdiri. Demikian yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda ”Kemudian tegakkanlah kepalamu sampai engkau berdiri tegak (sampai semua tulang kembali menempati tempatnya masing-masing). (Dalam sebuah riwayat dikatakan : Apabila kamu berdiri i’tidal, maka tegakkanlah kepalamu sampai tulang-tulang kembali kepada posisinya semula).” (HR Bukhari, Muslim, Hakim & Ahmad).

Beliau juga bersabda ”Allah tidak akan melihat sholat seorang hamba yang tidak meluruskan tulang punggungnya antara ruku dan sujudnya.” (HR Ahmad & Thabrani)

BERSAMBUNG KE :
Link BAG. II :
Tata Cara & Bacaan Sujud Serta Duduk Diantara Dua Sujud sampai Tasyahhud Akhir & Salam : <https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1948159506160&set=a.1653325175486.2085068.1307751853&type=1&theater>

______
Sumber :
https://www.facebook.com/home.php?sk=group_178870065487878&view=doc&id=191242567583961

About these ads

Komentar ditutup.