AQIDAH oleh Achmad Bayu Sujiwo

AQIDAH
oleh Achmad Bayu Sujiwo pada 14 Februari 2012 pukul 12:43 ·

Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah
Bernilai?

Para pembaca yang semoga selalu
mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala.
Allah menciptakan kita, tidaklah untuk
dibiarkan begitu saja. Tidaklah kita
diciptakan hanya untuk makan dan minum
atau hidup bebas dan gembira semata. Akan tetapi, ada tujuan yang mulia dan
penuh hikmah di balik itu semua yaitu
melakukan ibadah kepada Sang Maha
Pencipta. Ibadah ini bisa diterima hanya
dengan adanya tauhid di dalamnya. Jika
terdapat noda-noda syirik, maka batallah amal ibadah tersebut. Tauhid adalah Syarat Diterimanya Ibadah Perlu pembaca sekalian ketahui bahwa
ibadah tidak akan diterima kecuali apabila
memenuhi 2 syarat : Pertama, memurnikan
ibadah kepada Allah semata (tauhid) dan
tidak melakukan kesyirikan. Kedua,
mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibadah apapun yang
tidak memenuhi salah satu dari kedua
syarat ini, maka ibadah tersebut tidak
diterima. Fudhail bin ‘Iyadh
mengatakan,”Sesungguhnya apabila suatu
amalan sudah dilakukan dengan ikhlas,
namun tidak sesuai dengan tuntunan
Rasulullah maka amalan tersebut tidak
diterima. Dan apabila amalan tersebut sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah,
namun tidak ikhlas, maka amalan tersebut
juga tidak diterima, sampai amalan
tersebut ikhlas dan sesuai dengan
tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.” (Jaami’ul Ulum wal Hikam) Ada permisalan yang sangat bagus
mengenai syarat ibadah yang pertama
yaitu tauhid. Sebagaimana dikatakan oleh
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam
risalahnya yang berjudul Al Qawa’idul
Arba’.

Beliau rahimahullah berkata,”Ketahuilah, sesungguhnya ibadah
tidaklah disebut ibadah kecuali dengan
tauhid (yaitu memurnikan ibadah kepada
Allah semata, pen). Sebagaimana shalat
tidaklah disebut shalat kecuali dalam
keadaan thaharah (baca: bersuci). Apabila syirik masuk dalam ibadah tadi, maka
ibadah itu batal. Sebagaimana hadats
masuk dalam thaharah.” Maka setiap ibadah yang di dalamnya tidak
terdapat tauhid sehingga jatuh kepada
syirik, maka amalan seperti itu tidak
bernilai selamanya. Oleh karena itu,
tidaklah dinamakan ibadah kecuali
bersama tauhid. Adapun jika tanpa tauhid sebagaimana seseorang bersedekah,
memberi pinjaman utang, berbuat baik
kepada manusia atau semacamnya, namun
tidak disertai dengan tauhid (ikhlas
mengharap ridha Allah) maka dia telah
jatuh dalam firman Allah yang artinya,”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka
kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu
bagaikan debu yang beterbangan.” (Al
Furqon : 23). (Abrazul Fawa’id) Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah
Bernilai Syaikh rahimahullah membuat permisalan
yang sangat mudah dipahami dengan
permisalan shalat. Tidaklah dinamakan
shalat kecuali adanya thaharah yaitu
berwudhu. Apabila seseorang tidak dalam
keadaan berwudhu lalu melakukan shalat yang banyak, memanjangkan berdiri, ruku’,
dan sujudnya, serta memperbagus
shalatnya, maka seluruh kaum muslimin
sepakat shalatnya tidak sah. Bahkan dia
dihukumi telah meninggalkan shalat
karena agungnya syarat shalat ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,”Allah tidak akan menerima
shalat seseorang di antara kalian apabila
dia berhadats sampai dia berwudhu.
”(Muttafaqun ‘alaihi). Sebagaimana shalat dapat batal karena
tidak adanya thaharah, maka ibadah juga
bisa batal karena tidak adanya tauhid di
dalamnya. Namun syarat ikhlas dan tauhid
agar ibadah diterima tentu saja jauh
berbeda jika dibanding dengan syarat thaharah agar shalat diterima. Apabila
seseorang shalat dalam keadaan hadats
dengan sengaja, maka terdapat
perselisihan pendapat di antara ulama
tentang kafirnya orang ini. Akan tetapi,
para ulama tidak pernah berselisih pendapat tentang kafirnya orang yang
beribadah pada Allah dengan berbuat
syirik kepada-Nya (yaitu syirik akbar) yang
dengan ini akan menjadikan tidak ada
satu amalnya pun diterima. (Lihat Syarhul
Qawa’idil Arba’, Syaikh Sholeh Alu Syaikh) Syirik Akbar Akan Menghapus Seluruh
Amal Ingatlah saudaraku, seseorang bisa
dinyatakan terhapus seluruh amalnya
(kafir) bukan hanya semata-mata dengan
berpindah agama (alias: murtad). Akan
tetapi, seseorang bisa saja kafir dengan
berbuat syirik yaitu syirik akbar, walaupun dalam kehidupannya dia adalah orang
yang rajin melakukan shalat malam.
Apabila dia melakukan satu syirik akbar
saja, maka dia bisa keluar dari agama ini
dan amal-amal kebaikan yang
dilakukannya akan terhapus. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Seandainya
mereka mempersekutukan Allah, niscaya
lenyaplah dari mereka amalan yang telah
mereka kerjakan.” (Al An’am: 88). Apabila
dia tidak bertaubat darinya maka
diharamkan baginya surga, sebagaimana firman-Nya yang artinya,”Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan
tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72) Contoh syirik akbar adalah melakukan
tumbal berupa sembelihan kepala kerbau,
kemudian di-larung (dilabuhkan) di laut
selatan agar laut tersebut tidak ngamuk
(yang kata pelaku syirik: tumbal tersebut
dipersembahkan kepada penguasa laut selatan yaitu jin Nyi Roro Kidul). Padahal
menyembelih merupakan salah satu
aktivitas ibadah karena di dalamnya
terkandung unsur ibadah yaitu
merendahkan diri dan tunduk patuh. Allah
Ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya shalatku,
sembelihanku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Rabb semesta
alam.” (Al An’am: 162). Barangsiapa yang
memalingkan perkara ibadah yang satu ini
kepada selain Allah maka dia telah jatuh dalam perbuatan syirik akbar dan
pelakunya keluar dari Islam. (Lihat At
Tanbihaat Al Mukhtashot Syarh Al Wajibat) Syirik Ashgar Dapat Menghapus Amal
Ibadah Jenis syirik yang berada di bawah syirik
akbar dan tidak mengeluarkan pelakunya
dari Islam adalah syirik ashgar (syirik
kecil). Walaupun dinamakan syirik kecil,
akan tetapi tetap saja dosanya lebih besar
dari dosa besar seperti berzina dan mencuri. Salah satu contohnya adalah riya’
yaitu memamerkan amal ibadah untuk
mendapatkan pujian dari orang lain. Dosa
ini yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
sangat khawatirkan akan menimpa para
sahabat dan umatnya. Pada kenyataannya banyak manusia yang terjerumus di dalam
dosa syirik yang satu ini. Banyak orang
yang mengerjakan shalat dan membaca Al
Qur’an ingin dipuji dengan
memperlihatkan ibadah yang mulia ini
kepada orang lain. Tatkala orang lain melihatnya, dia memperpanjang ruku’ dan
sujudnya dan dia memperbagus bacaannya
dan menangis dengan dibuat-buat. Semua
ini dilakukan agar mendapat pujian dari
orang lain, agar dianggap sebagai ahli
ibadah dan Qori’ (mahir membaca Al Qur’an). Wahai saudaraku, waspadalah terhadap
jerat setan yang dapat membatalkan amal
ibadahmu ini!! Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda yang artinya,”Allah
berfirman: Aku itu paling tidak butuh
sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan lantas dia mencampurinya dengan
berbuat syirik di dalamnya dengan selain-
Ku, maka Aku akan tinggalkan dia
bersama amal syiriknya itu.” (HR. Muslim).
Apabila ibadah yang dilakukan murni
karena riya’, maka amal tersebut batal. Namun apabila riya’ tiba-tiba muncul di
pertengahan ibadah lalu pelakunya
berusaha keras untuk menghilangkannya,
maka hal ini tidaklah membatalkan
ibadahnya. Namun apabila riya’ tersebut
tidak dihilangkan, malah dinikmati, maka hal ini dapat membatalkan amal ibadah. Wahai saudaraku, bersikaplah
sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam -
kekasih Allah yang bersih tauhidnya dari
perbuatan syirik-. Beliau masih berdo’a
kepada Allah :”Jauhkanlah aku beserta
anak cucuku dari menyembah berhala- berhala.” (Ibrahim: 35). Jika beliau yang
sempurna tauhidnya saja masih takut
terhadap syirik, tentu kita semua yang
miskin ilmu dan iman tidak boleh merasa
aman darinya. Ibrahim At Taimi berkata:
”Dan siapakah yang lebih merasa aman tertimpa bala’ (yaitu syirik) setelah Nabi
Ibrahim.” Tidaklah seseorang merasa
aman dari syirik kecuali dia adalah orang
yang paling bodoh tentang syirik. (Fathul
Majid) Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari
menyekutukan-Mu sedang kami
mengetahuinya dan kami memohon
ampunan kepada-Mu atas sesuatu yang
kami tidak mengetahuinya. Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf
bila ada kata-kata yang kurang berkenan
atau menyinggung perasaan.

About these ads

Komentar ditutup.