MISI DAN FUNGSI AL QURAN oleh Abu Fasih

MISI DAN FUNGSI AL QURAN
oleh Abu Fasih pada 16 Februari 2012 pukul 6:12 ·

Al-quran adalah kitab petunjuk dan pembimbing bagi perjalanan kehidupan umat manusia, penawar bagi penyakit hati dan penerang jalan menuju Allah.

 

Allah Swt dengan keluasan rahmat-Nya atas hamba-hamba-Nya yang lemah telah menurunkan kitab suci terakhirnya dengan perantara malaikat Jibril a.s. kepada Nabi kesayangannya Muhammad SAW untuk menyelamatkan umat manusia yang terpenjara dalam dunia yang gelap, dan memerdekakan mereka yang terbelenggu oleh angan-angan panjang, mengentas mereka dari kehinaan jiwa dan kelemahan hewani, dan mengantarkan mereka ke puncak kesempurnaan insani.

 

Misi pertama Al-Qur’an adalah kitab yang mengajak menuju sumber segala kebahagiaan, ia mengajak umat manusia kepada ma’rifat kepada Allah, baik Dzat, Asma’, Sifat-sifat ataupun tindakan-tindakannya. Al-Qur’an mengungkap masalah-masalah di atas dengan ungkapan yang dapat dipahami dan ditangkap oleh semua lapisan, sesuai dengan kesiapan mereka masing-masing. Para ulama dhahir, muhadditsin, para fuqaha, dan para mufassirin menafsirkan ayat-ayat tentang tauhid dengan penafsiran yang berbeda dengan pemahaman dan penafsiran ulama batin dan ahli ‘irfan.

Adanya perbedaan tersebut tidak berarti yang satu dari kedua bentuk pemahaman itu salah. Kedua pemahaman mereka benar dalam kerangka dan kapasitas mereka masing-masing. Pemahaman ulama dhahir benar dan tepat namun, pemahaman ulama batin lebih dalam dan teliti serta dihiasi oleh sentuhan-sentuhan nilai irfan yang kental.

Sebagian ayat-ayat Al-Qur’an, seperti ayat-ayat awal surat al-Hadid dan surat al-Ikhlash diturunkan untuk mereka yang mendalam ilmunya di akhir zaman, bukan di masa-masa awal penurunannya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dalam Al-Kafi. Kendati demikian bagi ulama dhahir mereka dapat menimba manfaat yang tepat dan benar dari ayat-ayat tersebut. Dan yang demikian itu adalah salah satu sisi mu’jizat dan keistimewaaan Al-Qur’an.

Misi kedua Al-Qur’an adalah membawa misi pensucian jiwa dari berbagai kekotoran material agar dapat mencapai kebahagiaan abadi. Ia mengajarkan bagaimana manusia dapat berjalan menuju Allah, dan hal itu melalui dua konsep:

1. Ketakwaan dengan berbagai tingkatannya.

2. Keimanan dengan berbagai tingkatannya.

Misi ketiga ialah menceritakan kisah-kisah para nabi, para wali dan orang-orang bijak serta bagaimana bimbingan Allah terhadap mereka dan peran mereka dalam membimbing umat manusia. Dalam kisah-kisah mereka terdapat banyak pelajaran dan ‘ibrah yang dapat dipetik oleh umat manusia.

Dalam kisah penciptaan Adam as, perintah sujud atas malaikat dan pengajaran asma’ kepada Adam serta kasus keangkuhan Iblis terhadap perintah sujud, misalnya, terdapat banyak pelajaran yang sangat agung dan mencengangkan. Oleh sebab itu, cerita-cerita semacam itu disebut berulang-ulang agar tujuan dan hikmahnya dapat dipetik oleh manusia.

Misi keempat Al-Qur’an adalah mengungkap keadaan dan jiwa orang-orang kafir dan kaum penentang kebenaran serta menjelaskan akibat dan kesudahan mereka serta kehancuran dan kehinaan mereka, baik di dunia maupun di akhirat kelak, seperti kasus Fir’aun, Qorun, Namrud, Abrahah, dan tokoh-tokoh penentang kebenaran lainnya.

Pada setiap kisah mereka yang diangkat dalam Al-Qur’an terdapat nasihat, hikmah, bahkan pelajaran.

Begitu juga dapat digolongkan misi di atas, cara dan langkah sahabat-sahabat Nabi SAW dalam berjihad melawan kaum kafir, hal itu dimuat untuk membangkitkan kaum muslimin dari kelalaian dan mengobarkan semangat jihad dijalan Allah, demi menegakkan kalimatullah.

Misi kelima, menerangkan undang-undang syariat Islam dan aturan-aturan Tuhan. Dalam Al-Qur’an telah disebutkan pokok-pokok undang-undang Islam dan hukum syariat seperti salat, zakat, khumus, haji, puasa, jihad, pernikahan, hukum waris, hukum pidana, dan perdata, perdagangan dan lain-lain. Bahkan beberapa di antaranya disebut dengan terperinci.

Penjelasan hukum syariat merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat demi keteraturan dan kemapanan, kehidupan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi mereka. Oleh sebab itu Al-Qur’an memberikan perhatian khusus dalam masalah ini, dan hadits-hadits pun telah banyak memberikan perincian dan berbagai masalah terkait dengannya.

Ayat-ayat yang tergolong dalam masalah ini telah dikelompokkan oleh para ulama dan diberi nama dengan Ayatul Ahkam, yang jumlahnya kurang lebih lima ratus ayat.

Misi keenam Al-Qur’an adalah menyelesaikan permasalahan seputar akhirat dan hari kebangkitan, pembuktian akan kebenarannya, aneka bentuk siksa dan pahala, dan perincian tentang surga dan neraka. Sebagaimana Al-Qur’an juga menyebutkan nasib dan keadaan para penerima kenikmatan dan kebahagiaan dan derajat-derajat mereka. Begitu juga Quran menerangkan tingkatan-tingkatan orang-orang yang sengsara, baik mereka yang kafir, munafik, ataupun pendosa dan fasiqin.

Dalam hal ini Al-Qur‘an memakai dua metode/bahasa:

A. Bahasa gamblang, bagi kaum awam dan kalangan menengah.

B. Bahasa isyarat untuk kelompok khusus seperti, ayat tentang “Ridhwanullahi akbar“ dan ayat “liqaullah“.

Misi ketujuh Al-Qur‘an adalah cara pemaparan argumentasi yang di sajikan oleh Allah untuk membuktikan kebenaran berbagai permasalahan, seperti pembuktian-pembuktian kebenaran prinsip tauhid dengan berbagi masalahnya seperti: sifat ilmu, qudrat dan seluruh sifat-sifat kamaliah (kesempurnaan).

Pada bagian ini, banyak ditemukan argumen yang mendalam dan detail, dan para ulama ahli irfan (hukama‘) telah mampu menyimpulkan dengan sempurna.

Selain argumen yang ditegakkan oleh Allah, ia juga menukil berbagai dialog yang terjadi antara para nabi dan rosul dengan para penentang kebenaran. Dalam dialog-dialog tersebut terdapat setumpuk argumen dan dalil yang membuktikan kebenaran berbagai ajaran seperti, bukti-bukti yang dijelaskan oleh Nabi Ibrahim as.[1]

Misi kedelapan Al-Qur’an adalah memberikan keputusan akhir bagi perselisihan yang muncul dan sedang berkembang, di tengah-tengah umat manusia tentang perjalanan kehidupan mereka dan memberikan solusi yang benar tentangnya.

Dalam ayat 64 surat An-Nahl, dan ayat 76 surat An-Naml, disebutkan bahwa salah satu misi dan fungsi kehadiran Al-Qur’an adalah memberikan keputusan, kejelasan dan menegakkan hujjah atas apa yang diperselisihkan oleh kalangan kaum musyrikin tentang keyakinan ketuhanan dan amal mereka[2], dan yang diperselisihkan oleh Ahlul Kitab tentang Isa Al-Masih dan hukum-hukum serta keyakinan mereka.[3]

Misi kesembilan Al-Qur’an adalah membenarkan kitab-kitab suci dan misi para rosul sebelum Nabi Muhammad Saw.

Disebutkan dalam banyak ayat seperti ayat 48 surat Al-Maidah dan ayat 3 surat Ali Imran, bahwa fungsi Al-Qur‘an adalah melegalisir apa yang termuat dalam Taurat, Injil dan kitab-kitab suci sebelumnya, selain itu ia juga berfungsi sebagai “ Muhaimin“ atas kitab-kitab suci tersebut.

Arti Al-Qur’an sebagai “Muhaimin“ ialah tidak sekedar membenarkan akan tetapi, ia juga berperan sebagai pengontrol atas apa yang termuat di dalamnya, ia akan menetapkan dan memberlakukan apa yang masih sesuai dengan tuntutan umat terakhir ini dan akan menghapus ajaran yang dianggap expired masa berlakunnya.

About these ads

Komentar ditutup.