BERANI BELAJAR MERAWAT JENAZAH by .SUMBER : Majalah AULIA edisi DESEMBER 2001

BERANI BELAJAR MERAWAT JENAZAH ! **

BismillaahirRahmaanirRahiim

Belajar merawat jenazah tidak hanya berguna untuk dipraktekkan suatu hari, tapi juga berguna demi membuat kita selalu mengingat kematian.

Rasulullah SAW mengajarkan agar kita memperbanyak mengingat kematian. Karena dengan begitu, Allah akan menghidupkan hati kita dan insya ‘Allah kita pun dapat merasakan keringanan akan sakitnya kematian.
Beliau bersabda: “Sesungguhnya di dalam mengingat kematian ada pengajaran yang besar.”
(HR. Bukhari)

Berikut ini hal-hal yang bisa kita pelajari bagaimana cara merawat jenazah.

Saat menemui jenazah seseorang yang baru saja meninggal, sebaiknya langsung kita lepaskan bantal yang menyangga kepalanya. Hal ini bertujuan untuk meluruskan seluruh tubuhnya.

Tutup matanya perlahan-lahan menggunakan kapas hangat dan tutup rahangnya juga dengan perlahan-lahan, bila tidak bisa menutup rahang diikat menggunakan bahan apa saja ke atas kepala.

Lepas pakaian si jenazah. Dengan niat menghormati si jenazah, biasanya orang menggunting dan membuang saja pakaian itu karena jauh lebih mudah dilakukan.

Balut jenazah dengan kain dan bawa ke bagian depan rumah untuk memudahkan saudara dan kerabat yang ingin berta’ziyah atau melayat. Posisinya dihadapkan ke arah kiblat. Setelah itu segera bersiap-siap untuk dimandikan dan dikafani.

 

Rasulullah SAW memang mengajarkan agar kita menyegerakan melakukan perawatan jenazah. Sehingga sebaiknya saat ada orang meninggal, tak perlu menunggu lama, saat itu juga harus disiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk merawat jenazahnya.

 

“Bahkan lebih baik lagi, di mana dia meninggal di situlah ia dimakamkan, tidak perlu sampai diinapkan untuk dibawa ke luar kota sehingga memakan banyak biaya dan kasihan jenazahnya.” ungkap Ustadzah Nurlaila dari Majelis Ta’lim At-Taqwa Pamulang 2, Tangerang, Banten.

 

Apabila mengingat aturan dunia penerbangan yang mengharuskan jenazah dimasukkan formalin ke dalam tubuhya agar tidak berbau. Tentu kita tak akan sampai hati melihat jenazah seseorang harus disayat pisau untuk dimasukkan formalin. Belum lagi biaya mahal yang harus di tanggung pihak keluarga untuk mengirim jenazah.

Nurlaila mewanti-wanti, jangan sampai kita mengedepankan hal-hal yang tidak sesuai syariat dan malah mengesampingkan ketentuan sesungguhnya.
Dengan ilmu merawat jenazah tentu kita bisa melakukan pengurusan jenazah sesegera mungkin bila ada orang di lingkungan sekitar yang meninggal, serta mengimbau pada keluarganya agar tidak menunda-nunda pengurusan jenazah. Yaitu, dari mulai memandikan, mengafani, menshalatkan, hingga memakamkan.

Biasanya khalayak umum sudah terbiasa menshalatkan atau ikut memakamkan jenazah, tapi untuk memandikan dan mengkafani biasanya tak banyak yang mengetahuinya. Padahal, memandikan dan mengkafani jenazah sebagai bagian awal dari perawatan jenazah itu sebetulnya juga perlu dimengerti masyarakat umum.

Menurut Nurlaila, ilmu merawat jenazah ini sebenarnya harus dimiliki semua orang. Sebab, semua orang tentu akan mati dan membutuhkan orang lain untuk merawat jasadnya.
“Ilmu ini ibarat garam dalam sayur, semua harus memilikinya.” tuturnya.

MEMOTONG KAFAN

Untuk memandikan dan mengkafani mayat, ada beberapa peralatan yang perlu dipersiapkan, yaitu,:

Sabun mandi dan shampo, dan sarung tangan dan masker yang diperlukan untuk proses memandikan.

Kain kafan, tikar pandan sebagai alas, kapas dan kamper. Untuk kain kafan ini berbeda-beda antara jenazah laki-laki, perempuan, dan bayi. Bila untuk perempuan maka kain kafan yang diperlukan sepanjang 13 meter, laki-laki 11 meter, dan bayi 5 meter.

 

Sebelum poses memandikan dimulai, terlebih dahulu disiapkan peralatan untuk mengkafani, agar setelah mandi selesai, bisa langsung dikafani.

 

Pertama-tama dilakukan adalah memotong kain kafan menjadi lima bagian. Yaitu, potong dua bagian yang sama besar sebagai penutup. Potong satu bagian untuk sarung. Potong satu bagian lagi untuk baju dengan cara kain dilipat dua dan dipotong setengan lingkaran pada bagian tengah lipatan.

Kemudian potong satu bagian untuk celana dalam dengan cara melipat kain sama besar dan mengguntingnya setengah lingkaran pada dua bagian ujung lipatan dan lubangi ujung lainnya untuk memasukkan tali pengikat.

Potong juga satu bagian berbentuk persegi untuk kemudian dilipat segi tiga seperti membentuk kerudung. Jangan lupa potong kain kafan tersebut untuk membuat tali yang bakal digunakan untuk mengikat jenazah tersebut. Tali yang diperlukan sekitar enam utas.

Setelah kain kafan sudah siap dipakai, kita lantas menggelar tikar pandan sebagai alas. Kemudian susun tali pengikat kafan di bagian atas kepala, dada, perut, paha, betis, dan bawah kaki. Selanjutnya gelar dua bagian kain kafan dengan cara setengah bagian yang satu dengan lainnya saling bertumpuk. Setelah itu gelar bagian sarung. Di atas sarung gelar potongan kain yang ditujukan untuk celana dalam, dan gelar pula bagian untuk baju di atas celana dalam. Lalu barulah gelar bagian untuk kerudung.

Setelah siap, tutupi semua bagian kain kafan tersebut dengan kapas sehingga nanti kapas itu menjadi alas bagi tubuh jenazah sebelum terkena kain kafan.

Wah, ternyata cukup rumit ya menyiapkan kain kafan untuk jenazah. Ternyata jenazah juga perlu diberi baju yang terbuat dari kain kafan. Selama ini kita mengira proses pengkafanan jenazah hanya langsung dibungkus saja!

MEMANDIKAN

Bila perlengkapan mengkafani sudah benar-benar siap, saatnya untuk bersiap memandikan jenazah.

Usahakan Anda dalam keadaan berwudhu.
Jenazah yang ditutupi/dibalut kain panjang itu dibawa ke tempat memandikan.

Pastikan daerah memandikan jenazah ini berhijab dengan baik demi melindungi auratnya.

Biasanya, diperlukan setidaknya dua orang untuk memandikan jenazah, tapi lebih dari itu tentunya lebih baik. “Lebih bagus lagi kalau keluarganya terutama anaknya ikut memandikan.” ungkap Nurlaila.

Usahakan agar si pemandi jenazah adalah mahramnya. Bila tidak maka yang sesama jenis. Jadi, jenazah perempuan tentu harus dimandikan oleh pemandi jenazah perempuan.

Saat memandikan jenazah, orang yang memandikan bisa memangkunya atau meletakkan jenazah di atas semacam dipan supaya posisi jenazah agak tinggi. “Tapi biasanya kalua di lembaga perawatan jenazah sudah ada bak khusus untruk memandikan.”

Pastikan jenazah selalu dalam keadaan tertutup kain. Hanya dibuka pada saat akan membasuh bagian tubuh.
Awali proses memandikan mewudhukan jenazah terlebih dahulu dengan tata cara seperti wudhu biasa.

Selanjutnya jenazah didudukkan sedikit disangga seseorang dibelakangnya. Keluarkan kotoran yang ada di tubuh mayat dengan cara memijat-mijat perutnya ke arah bawah.

Bola sudah bersih, posisikan tubuh jenazah kembali telentang. Kemudian keramasi rambut mayat sepeti layaknya membersihkan rambut biasa.

Setelah itu, posisi mayat dimiringkan ke kanan dan bersihkan bagian kanan tubuhnya.

Sirami perlahan-lahan dengan menggunakan gayung dari kepala hingga kaki, sabuni, dan bilas kembali. Begitu juga dengan bagian tubuh sebelah kiri.

 

Terakhir, basuh seluruh tubuh mayat dari atas hingga bawah dengan menggunakan air kamper agar menghilangkan bau. Yang perlu diingat, selalu memperlakukan jenazah dengan lembut dan respect.

Dari awal hingga akhir semuanya dilakukan perlahan-lahan dengan perasaan dan kelembutan. Jangan sampai kita seenaknya saja menggosok-gosok tubuh mayat dengan kasar.

TUTUPI AIBNYA

Selain itu, sebagai orang yang memandikan jenazah kita harus menjaga amanah untuk tidak membuka cerita tentang jenazah tersebut.

Seseorang yang memandikan jenazah harus mampu menutupi segala hal buruk tentang jenazah itu.

Rasulullah SAW bersabda,: “Sebutkanlah kebaikan-kebaikan orang yamg mati di antaramu dan jagalah kejelekan-kejelekannya.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Untuk memandikan jenazah biasa menggunakan air dingin ataupun air hangat. Setelah proses memandikan usai, kain yang semula digunakan untuk memandikan dilepas dan diganti dengan kain lainnya untuk menyeka tubuhnya. Tentunya, tetap dengan cara yang lembut hanya ditepuk-tepuk perlahan hingga kering. Ganti lagi kain jenazah dengan kain lain. Selanjutnya, jenazah dibawa ke tempat kain kafan yang sebelumnya sudah disiapkan.

Letakkan jenazah du atas kain kafan tersebut. Langsung katupkan bagian celana dalam, begitu pula bagian baju, masukkan bagian yang berlubang ke lehernya sehingga bisa menutup bagian atas jenazah. Setelah usai, katupkan bagian sarung di pinggang hingga kaki dan juga bagian kerudung kepala.

Dalam memakaikan kain kafan sebagai pakaian jenazah ini tidak boleh menggunakan alat perekat, seperti jarum atau peniti. Semua diikatkan saja hingga menutup dengan sempurna. Rapatkan juga kedua tangan jenazah ke dada seperti posisi bersedekap saat sholat.

Saat bagian-bagian tersebut sudah tertutup rapi, bungkus jenazah dengan tali-tali yang sudah disiapkan di bawah kain tersebut. Paling ujung di atas kepala, kemudian ikatkan di bagian dada, perut, paha, betis dan bagian bawah kaki.
Insya ‘Allah, jenazah siap untuk dimakamkan.

SUMBER :
Majalah AULIA edisi DESEMBER 2001

Salam Santun Ukhuwwah Fillah,
Semoga Bermanfaat.

About these ads

Komentar ditutup.