MA’RIFATULLOH DAN HATI oleh Achmad Bayu Sujiwo

MA’RIFATULLOH DAN HATI
oleh Achmad Bayu Sujiwo pada 17 Februari 2012 pukul 10:52 ·

SAMPURNA MA’RIFATULLAH

man arofa nafsahu fakod arofa robbahu – siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal tuhannya, hadis ini shoheh karena di tunjang oleh firman ALLAH swt Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. tetapi kamu tidak melihat,” (QS. Al Waqi’ah : 85)

 

“Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, QS Qoff :16 (MANUNGGALING KAULA GUSTI)

 

“Tiada seorang manusia dapat menerima bahasa Tuhan, kecuali dengan wahyu (ilham) atau dibalik tabir, atau diutusnya utusan, lalu dengan izinNya diwahyukan tentang apa yang dikehendakiNya, dan Dialah Maha Tinggi dan bijaksana,” (Asysyuuro, QS. 42:51

 

Ketika Hati Sebagai Kerajaan Kehidupan maka pintu haqiqat menerjemahkan pemahaman hati :

 

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

“Dan Kami bolak-balikan hati mereka dan penglihatan mereka.”

(QS. Al-An’am: 110)

 

Manusia dari waktu ke waktu akan mengalami perubahan dan pergantian. Manusia bermula seorang bayi, kemudian berkembang menjadi seorang anak. Dari seorang anak berubah menjadi remaja. Dari remaja berupah menjadi dewasa dan akhirnya menjadi tua renta. Hingga ajal menjemput nyawa. Ini berarti manusia adalah makhluk yang selalu mengalami perubahan. Perubahan sangat dekat dengan fitrahnya. Perubahan itu sangat dipengaruhi banyak faktor.

Misalnya, pengetahuan, keyakinan, pergaulan, pengalaman, dan lain sebagainya. Sangat jarang kita menjumpai manusia yang tetap tanpa perubahan. Perubahan pada diri manusia merupakan kelaziman. Pada dasarnya manusia membutuhkan perubahan. Hidup terasa menjemukan jika tanpa ada perubahan. Seorang karyawan merasa jemu melakukan pekerjaan yang tidak berubah. Setiap orang mengalami kejemuan dengan sesuatu yang monoton. Demikian juga dengan hati kita, ia akan selalu berubah-ubah tidak tetap. Terkadang hati ini lembut, terkadang sebaliknya hati mengeras. Terkadang hati ini bercahaya dan terkadang hati ini gelap. Terkadang hati begitu tawadhu’ dan terkadang berubah angkuh. Suatu saat hati itu sabar, di waktu yang lain hati tak sabar. Suatu waktu hati ini merasa tenang, tapi suatu kali yang lain hati merasa bigung.

Hati dapat taat kepada Allah, dan dapat pula durhaka kepada-Nya. Dalam beribadah hati dapat mencapai derajat khusyu’, dan dapat pula hati lalai. Iman yang ada dalam hati pun dapat berubah-ubah. Pagi beriman, sore hari ingkar. Sore hari beiman, pagi hari kufur. Begitulah hati manusia. Perubahan hati sangat cepat dan terkadang tidak terkendali. Bisa jadi hati dihiasi oleh sifat-sifat yang luhur, tetapi hati juga bisa dililit sifat-sifat tercela. Hati bisa merasakan tentram saat bersama Allah. Hati juga merasa resah ketika menghadap Allah karena ia merasa banyak dosa saat menghadap-Nya.

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan qolb yang artinya bolak-balik. Karena memang sifatnya yang cepat berbolak-balik (berubah). Hati bagaikan bulu ayam yang tergantung di atas pohon yang diboalk-balikan oleh angina sehingga bagian atas terbalik ke bawah dan bagian bawah terbalik ke atas. Demikianlah yang di sabdakan oleh Rasulullah SAW:

 

“Hati dinamakan qolb karena sifatnya yang cepat berubah. Hati itu bagaikan bulu (ayam) yang tergantung di atas sebuah pohon, yang dibolak-balikan oleh angina sehingga bagian atas terbalik ke bawah dan bagian bawahterbalik ke atas.”

(HR. Ahmad)

Bahkan dalam hadits lain hati berubah sangat cepat melebihi perubahan air yang sedang mendidih. RAsulullah SAW pernah bersabda:

 

“Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya

dari panci yang berisi air mendidih.”

(HR. Ahmad)

 

Perubahan hati terlihat pada tutur kata dan wujud perbuatan yang dilakukannya. Karena itu, kita tak perlu heran, jika kita menjumpai orang yang sering bersilat lidah atau orang yang tidak komitmen dengan janji yang ia ucapkan. Tetapi, walau pun keberadaan hati berubah terus, bagi orang mukmin hendaknya berusaha menjaga dan merawat kebersihan hati dari penyakit yang dapat merusaknya. Hati boleh berubah-ubah selama perubahan itu tidak menjurus pada maksiat atau durhaka kepada Allah. Dan tidak seorang pun yang dapat menjamin hatinya tetap dalam satu keadaan. Hati akan berubah mengikuti perkara yang sedang di hadapi. Perbedaan perkara menyebabkan adanya perubahan hati. Misalnya dalam bekerja, jika pekerjaannya banyak membawa keuntunggan, hati tenang dan ia terasa nyaman bekerja. Namun, manakala pekerjaannya bangkrut, maka hati resah dan ia berpaling darinya. Hati akan condong pada perkara yang disukai dan berpaling dari perkara yang tidak disenangi. Dari sinilah, dapat diketahui bahwa perbedaan niat atau motivasi seseorang dalam melakukan pekerjaan ditentukan oleh sudut pandang yang berbeda-beda.

Orang yang shalat, saat takbiratul ihram ia niat ikhlas karena Allah, tetapi ketika berada di tengah-tengah melakukan shalat hati bisa berubah sewaktu-waktu, karena ia mengingat sesuatu atau karena ia terlena dengan bujuk rayu setan. Orang yang bersedekah, semula niatnya karena Allah, tetapi karena ia mendapat sanjungan dan pujian, niatnya berubah bangga mendapat pujian. Perubahan-perubahan itu yang harus dijauhi dan ditinggalkan oleh orang yang rindu akan rahmat Allah. Rahmat dan ridha Allah akan diberikan kepada orang yang beramal karena Allah semata mulai awal hingga akhir amalnya. Dan tidak bisa menjaga niat ini kecuali ia menyerahkan urusannya kepada Allah sebelum beramal.

Kita harus mengetahui bahwa hati berada dalam genggaman Allah. Allah berfirman: “Ssungguhnya Allah-lah yang membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal:24). Yaitu yang menguasai hati manusia. Allah SWT tidak akan menerima amal kecuali orang yang hatinya bersih (ikhlas): Firman Allah SWT: “Kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS.Asy-Syu’araa’: 89). Hati dapat mengeras karena banyak melakukan larangan Allah dan sering meninggalkan perintah-Nya. Demikian juga orang yang jauh dari ulama hatinya akan membatu. Sering tertawa, mengkonsumsi yang haram, melakukan dosa besar menyebabkan hati menjadi beku. Hati yang beku sulit menerima sentuhan hidayah Ilahi. Hati yang terus beku jauh dari rahmat Allah. Allah berfirman: “maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar :22). Allah bakal mengampuni dosa orang yang takut pada azab Allah dan ia datang dengan hati yang bertaubat. Allah menggolongkan pada hamba-hamba yang beruntung, orang yang terus terpaut dengan Allah. Allah berfirman: “bagi orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, sedang dia tidak kelihatan (olehnya) dan ia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS.Qaaf :33).

Seorang mukmin harus mengetahui keadaan hati yang selalu berubah-ubah. Dan juga hendaknya mengetahui penyebab hati menjadi rusak dan upaya-upaya pencegahan, serta solusi-solusinya. Jika kita mengetahui hati mulai terasa sakit, cepat-cepat ia mengobati hatinya sebelum tertutup yang pada akhirnya membuat dirinya akan hancur. Masalah ini sangat penting, karena Allah SWT telah mengingatkan kita akan bahaya hati yang keras, lalai, sakit, buta, tertutup, terbalik, dan terkunci mati. Tanpa menyadari bahwa hati itu selalu berubah-ubah, sering kali ia tidak siap dan menerima masalah yang di hadapi. Dengan menyadari bahwa hati yang selalu berubah-ubah, seseorang akan lebih siap menjalani hidup di bawah ketetapan Allah.

Perhatikan anjuran Rasulullah dikala kita menyukai sesuatu! Rasulullah pernah bersabda:

“Cintailah apa yang kamu cintai sekedarnya saja, boleh jadi apa yang kamu cintai itu menjadi sesuatu yang paling kamu benci pada suatu hari nanti. Bencilah Sesuatu yang yang kamu benci sekedarnya saja, boleh jadi ia akan menjadi sesuatu yang paling kamu sukai pada suatu hari nanti.”

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini menganjurkan kita sedang-sedang saja dalam menyikapi permasalahan hidup. Dan hadits ini mengandung larangan kepada kita untuk berlebih-lebihan dalam setiap perkara. Karena Rasulullah saw mengetahui betul bahwa hati manusia selalu berbolak-balik. Sekarang cinta, besok lupa. Kemarin benci, sekarang rindu ingin ketemu. Dan karena, cinta yang berlebih-lebihan, jika cintanya tidak kesampaian, maka ia akan menemui kekecewaan. Berlebih-lebihan termasuk perbuatan yang dilarang, karena ia merupakan perbuatan setan.

Mengapa hati turus berubah-ubah? Sebab, hati merupakan muara dari segala tujuan. Jika sesuatu A mengenai hati dan berpengaruh kepadanya, maka dari arah lain ada pula sesuatu B mengenai hati yang bertolak belakang dengan sesuatu A, hingga hati menjadi berubah. Demikian juga, saat setan turun ke hati dan mengajaknya untuk memperturutkan keinginan nafsu, maka malaikat akan turun ke hati untuk menghalau setan dari hati. Kalau setan menarik hati untuk berbuat buruk, maka malaikat menarik hati untuk berbuat kebaikan. Karena itu, suatu waktu terjadi perebutan antara setan dan malaikat untuk menguasai hati. Hati penuh dengan sifat-sifat keburukan, jika mengikuti bisikan setan dan memperturutkan bisikan itu. Hati penuh dengan sifat-sifat yang baik, jika hati mengikuti bimbingan malaikat dan merealisasikan dalam perbuatan. Karena itu, hati selalu berubah-ubah.

Meskipun hati selalu berubah, ada hal yang tidak boleh berubah, yaitu ketaatan kepada Allah dan keimanan kepada-Nya. Iman dan taqwa jangan sampai berubah-ubah, karena keduanya pilar kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat kelak. Baik dan buruk, bahagia dan susah, pahala atau siksa, surga atau neraka bergantung pada keduanya. Saking begitu pentingnya, keduanya menjadi tolak ukur diterima atau ditolaknya amal perbuatan oleh Allah. Karena itu, Rasulullah saw selalu berdoa agar diberikan ketetapan hati untuk mentaati Allah.

 

“Wahai Zat Yang Memalingkan hati, palingkanlah hati kami

kepada ketaatan kepada-Mu!”

(HR. Muslim).

 

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1).

 

Firman Allah: “(Yaitu) di hari yang harta dan anak-anak tidak akan bermanfaat kecuali siapa yang datang mengharap Allah dengan membawa hati yang selamat.” (Asy-Syura: 88-89).

 

Keikhlasan harus tetap terjaga kualitasnya pada saat beramal. Jika ia rusak maka cedra amalnya. Ikhlas beramal karena Allah tidak boleh berubah, karena ia ruh ibadah. Tanpanya, sia-sia amalnya. Demikian juga, tetap berpedoman dengan al-qur’an dan as-sunnah. Ini tidak boleh berubah atau berpindah pada pedoman yang lain. Keduanya pelita hidup dan penuntun menuju surga Allah. Orang yang berpijak pada keduanya akan selamat di dunia dan di akhirat.

Akhirnya kita hanya bisa berusaha dan berharap, semoga Allah berkenan memberikan ketetapan iman, ketaqwaan, keikhlasan, dan berpedonan dengan al-qur’an dan as-sunnah. Karena dengan ketetapan hati pada hal-hal ini, merupakan modal awal untuk dapat selalu bersama Allah. Semoga Allah melindungi kita dari hati yang lalai, lupa, dan buta. Hingga kita dapat mengkap keagungan dan kebesaran Allah SWT

tujuan diri

Setelah sampai mengenal diri

Maka tercapai ketentraman hati.

La ilaha illalloh ucapan zahir

Bila mungkir menjadi kafir

Atas hakekat manusia lahir

Cari maknanya dibalik tabir.

Wujud Qidam didalam fana

Meng’isbatkan Alloh Al Baqa

Sholat da’im besar manfaatnya

Agar tercapai ketenangan jiwa.

Syekh Hamzah Al fansury.

Kajian mengenal diri sudah ada semenjak nabi terdahulu, kemudian disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW didalam berita Isro’Mi’roj. Perjalanan ini agar dapat dicontoh umat manusia, mereka yang berharap dapat sampai ke singgasana Alloh dan bertemu dengan Zat yang disembah. Tata cara demikian dimaksudkan agar umat manusia tertuntun dan terarah didalam pencarian kehadiran dirinya, maka hadis Nabi “Man Arofa Nafsahu, Faqod arofa Robbahu” sudah teruji dan terbukti kebenarannya, jalan inilah yang hendak ditapak tilasi kembali.

BAB. I

PENDAHULUAN

“Tiada seorang manusia dapat menerima bahasa Tuhan, kecuali dengan wahyu (ilham) atau dibalik tabir, atau diutusnya utusan, lalu dengan izinNya diwahyukan tentang apa yang dikehendakiNya, dan Dialah Maha Tinggi dan bijaksana,” (Asysyuuro, QS. 42:51)

“Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu” terambil dari sebuah hadis yang mengandung esensi kaum sufi mengaktualisasikan ke-Ilahi-an dari banyak ayat.

Hadis ini salah satu pendukung dari perjalanan tasawuf, Man arofa yaitu mengenal diri, maka seseorang akan sampai kepada pengenalan tentang kehadiran Alloh, sebab esensi Nur Alloh, Nur Muhammad, Nur Insan adalah Wujud Qidam dan Baqo, Wujud yang tidak terpisahkan oleh ruang dan waktu, karenanya pernyataan bahwa tidak ada selain “Alloh yang dapat mengenal Alloh”, hal demikian tidak dapat dicapai kecuali faqir melangkah dari bawah, yaitu dimulai dengan mengenal Roh Ku atau Nur Insan.

Inilah adab perjalanan spiritual, sebab alam imajinasi tidak akan terlindungi oleh awan “ma’na” kecuali perlindungan itu akan diberikan oleh yang bathin.

Perlindungan bathin adalah dari bathin yang terhampar di qolbu orang mu’min, disitu terbentang terowongan panjang yang tidak terlayani oleh transport modern, kecuali ditempuh dengan sarana spiritual sehingga mampu mengenal yang terindah dan tersimpan, yang mempunyai kemampuan sangat luar biasa, Inilah Roh Ku (Nur Insan) yang hadir bersama Nur Muhammad dan Nur Alloh. Jadi sangat tidak berakalnya manusia, kalau dia menempuh perjalanan spiritualnya keluar dari dirinya, dia melaksanakan syariat tanpa memasuki hakekat.

Kitab Suci tidak membenarkan pengikutnya bersilang selisih, kalimat tauhid tidak membenarkan pengikutnya bertengkar dan bermusuhan, sebab setiap pencari hakekat wujud yang sejati telah berada didalam dirinya. Karena bahasa Alloh adalah simbolis, disampaikan dengan kias mutasyabihat, maka yang mampu menerima sinyal itu adalah kaca mata bathin setiap insane.

Keterbukaan itu dapat menuntun kepada wujud realitas terakhir yang disebut Al-Haq.

Bukan hanya mengakui kata atau kalimat “Illah” atau Alloh dalam bentuk tulisan atau imajinasi ciptaan rekayasa umat manusia, akan tetapi “Iqro kedalam diri”.

Kemanapun umat-Nya hendak menghadap, dimanapun ia berada, sedang apa dan dalam keadaan bagaimanapun juga, tekadnya tidak lagi berubah, pendiriannya teguh, imannya menjadi kokoh.

Kemudahan silih berganti, kemanapun menghadapkan mukanya, maka disitulah wajah Alloh (Al-Baqoroh 2:115) demikianlah kebebasan hakekat telah diberikan kepada umat yang berkehendak menerimanya.

Menginsyafi serta membuktikan tentang adanya kehidupan spiritualisme, hanya ada pada umat manusia yang kritis didalam beragama, bahkan dizaman Nabi Ibrahim kehidupan spiritualis sudah berkembang dan dipegang teguh oleh mayoritas umat, meskipun agama belum ada, tetapi pengikutnya tunduk dan patuh, pasrah dan menyerah kepada Alloh didalam bahasa arab disebut “ISLAM”, keikhlasan didalam kehidupan, kejujuran berbuat itulah hakekat Islam, karena islam bertujuan kepada Alloh, pasrah kepada Nya, maka islam tidak dimonopoli oleh salah satu suku atau agama saja, begitu pula pengikut nabi-nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad S.A.W, yang benar-benar pasrahnya kepada Alloh, akan diterima kembali disisi Nya sesudah berpisah jasad dengan rohnya. Bagi perjalanan tasawuf hendaklah berusaha untuk mencapai tujuan kepada Alloh, bukan untuk bertengkar didalam perjalanan, dan tidak terpaku dengan titik koma bacaan, dan tulisan, Alloh tidak ada didalam bacaan atau tulisan, Alloh berada pada yang membaca dan yang menulis, apabila pelakunya mengerti tentang Alloh, itulah suatu tanda untuk sampai ketujuan. Oleh sebab itu tasawuf hendaklah berusaha membuka dan membedah penutup agar masuk menceburkan diri kedalam :

“Dia yang tiada berawal, Dia yang tiada berakhir, Dia yang berWujud, dan Dia yang lahir dan bathin.” Sebenarnya Alloh disetiap waktu, dimana saja mampu menampakkan diri-Nya kepada setiap umat manusia, tetapi kebanyakan umat manusia tertutup dan terhijab oleh penglihatannya, maka itulah yang menjadi penyebab utama kebutaan dan ketulian, penyebab itu pula yang hendak disingkirkan oleh tasawuf.

Pernahkah hatimu merasakan kekuatan mencintai

Engkau tersenyum meski hatimu terluka karena yakin ia milikmu,

Engkau menangis kala bahagia bersama karena yakin ia cintamu

Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka

Dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta

Pernahkah cinta memerahkan hati membutakan mata

Kepekatannya menutup mata hatimu memabukkanmu sesaat di nirwana

Dan kau tak bisa beralih dipeluk merdunya nyanyian bahagia semu

Padahal sesungguhnya hanya kehampaan yang mengisi sisi gelap hatimu

Itulah cinta karena manusia yang dibutakan nafsunya

Cinta adalah pesan agung Allah pada umat manusia

DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNYA di atas Arsy

Cinta dengan ketulusan hati mengalahkan amarah

Menuju kepatuhan pengabdian kepada Allah dan Rasulnya

Dan saat pena cinta Allah mewarnai melukis hatimu,

satu jam bersama serasa satu menit saja

Ketika engkau memiliki cinta yang diajarkan Allah

Kekasih menjadi lentera hati menerangi jalan menuju Illahi

Membawa ketundukan tulus pengabdian kepada Allah dan RasulNya

Namun saat cinta di hatimu dikendalikan dorongan nafsu manusia

Alirannya memekatkan darahmu membutakan mata hati dari kebenaran

Saat kamu merasakan agungnya cinta yang diajarkan Allah

Kekasih menjadi pembuktian pengabdian cinta tulusmu

Memelukmu dalam ibadah menuju samudra kekal kehidupan tanpa batas

Menjadi media amaliyah dan ketundukan tulus pengabdian kepada Allah

Itulah cinta yang melukis hati mewarnai kebahagiaan hakiki

Agungnya kepatuhan cinta Allah bisa ditemukan dikehidupan alam semesta

Seperti thawafnya gugusan bintang, bulan, bumi dan matahari pada sumbunya

Tak sedetikpun bergeser dari porosnya, keharmonisan berujung pada keabadian

Keharmonisan pada keabadian melalui kekasih yang mencintai

Karena Allah adalah kekasih Zat yang abadi

Cintailah kekasihmu setulusnya maka Allah akan mencintaimu

Karena Allah mengajarkan cinta tulus dan agung

Cinta yang mengalahkan Amarah menebarkan keharmonisan

Seperti ikhlas dan tulusnya cinta Rasul mengabdi pada Illahi

Itulah cinta tertinggi menuju kebahagiaan hakiki….::::))))

Rabb,..derai air mataku memohon.. izinkan aku memeluk kehangatan MahabbahMu,.. tautkan aku akan kerinduan pada firdausMu,.. sandingkan aku dalam kemuliaan KasihMu,.. Rabb, tuntun aku pada RidhaMu.. hingga kurasakan manisnya keyakinanku padaMu.. Illahi, begitu lezatnya hidangan keikhlasan ini, meski derita membalut di sekujur tubuhku.. ..jika saja tak ku rasakan keterpurukan, kesengsaraan, pengkhianatan, kehilangan, cacian & hinaan.. mungkin saat ini takkan kurasakan betapa nikmatnya ketersimpuhanku pada belai lembutMu.. duhai Maha Pengasih dan Maha Penyayang.. hanya CintaMu yang ku damba, Yaa Rahiim.. yang takkan pernah menelantarkanku..

Sebagai Sang Khalik, Allah swt memiliki sifat-sifat yang tentunya tidak sama dengan sifat yang dimiliki oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Mengenal sifat-sifat Allah dapat meningkatkan keimanan kita. Seseorang yang mengaku mengenal dan meyakini Allah itu ada namun ia tidak mengenal sifat Allah, maka ia perlu lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Sifat-sifat Allah yang wajib kita imani ada 20, diantaranya:
1.

Wujud

Sifat Allah yang pertama yaitu Wujud. Wujud artinya ada. Umat muslim yang beriman meyakini bahwa Allah swt ada. Untuk itulah kita tidak boleh meragukan atau mempertanyakan keberadaanNya. Keimanan seseorang akan membuatnya dapat berpikir dengan akal sehat bahwa alam semesta beserta isinya ada karna Allah yang menciptakannya.
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. “ (QS. Al-A’raf: 54)
2.

Qidam

Qidam berarti dahulu atau awal. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt sebagai Pencipta lebih dulu ada daripada semesta alam dan isinya yang Ia ciptakan.
“Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. “ (QS. Al-Hadid: 3)
3.

Baqa’

Sifat Allah Baqa’ yaitu kekal. Manusia, hewan ,tumbuhan, dan makhluk lainnya selain Allah akan mati dan hancur. Kita akan kembali kepadaNya dan itu pasti. Hanya Allah lah yang kekal.
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. “ (QS. Ar-Rahman: 26-27)
4.

Mukhalafatu lil hawadits

Sifat Allah ini artinya adalah Allah berbeda dengan ciptaanNya. Itulah keistimewaan dan Keagungan Allah swt.
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “ (QS. Asy-Syura: 11)
5.

Qiyamuhu binafsihi

Sifat Allah selanjutnya yaitu Qiyamuhu binafsihi, yang artinya Allah berdiri sendiri. Allah menciptakan alam semesta, membuat takdir, menghadirkan surga dan neraka, dan lain sebagainya, tanpa bantuan makhluk apapun. Berbeda dengan manusia yang sangat lemah, pastinya membutuhkan satu sama lain.
“ALLAH, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. “ (QS. Ali-Imran: 2)
6.

Wahdaniyyah

Sifat Allah Wahdaniyyah yaitu esa atau tunggal. Hal ini sesuai dengan kalimat syahadat, Asyhadu alaa ilaa ha illallah, Tiada Tuhan selain Allah.
“Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain ALLAH, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci ALLAH yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. “ (QS. Al-Anbiya: 22)
7.

Qudrat

Qudrat adalah berkuasa. Sifat Allah ini berarti Allah berkuasa atas segala yang ada atau yang telah Ia ciptakan. Kekuasaan Allah sangat berbeda dengan kekuasaan manusia di dunia. Allah memiliki kuasa terhadap hidup dan mati segala makhluk. Kekuasaan Allah itu sungguh besar dan tidak terbatas, sedangkan kekuasaan manusia di dunia dapat hilang atas kuasa Allah swt.
“Sesungguhnya ALLAH berkuasa atas segala sesuatu. “ (QS. Al-Baqarah: 20)
8.

Iradat

Iradat berarti berkehendak. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt memiliki kehendak atas semua ciptaanNya. Bila Allah telah berkehendak terhadap takdir atau nasib seseorang, maka ia takkan dapat mengelak atau menolaknya. Manusia hanya dapat berusaha dan berdoa, namun Allah lah yang menentukan. Kehendak Allah ini juga atas kemauan Allah tanpa ada campur tangan dari manusia atau makhluk lainnya.
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud: 107).
9.

Ilmu

Ilmu artinya mengetahui. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, meskipun pada hal yang tidak terlihat. Tiada yang luput dari penglihatan Allah.
“Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu akan memberitahukan kepada ALLAH tentang agamamu (keyakinanmu), padahal ALLAH mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hujurât: 16)
10.

Hayat

Sifat Allah Hayat atau Hidup. Namun hidupnya Allah tidak seperti manusia, karena Allah yang menghidupkan manusia. Manusia bisa mati, Allah tidak mati, Ia akan hidup terus selama-lamanya.
“Allah tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255)
11.

Sam’un

Sifat Allah Sam’un atau mendengar. Allah selalu mendengar semua hal yang diucapkan manusia, meskipun ia berbicara dengan halusnya atau tidak terdengar sama sekali. Pendengaran Allah tidak terbatas dan tidak akan pernah sirna.
“Dan Allah-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS. Al-Maidah: 76)
12.

Basar

Basar artinya melihat. Penglihatan Allah juga tidak terbatas. Ia dapat melihat semua yang kita lakukan meskipun kita melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Allah mampu melihat, naik yang besar maupun yang kecil, yang nyata maupun kasat mata. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah Maha Sempurna.
“Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al-Hujurat: 18)
13.

Kalam

Kalam artinya berfirman. Sifat Allah ini dapat kita lihat dengan adanya Al Quran sebagai petunjuk yang benar bagi manusia di dunia. Al Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. “ (QS. An-Nisa: 164)
14.

Qadirun

Sifat Allah ini berarti Allah adalah Dzat yang Maha Berkuasa. Allah tidak lemah, Ia berkuasa penuh atas seluruh makhluk dan ciptaanNya.
“Sesungguhnya Alllah berkuasa atas segala sesuatu. “ (QS. Al Baqarah: 20).
15.

Muridun

Allah memiliki sifat Muridun, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Berkehendak. Ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki. “ (QS.Hud: 107).
16.

‘Alimun

Sifat Allah ‘Alimun, yaitu Dzat Yang Maha Mengetahui. Allah mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Allah pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.
“Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu. “ (QS. An Nisa’: 176).
17.

Hayyun

Allah adalah Dzat Yang Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.
“Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati. “ (QS. Al Furqon: 58).
18.

Sami’un

Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar. Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan atau doa hambaNya.
“Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. “ (QS. Al Baqoroh: 256).
19.

Basirun

Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat. Sifat Allah ini tidak terbatas seperti halnya penglihatan manusia. Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.
“Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al Hujurat: 18).
20.

Mutakallimun
Sifat Allah ini berarti Yang Berbicara. Allah tidak bisu, Ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al Quran. Bila Al Quran menjadi pedoman hidup kita, maka kita telah patuh dan tunduk

Allah menjelaskan tentang dirinya dari ayat satu sampai ayat empat bahkan sampai ayat-ayat barikutnya, pada bagian akhir ayat empat “dan dia (Allah) bersamamu dimanapun kamu berada,” begitulah kenyataannya yang seharusnya orang-orang beriman menyadarinya sebagai pendekatan Allah dengan manusia baik dalam maiyatul ilm, pendekatan Allah dalam artian pengetahuan Allah mencakup seluruh aktivitas kita, tidak ada bagi Allah yang tersembunyi, atau maiyatul himayah, ataupun maiyatunnasr, kebersamaan Allah dalam aritian perlindungan dan rahmatNya, bantuannya pada orang-orang yang beriman dan Allah sangat sayang pada orang-orang yang beriman.

Pengetahuan akan maiyah Allah ini akan membangkitkan kesadaran kita bahwa Allah mengetahui apa yang kita lakukan dan Allah selalu dekat dengan kita, kalau kesadaran ini ada dalam hati dan pikiran kita maka akan melahirkan sikap ihsan dalam segala perbuatan kita, jangankan kesadaran dan taunya kita bahwa kita dilihat Allah yang ringan saja misalnya seseorang ketika dibelakangnya ada ustadznya maka ibadahnya akan bertambah baik, akhlaq dan prilakunya bertambah sopan, malu rasanya kalu dilihat kiainya belum nampak baik ibadahnya belum nampak dewasa prilakunya, apalagi kesadaran itu dirinya dilihat Allah swt.

Sikap ihsan ini diisyaratkan Rasululllah saw, dalam hadits Jibril seperti dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya “Ketika Rasulullah ditanya tentang ihsan oleh Jibril maka Rasulullah menjawab ‘kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatnya dan jika kamu tidak melihatnya sesungguhnya Allah meliahatmu,” sebenarnya manusia tidak bias meliaht Allah, seperti yang dikatakan Allah kepada Nabi Musa AS, ‘selamamnya didunia kamu tidak akan meliahtku’. Tapi manusia harus yakin bahwa Allah melihatnya kesadaran seseorang ini akan melahirkan sikap ihsan dalam prilaku dan perbuatannya dan Hendaknya seorang Mukmin memiliki rasa malu dan rasa itu melekat dirinya, karena Allah selalu bersamanya.

Dijelaskan dalam oleh Ibnu Katsir, kata Umar ada seseorang yang datang kepada Rasulullah meminta petunjuk, “bekalilah aku dengan kalimat hikmah yang akan kujadikan sebagai pegangan hidupku,’ lalu Rasul menjawabnya, ‘malulah kamu kepada Allah seperti seseorang malu dari keluarganya yang soleh dan memperhatikannya tidak pernah lepas,” Karena kita sudah cendrung pada pola pikir materialis biasanya kita malu kepada manusia tapi ketika ada Allah dan malaikat yang mendampingi kita, tidak merasa malu, manusia walau tak pernah lepas disaat tertantu pasti jauh dari kita, tapi Allah selalu bersama kita dimanapun berada dan Allah maha melihat dan mengetahui.

Ada sutu hadits marfu’ dari Abdullah bin Alwiyah Al Amilin, “Ada tiga hal yang barang siapa bisa merelaisaikannya dia akan merasakan nikmatnya beribadah yaitu selalu beribadah hanya kepada Allah, selalu berinfaq dan selalu mensucikan dirinya” orang bisa melakukan iu kalau dia merasa diperhatikan Allah.

Satu lagi hadits yang harus menjadi pegangan hidup kita, dari Ubadah bin Shomit katanya Rasulullah bersabda “sesunguhnya iman yang paling afdhol kamu sadar bahwa Allah selalu beersamamu dimanapun kamu berada”

About these ads

Komentar ditutup.