HUKUM MENINGGALKAN SHOLAT Penulis: Muhammad Daeng Sanu

HUKUM MENINGGALKAN SHOLAT

Penulis: Muhammad Daeng Sanu

Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, berangkat dari dalil hukum orang yang meninggal sholat. Perbedaan para ulama sebenarnya adalah perbedaan mengenai dikotomi apakah sholat fardhu termasuk perkara ashlul iman atau iman wajib. Sebab jika dirunut, dalam penjabaran rukun islam bahwa syahadatain teletak pada posisi awal, lalu yang ke dua sholat. Untuk mengetahui hukum tentang orang yang meninggalkan sholat, maka harus dilihat dalam tiga kondisi.

SATU: Pendapat Ulama yang mengkafirkan dilihat dalam tiga kondisi sbb: a). Apabila seseorang (sengaja, pen) mengingkari kewajibannya, maka ia dikafirkan secara ijma’. Demikian juga, jika ia meningkari kewajiban sholat walau ia masih mengerjakannya sebab ia mengingkari hukum yang telah ditetapkan oleh Alloh dan termasuk mendustakan ayat-ayat Alloh. (Majmu’ Fatawa xx/96/40 dan Majmu’, Imam an-Nawawi: III/16, al-Mughni, Ibnu Qudamah: III/351.

b). Apabila seseorang enggan (tidak mau, pen) mengerjakan sholat, kekafirannya tidak diragukan lagi. (Majmu’ Fatawa: XX/97-98) Kondisi orang ini masuk dalam ayat pada surat Ghafir: 60. Sekalipun ayat ini untuk orang yang angkuh, tetapi dapat digolongkan bagi orang yang enggan mengerjakan ibadah. (Vonis Kafir; Mas’ud Izzul Mujahid, Lc. Hlm.88).

c). Melecehkan Sholat serta meremehkannya. Imam Ahmad mengafirkan orang jenis ini. (Nawqid: hlm. 453). Orang yang meremehkan syariat Islam. Ulama telah bersepakat bahwa siapa saja yang melecehkan Islam dan nilai-nilainya maka dia Kafir. (Nihayatul Muhtaj; VIII/413).

d). Orang yang dibunuh karena meinggalkan sholat secara terus menerus setelah sebelumnya dimintai untuk bertaubat dan diberi tenggang waktu untuk sholat. Menurut Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim bahwa orang seperti ini pada hakikatnya telah mengingkari kewajiban sholat dan pengingkarannya ini telah mendarah daging dalam keyakinannya. Sebab tidak ada orang yang menyerahkan nyawanya kecuali karena sebuah keyakinan yang telah mengakar dalam dirinya. (Majmu’ Fatawa III/48 dan Kitabus Sholah, Ibnu Qoyyim hlm. 62-63).

DUA: Meninggalkan sholat yang diperselisihkan kekafirannya. Misalnya: Meninggalkan sholat karena rasa Malas. Berkenaan dengan hal ini, ada beberapa pendapat ulama yang bisa kita simak:

a). Pendapat Yang Mengafirkan. Menurut Imam al- Marwazi, pendapat ini merupakan madzhab jumhur ulama. (Tahdzimi Qodri Sholah, III/14. –Maktabah Asy-Syamilah. Ibnu Hazm, Umar bin Khoththob, Ibnu Mas’ud dan mayoritas shahabat Nabi serta tabi’in berpendapat demikian. (A-l-Muhalla; II/326-327). Diantara dalil yang dijadikan landasan adalah, hadits-hadits berikut: “Sesunguguhnya sekat yang membatasi antara seorang muslim dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan sholat” (HR. Muslim). “Ikatan yang membedakan antara kami (nabi dan sahahabat, pen) dan mereka (kafir, musyrik, pen) adalah sholat. Siapa saja yang meninggalkan sholat maka dia kafir.’ (HR. Tirmidzi). Abdullah bin Syaqiq al –‘Uqaili mengatakan; “Seluruh shahabat Nabi berpendapat bahwa seluruh ibadah jika ditinggalkan tidak menyebabkan kafir kecuali sholat.” (HR. Tirmidzi).

b). Pendapat Yang Tidak Mengafirkan. Kelompoki ini tidak memiliki dalil yang kuat, melainkan menagacu pada keumuman ayat berikut; Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’: 116). Nabi bersabda; “Darah seorang muslim yang telah bersyahadat, tidak ada ilah yang haq diibadahi selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Allah, tidak halal untuk ditumpahkan darahnya kecuali karena Tiga hal: Membunuh jiwa (qishosh), orang yang sudah menikah yang berzina (rajam), dan orang yang meninggalkan agamanya, yang memisahkan diri dari jama’ah.’ (Bukhori-Muslim). Syeikh DR. Abdul Aziz al-Lathif dalam desertasinya dan Syeikh Abu Basyir al-Thartasi merajihkan pendapat yang mengatasnamakan bahwa orang yang meninggalkan shoat karena malas telah kafir besar (keluar dari muillah). (Nawaqidhul Iman, hlm. 497, dan Hukmu Tarikh Sholah, hlm. 16). Lihat juga surat Maryam ayat: 59 sbb: ” Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” Yang dimaksud meniyia-nyiakan sholat dalam ayat ini adalah Meninggalkannya dan tidak mengerjakan sholat sama sekali. (jadi yang dimaksud di sini bukan sekali dua meninggalkan sholat, tetapi yang dimaksud adalah orang yang meninggalkan sholat sama sekali. Kecuali jika pelakunya meyakini dengan ilmu dan kesadaran.

Jadi walaupun satu kali meninggalkan sholat maka ia dihukumi kafir, sampai ia taubat kepada Alloh, pen). Para mufassir seperti Muhammad bin Maslamah, Zaid bin Aslam, dan Assuday sepakat dalam pendapat tersebut. Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Abu Ja’far Ath-Thobariy. (Tafsir ath-Thobariy).

TIGA: Meninggalkan sholat yang tidak dikafirkan, yaitu meninggalkan sholat karena udzur syar’i. Misalnya, wanita yang haidh dan nifas, seorang yang baru masuk islam dan belum mengetahui kewajiban sholat.

Contoh kasus: Ada seorang pemuda yahudi datang menemui Nabi. Pemuda ini sangat respect dengan dakwah Nabi, bahkan ia sangat ingin bergabung membela Nabi atas kezaliman kaumnya. Lalu pemuda ini bertanya: Apa syaratnya saya bisa membantu Anda? Nabi bersabda: Masuklah terlebih dahulu ke dalam Islam. Setelah nabi mengislamkannya di Siang hari, lalu pada sore harinya ia syahid dalam sebuah peperangan bersama Nabi. Ketahuilah, Pemuda ini belum sama sekali mengerjakan sholat, melainkan hanya bermodalkan syahadat lalu dia syahid. Dari sini, tampak urgensi syahadat,sebagai penentu keimanan dan keislaman seseorang, sebaliknya bila ia batal maka batallah keislaman seseorang. Inilah diantara paparan tentang salah satu pembatal iman. Bahkan dalam Kasyful Iqna ‘An Matanil ‘Iqna’ Al-Bahuthil ‘Iqna, Al Bahuthi: VI/136-141 dan Addurar as-Sanniyah; VIII/186 menyebutkan: Ada yang menyebutkan bahwa pembatal Iman itu mencapai jumlah 400 perkara.

Wallohua’lam. Semoga penjelasan ini bermanfaat untuk kita semua, aamiin Note: Mohon bantuannya untuk menyebarluaskan artikel ini. Raihlah amal sholih, demi kebahagiaan kita kelak di akhirat. Aamiin.

About these ads

Komentar ditutup.