.Qanaah dan zuhud pada dunia by. Dewi Yana

Jalan Dakwah Bersama Dewi Yana ·

Kehidupan era globalisasi, memang seringkali menyeret manusia untuk bergerak cepat dalam menghadapi berbagai macam perubahan yang sulit diantisipasi. Bombatisnya iklan media yang menawarkan gaya hidup yang lavish, membuat sebagian orang mau tdk mau, dengan atau tanpa sadar mengikuti trend yang sedang berlaku.

Bahkan kadang ada yang memaksakan diri untuk meraihnya dengan menghalalkan segala cara.Qanaah dan zuhud pada dunia adalah cara mengatasinya, kuatkan iman kita, dekatkan diri pada Allah, maka kita akan temui kebahagiaan sejati Kualitas seorang manusia dalam Islam, bukan dinilai dari seberapa banyak kekayaan dan barang-barang bagus yg dimilikinya, tapi dari ketakwaannya pada Allah SWT.
Tapi ada dari kita yang kadang melupakan hal tsb, sehingga ada dari kita yang lebih senang mengumbar kekayaannya untuk memuaskan egonya pada barang2 mewah, membeli apa saja yang diinginkan meski barang itu sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan

Kehidupan era globalisasi, memang seringkali menyeret manusia untuk bergerak cepat dlm menghadapi berbagai macam perubahan yang sulit diantisipasi. Bombatisnya iklan media yang menawarkan gaya hidup yang lavish, membuat sebagian orang mau tidak mau, dengan atau tanpa sadar mengikuti trend yang sedang berlaku. Bahkan kadang ada yang memaksakan diri untuk meraihnya dengan menghalalkan segala cara. Qanaah dan zuhud pada dunia adalah cara mengatasinya, kuatkan iman kita, dekatkan diri pada Allah, maka kita akan temui kebahagiaan sejati

Gaya konsumtif yang berkembang saat ini, membuat banyak orang menunjukkan kesuksesannya dengan kepemilikan harta benda. Kadang mereka berperilaku ekstrim dengan tidak segan-segan meminjam uang hanya untuk membeli barang mewah yang diinginkannya, untuk kesenangan sesaat dan menampakkan dirinya lebih “berpunya” dari orang lain.

Semua itu bisa kita atasi dengan sifat qonaah dan zuhud pada dunia. Sikap qana’ah didefinisikan sebagai sikap merasa cukup, ridha atau puas atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah SWT. Rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang Qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT.

Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tentram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak. Qana’ah juga berfungsi sebagai stabilisator hidup seorang muslim. Dikatakan stabilisator, karena seorang muslim yang mempunyai sifat Qana’ah akan selalu berlapang dada, berhati tentram, berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakekatnya kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya. Bila kita perhatikan banyak orang yang lahirnya nampak berkecukupan bahkan mewah, namun hatinya penuh diliputi keserakahan dan kesengsaraan, sebaliknya banyak orang yang sepintas lalu seperti kekurangan namun hidupnya tenang, penuh kegembiraan, bahkan masih sanggup mengeluarkan sebagian hartanya/sedekah. Dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda, “Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati”. (HR.Bukhari dan Muslim)

Orang yang zuhud itu adalah orang yang mempunyai harta benda akan tetapi dia menyikapinya dengan lapang dada walaupun dia mampu untuk menikmati hartanya itu tanpa suatu kekurangan apapun, namun dia lebih memilih bersikap waspada, hatinya tidak ikut condong ke harta, hatinya tidak terlalu terikat dengan harta, karena dia khawatir sikap condongnya itu akan membawanya pada cinta dunia. Rasulullah saw bersabda, ” Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah dalam setiap amal kebaikan ” (HR Muslim). Kuat secara fisik, mental, harta, dsb. Status kaya bukanlah hal yang harus dihindari. Justru karena itulah, orang kaya bisa memberi sedekah yang jauh lebih banyak daripada orang yang belum kaya

BERIKUT BEBERAPA CARA YANG INSYA ALLAH BISA SEBAGAI JALAN UNTUK KITA QANAAH:

1. MEMPERKUAT KEIMANAN KEPADA ALLAH SWT
Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah SWT karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Rasulullah bersabda: “Tidaklah kekayaan itu dengan banyak harta, tetapi sesungguhnya kekayaan itu ialah kekayaan jiwa.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

2. REZEKI, MAUT, JODOH, ALLAH YANG MENENTUKAN
Seorang muslim yakin bahwa rezekinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah saw bersabda, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rezekinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad). Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja untuk menjemput rezekinya, yang telah ditentukan Allah SWT

3. MEMIKIRKAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN YANG AGUNG.
a) “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)
b) Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Yunus:107)
c) “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)
d) “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaq:7)

.4. MEMAHAMI HIKMAH PERBEDAAN REZEKI
Di antara hikmah Allah SWT menentukan perbedaan rezeki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling mengisi, membutuhkan, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberikan pelayanan dan jasa.
a) Allah SWT berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf:32).
b) “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..” (QS. Al An’am 165)

5. BANYAK MEMOHON QANA’AH KEPADA ALLAH
a) Rasulullah saw adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu wata´ala agar diberikan qana’ah. Beliau bedoa, “Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)
b) Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah SWTkecuali sekedar cukup untuk kehidu pan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

6. MELIHAT KE BAWAH DALAM HAL DUNIA
Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi saw “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.Bukhari dan Muslim)

8. MENYADARI BERATNYA TANGGUNG JAWAB HARTA
Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemiliknya jika dia tidak mendapatkannya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya untuk hal yang baik juga. Rasulullah saw berikut ini: Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad SAW. bahwa beliau bersabda, ”Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.” (HR. Turmudzi)

Sahabat2 semua, seperti bisanya, setiap sabtu dan minggu saya tidak update fanspage, Insya Allah, senin nanti saya akan update kembali.

Dewi Yana

About these ads

Komentar ditutup.