Metode pendidikan anak dalam kandungan by .Kholil As’adi

Kholil As’adi
Metode pendidikan anak dalam
kandungan

Mendidik anak dalam kandungan bukan berarti
mendidik anak tersebut agar pandai terhadap
apa yang diajarkan oleh orang tuanya.
Melainkan sekadar memberikan stimulus yang
diproses secara edukatif kepada anak dalam
kandungan melalui ibunya.
Dr. Baihaqi menjelaskan bahwa hakikat
metode mendidik anak dalam kandungan
adalah dengan cara sederhana, yaitu dengan
memberikan stimulasi atau sensasi. Cara
sederhana ini kemudian diangkat menjadi
metode yang dipikir, disusun dan diarahkan
melalui pembinaan lingkungan edukatif yang
islami untuk ibunya, ayahnya dan sekaligus
(anggota) keluarga—inti—yang lainnya.
Rangsangan-rangsangan dengan metode
tersebut pada akhirnya diharapkan dapat
memicu respons atau sensasi balik dari anak
dalam kandungannya.
Berikut ini, ada beberapa metode mendidik
anak dalam kandungan yang sudah
diaplikasikan dalam tatanan budaya kaum
muslimin dan mukminin masa lampau. Dan,
hasil yang diperoleh dari praktek pendidikan
mereka cukup menggembirakan, antara lain
sebagai berikut.

1. Metode Doa
Doa merupakan insrtumen yang sangat
ampuh untuk mengantarkan kesuksesan
sebuah perbuatan. Hal ini dikarenakan segala
sesuatu upaya pada akhirnya hanya Allahlah
yang berhak menentukan hasilnya. Bagi
seorang muslim, berdoa berarti senantiasa
menumbuhkan semangat dan optimisme untuk
meraih cita-cita dan pada saat yang
bersamaan membuka pintu hati untuk
menggantungkan sepenuh hati akan sebuah
akhir yang baik di sisi Allah. Dengan doa
seseorang tidak saja akan terobsesi dan
tersugesti dengan doanya, melainkan juga
akan termotivasi menjadi seorang yang kuat,
penuh optimistis dan memiliki harapan yang
pasti, dan mampu melakukan aktivitas-aktivitas
yang baik. Doa telah ditegaskan dalam sebuah
hadits Nabawiyyah sebagai senjata bagi orang-
orang yang beriman, ad-du’a shilaahul
mu’minin.
Oleh karena itu, adalah relevan sekali bila
doa ini dijadikan metode utama mendidik anak
dalam kandungan. Para nabi dan orang-orang
saleh terdahulu banyak melakukan metode doa
ini, seperti Nabi Ibrahim a.s. (ash-Shaffaat:
100 dan al-Furqaan: 74), keluarga Imran (Ali
Imran: 38), Nabi Zakariya a.s. (al-Anbiyaa’:
89 dan Maryam: 5), Nabi Nuh a.s. (Nuh: 28),
dan lain-lainnya. Metode doa ini dilakukan
pada semua tahapan, tahap zigot, embrio, dan
fetus. Dan, untuk tahapan fetus ada beberapa
tambahan, yaitu saat si anak berada dalam
kandungan hendaknya diikut sertakan
melakukan berdoa secara bersama-sama
dengan ibunya atau ayahnya.

2. Metode Ibadah
Segala bentuk ibadah, mahdhah dan ghair
mahdhah, wajib dan sunnah, seperti ibadah
shalat, shaum (puasa), haji, zakat, dan lain-
lainnya dapat dijadikan metode untuk mendidik
anak dalam kandungan. Besar sekali pengaruh
yang dilakukan ibu dengan melakukan metode-
metode ibadah ini bagi anak dalam
kandungannya, selain melatih kebiasaan-
kebiasaan aplikasi kegiatan ibadah, juga akan
menguatkan mental, spiritual, dan keimanan
anak setelah nanti lahir, tumbuh, dan
berkembang dewasa. Hal ini terbukti, misalnya
dalam tradisi masyarakat primitif, mereka
seringkali melakukan acara-acara ritual dalam
rangka menyambut kehamilan putrinya, dengan
berbagai aktivitas ritual, menyanyi, menari,
dan upacara-upacara lainnya. Kemudian, bila
anak dalam kandungan telah lahir, maka anak
tersebut menjadi sensitif dan terlatih (peka)
dan sangat menyukai ragam aktivitas tersebut,
di mana anak-anak tersebut telah mengalami
kegiatan ritual tersebut sebelumnya, sewaktu
ia masih dalam kandungan ibunya.Menerapkan
metode ini tidak terlalu sulit, hanya saja si ibu
harus lebih kreatif, inovatif, dan sungguh-
sungguh rela mengikutsertakan segala aktivitas
ibadahnya dan anak dalam kandungannya
secara bersama-sama, dengan suatu teknik
kombinasi yang merangkaikan antara ucapan,
sensasi, dan perbuatan konkret si ibu.
Menjalankan program pendidikan dengan
metode ini, hendaknya disesuaikan dengan
tingkatan perkembangan anak dalam
kandungan. Ada tiga tahapan, antara lain
sebagai berikut.
Pada periode pembentukan zigot, yaitu
melakukan shalat hajat dan zikir serta
dihubungkan dengan doa-doa tertentu.
Pada periode pembentukan embrio,
yaitu sama dengan tahapan pertama.
Pada periode fetus, periode inilah yang
lebih konkret. Artinya, segala aktivitas ibadah
si ibu harus menggabungkan diri dengan anak
dalam kandungannya. Misalnya, si ibu akan
melakukan shalat magrib. Kemudian si ibu
berkata, “Hai Nak … mari kita shalat!” sambil
mengajak dan menepuk atau mengusap-usap
perutnya.

3. Metode Membaca dan Menghafal
a. Metode Membaca
Membaca merupakan salah satu cara yang
paling utama untuk memperoleh berbagai
informasi penting dan ilmu pengetahuan. Anak
dalam kandungan pada usia 20 minggu (5
bulan) lebih sudah bisa menyerap informasi
melalui pengalaman-pengalaman stimulasi
atau sensasi yang diberikan ibunya. Namun
demikian, tingkatannya masih sangat mendasar
dan sederhana. Jika dikatakan kepada anak
dalam kandungan sebuah kata “tepuk”, sambil
melakukan sensasi kepadanya, maka ia akan
mampu mendengarkan dan menyerap
informasi tersebut dengan tingkat penerimaan
bunyi “t-e-p-u- dan –k”.
Dengan demikian, bila si ibu membacakan
suatu informasi ilmu pengetahuan dengan niat
ibadah yang dilanjutkan dengan mengeraskan
volume suara sebenarnya, secara sadar si ibu
telah melakukan pengkondisian untuk anak
dalam kandungannya terlibat. Terlebih lagi bila
si ibu memahami segala yang dibacanya,
mengekspresikan bacaan tersebut dengan
intonasi yang khas sesuai dengan alur cerita,
maka sudah barang tentu si anak dalam
kandungan hanya akan terangsang pada
kondisi ilmiah tersebut. Sungguh aktivitas ini
pun akan menjadi kegiatan yang penuh
kehangatan sekaligus menyenangkan bagi
hubungan ibu dan anak.

b. Metode Menghafal
Metode ini secara teknis sama dengan
metode membaca. Letak perbedaanya
hanyalah pada konsentrasi bidang bacaan atau
bidang studi yang ditekuni dan dihafal. Jika si
Ibu hendak menghafal suatu bidang ilmu,
hendaklah ia mengulang-ulang bacaannya
hingga hafal betul. Cara yang menghafal yang
lainnya bisa juga dilakukan dengan bantuan
visualisasi kata yang akan di hafal, bisa juga
dengan gerakan yang membantu mengingat
kata tersebut atau dengan benda yang dapat
membantu mengingatkan si ibu kata tersebut
sambil tetap melibatkan bayi dalam
kandungannya. Misalnya, “Nak, mari kita
menghafal Al-Qur?an”, si ibu lalu menepuk
perutnya dan langsung membacakan ayat-ayat
Al-Qur?an dengan berulang-ulang kali hingga
hafal betul. Tentunya, praktek ini telah
didahului dengan niat melaksanakan aktivitas
(menghafalnya) bersama-sama antara si ibu
dan bayinya, hingga kelak nanti si anak akan
sama terlibat mendapatkan kemampuan
menghafal seperti ibunya.

4. Metode Zikir
Zikir adalah aktivitas sadar pada setiap
waktu atau sewaktu-waktu. Aktivitas ini suatu
yang wajib bagi setiap orang-orang mukmin,
yang berpegang teguh pada tali agama Allah.
Oleh karena itu, seorang ibu (muslimah)
sebaiknya memasukkan kegiatan ini dalam
agenda program pendidikan anak dalam
kandungannya. Sebagaimana kita ketahui,
metode zikir itu sendiri dapat berupa zikir
dalam arti umum atau khusus.
Zikir umum berarti ia waspada dan ingat
bahwa ia berstatus sebagai hamba Allah di
mana setiap kegiatannya tiada lain adalah
pengabdian diri kepada Allah semata dalam
keseluruhan waktunya. Ia senantiasa
menumbuhkan kesadaran untuk menyandarkan
hidup dan kehidupannya dalam naungan Allah,
menolak segala hal yang bukan dari pemberian
Allah swt.. Termasuk di dalamnya adalah
penolakan dalam hal melakukan tindakan yang
menyimpang dari jalan Allah swt.. Dengan
bekal kesadaran semacam ini, si ibu hamil
akan berupaya keras untuk melibatkan anak
dalam kandungannya secara terus-menerus
sepanjang ia terjaga.
Kemudian zikir secara khusus berarti ia
melakukan zikir khusus, seperti dengan lafal-
lafal khusus, tahmid, tahlil, takbir, doa-doa
istighatsah, istighfar, dan zikir-zikir lainnya
yang dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan
kondisi yang menyertainya. Cara melakukan
dengan metode ini sangat mudah, yaitu tatkala
sadar, ingat, dan berzikir kepada Allah swt.,
usaplah perut si ibu sambil mengatakan
kepada anak dalam kandungannya, “Nak, mari
berzikir.… Subhanallah wal hamdu lillah wala
illahaillah wallahu Akbar! Atau membacakan
kalimat-kalimat thayyibah lainnya sambil terus
melibatkan aktivitas zikir tersebut dengan anak
dalam kandungannya.

5. Metode Instruktif
Metode ini dimaksudkan tidak saja
menyuruh menginstruksi anak dalam
kandungan melakukan aktivitas sebagaimana
yang diserukan, tetapi juga untuk memberi
instruksi kepada bayi melakukan sesuatu
perbuatan yang lebih kreatif dan mandiri.
Metode ini sangat bagus sekali, terutama
untuk memberikan tekanan pada anak dalam
kandungan untuk lebih aktif dan kreatif,
bahkan mampu melakukan tindakan-tindakan
instruktif lainnya penuh dengan ketaatan
terhadap orang tuanya. Metode ini bersifat
luwes, bisa digunakan ke berbagai langkah
pendidikan dan bagi si ibu lebih mudah untuk
menggunakan metode ini.

6. Metode Dialog
Metode ini bisa disebut sebagai metode
interaktif antara anak dalam kandungan dan
orang-orang di luar rahim, seperti ibu, ayah,
saudara-saudara bayi, dan atau anggota
keluarga lainnya. Dengan metode ini,
diharapkan seluruh unsur anggota keluarga
dapat dilibatkan untuk melakukan interaksi,
yakni menjalin dan mengajak berkomunikasi
secara dialogis dengan anak dalam
kandungannya. Metode ini sangat bermanfaat
sekali bagi sang bayi, karena selain dapat
berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik
dan saling mengenal dengan mereka yang ada
di luar rahim. Jauh lebih dari itu, sang bayi
akan tumbuh dan berkembang akan menjadi
anak yang penuh percaya diri dan merasakan
pertalian rasa cinta, kasih dan sayang dengan
mereka.

7. Metode Aktivitas Bersama
Metode ini dimaksudkan sebagai suatu cara
di mana si ibu setiap langkah dan tindakannya
hendaklah mengikutsertakan dan megajak anak
dalam kandungan bersama-sama untuk
beraktivitas juga. Misalnya saja, seperti apa
yang ucapkan si ibu kepada bayinya, sambil si
ibu melakukan tindakan-tindakan normal
alamiah.
Metode aktivitas bersama ini menekankan
pada kegiatan yang mengajak anak dalam
kandungan sesuai dengan kata-kata yang
dikondisikan dengan kegiatan alamiah ibunya,
kemudian secara bersama-sama (ibu dan bayi
pralahir) melakukan perbuatan yang dilakukan
ibunya, seperti amal saleh, ibadah-ibadah,
atau aktivitas lainnya.
Metode ini lebih fleksibel dan efektif,
bahkan lebih mudah diterapkan di setiap
keadaan dan waktu, terutama bagi seorang ibu
muslimah penggunaan metode ini sangat
praktis dan efisien. Yakni apa saja yang
dilakukan oleh si ibu muslimah bisa menautkan
aktivitasnya kepada bayinya, sambil
mengajaknya bersama-sama berbuat. Tentu
saja ucapan dan ajakan tersebut bukan hal
sia-sia, melainkan lebih bersifat edukatif,
bernuansa orientatif lingkungan yang baik dan
bermanfaat serta menguatkan sendi-sendi
tauhidiyah dan syar’iyah, seperti ajakan ibadah
shalat, qira’atul qur’an, wudhu, bersedekah,
sillaturrahim, belanja, memasak, tidur
istirahat, berjalan-jalan santai, dan lain-lain.

8. Metode Bermain dan Bernyanyi
Anak dalam kandungan sering kali
melakukan aksi positif, seperti menendang-
nendang atau berputar-putar di sekitar perut
ibunya. Keadaan ini menunjukkan bahwa ia
tidak saja melakukan aksi, akan tetapi ia juga
ingin aksinya itu mendapat sambutan,
jawaban, respons dari luar rahim, yakni dari
ibu atau ayahnya bahkan dari anggota keluarga
lainnya. Jika dimanfaatkan untuk melakukan
interaksi yang lebih harmonis, lebih baik
dengan melakukan permainan-permainan
edukatif, yang bersifat menghibur.
Hal ini selain memberikan manfaat agar si
anak dalam kandungan terhibur juga akan
menambah erat jalinan hubungan yang indah
antara orang-orang yang berada di luar rahim
si ibu dan anak dalam kandungannya. Dan, ia
akan merasa nyaman dan tenang. Sebab,
pada umumnya anak-anak akan merasa
tenang dan nyaman bila diberi sentuhan-
sentuhan yang menyenangkan dan
mengembirakan.
Metode ini cukup dilakukan sederhana saja,
seperti langkah-langkah berikut ini. Ketika anak
dalam kandungan mulai menendang perut atau
berputar-putar di sekitar perut, maka si ibu
hendaknya menyambut dengan kata-kata yang
manis penuh kasih sayang. Misalnya, “Adik
sayang, ada apa Nak?
Mari bermain-main dengan ibu,” sambil ibu
menepuk perut atau membalas tepat di sekitar
tendangan bayi tersebut, sambil katakan
sesuatu perkataan manis, atau paling tidak
bahasa tertawa, tersenyum, riang, dan
bahagia. Kemudian tepuk atau tekan lagi
dengan lembut perut ibu dengan satu tangan
di tempat bayi menendang, kemudian tepuk
sebentar hingga ia balik menendang. Lakukan
beberapa kali hingga ia berhenti menendang
perut si ibu. Kemudian, si ibu hendaklah
mengakhiri permainan ini dengan memberikan
alunan suara merdu, berupa lagu-lagu indah,
syair-syair yang bernuansa riang–gembira
hingga si bayi betul-betul tertidur atau tidak
menendang lagi.

9. Metode Kondusif Alamiah
Setiap gejala alamiah, seperti perubahan
cuaca dingin, panas, terang, gelap gulita,
suara gemuruh ombak, petir, dan suara-suara
radikal keras lainnya, merupakan kondisi alam
yang dapat dijadikan suatu cara edukasi untuk
pendidikan anak dalam kandungan. Metode ini
dimaksudkan untuk mengenalkan suasana dan
kondisi alam yang berubah-ubah yang
tujuannya agar si anak dalam kandungan tidak
terkejut oleh perubahan-perubahan yang
terjadi karena ia telah mengenal dan
merasakan suasana-suasana tersebut dengan
kondisi sikap yang tenang.

About these ads

Komentar ditutup.