”Jangan mencampuri urusan orang lain

Jalan Dakwah Bersama Dewi Yana

Mencampuri urusan pribadi orang lain bukanlah perilaku yang baik. Tetapi bukan berarti kita membiarkan bila ada seseorang berbuat dosa dan tidak mengiungatkannya. Bukankah kita juga tidak suka, kalau ada orang lain yang ikut campur dalam urusan pribadi kita?

”Jangan mencampuri urusan orang lain,” begitulah orang tua kita menasihatkan. Bagi saya pribadi, nasihat itu sangat cocok. Selain karena saya memang tidak tertarik dengan urusan orang lain, saya sendiri memiliki banyak urusan pribadi yang harus diselesaikan. Bukan hanya orang timur yang mengajarkan sistem nilai seperti itu. Orang barat pun demikian. Mereka bilang;”Mind your business!” Oleh sebab itu, ’tidak mencampuri urusan orang lain’ sudah menjadi sistem nilai universal. Masalahnya, apakah kita harus selalu demikian?

Kadang kalu kita mencampuri urusan orang lain, kita jadi mudah menilai atau menarik kesimpulan atas seseorang dengan mudah, padahal belum kita cermati dan belum tahu/ tidak tahu secara pasti bagaimana permasalahannya . Dan kadang hal tsb membuat kita bersikap menjadi seorang yang ahli, cenderung menasehati dan menggurui, mengoreksi orang lain, padahal diri kita sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang kita nasehati Dan jika kita yang mengalami masalah tsb, belum tentu kita mampu menyikapinya lebih baik dari orang yang kita campuri urusannya dan kita nasehati.

Seharusnya kita bercermin terlebih dahulu, melihat diri kita, sudah sebaik dan sehebat itukah kita?? Sebelum kita mencampuri urusan pribadi orang lain tanpa diminta dan tanyakan apada diri sendiri, bagaimana jika urusan pribadaikita yang diusik/dicampuri oleh orang lain tanpa kita memintanya.

Dan terkadang, ada dari kita yang melakukannya, karena rasa iri hati, cemburu, dengki, atau ada kepentingan pribadi lainnya, sehingga kehidupan orang yang yang kita iri tsb menjadi begitu sangat menarik untuk kita ikuti, dan bisa saja, kita jadi suka/senang bila kita melihat orang yang kita iri tsb mendapat kesusahan dan kita akan merasa susah, jengkel dan semakin bertambah iri hati, bila melihat orang yang kita iri tsb, mendapat kebahagiaan. Kita pun akan cenderung lebih suka menghakimi dan bersikap sepetinya seolah2 kita ini ahli dalam menilai, padahal diri kita sendiri saja banyak kekurangan dan banyak urusan2 kita yang perlu kjita perbaiki, termasuk diantaranya, memperbaiki diri kita supaya tidak lebih mudah tertarik denganurusanorang lain dan mencampuri urusan orang lain, terutama urusan yang bersifat pribadi

Memang terlintas sepertinya kita peduli sama seseorang, tetapi jika kita tidak diminta terlibat dalam urusannya, sebaiknya kita tidak mencampuri urusan orang lain yang sifatnya pribadi

Mengingatkan itu memberitahu kepada seseorang/kelompok agar tidak melakukan hal-hal negatif, atau menyerukan kebaikan. Sementara ikut campur adalah ikut mengurusi permasalahan orang lain, dimana masalah tersebut tidak layak untuk kita campuri.

Contoh, misalnya dalam sebuah kantor, kita cenderung lebih mudah melihat meja orang lain, tapi tidak segampang itu saat kita melihat meja kita sendiri. Ada kejadian menarik. Seseorang mendatangi meja orang lain, lalu menyampaikan ’petuah’ tentang bagaimana seharusnya sebuah meja ditampilkan. Pada saat kejadian itu berlangsung, mejanya sendiri memang ’sedang bersih’. Tetapi, pada kesempatan lain, meja org itu sendiri dia ditinggalkan berantakan. Sedangkan meja orang yang pernah dikritiknya sudah terbiasa bersih seperti yang dulu pernah diajarkan oleh beliau. Orang yang pernah dikritiknya bertanya; ’Apakah meja saya sudah seperti yang Bapak nasihatkan?”. Dia menjawab; ”Oh ya. Nah seperti itu kan bagus…” Beliau berkata sambil tetap membiarkan mejanya sendiri berantakan. Apakah ini kisah rekaan belaka? Silakan timbang-timbang sendiri saja.

Faktanya, kita sering tergoda menyarankan orang lain untuk membenahi hidupnya. Namun, lupa untuk membereskan hidup kita sendiri. Padahal, memang meja itu tidak bisa selamanya rapi. Dia pasti berantakan saat kita tengah bekerja keras. Hidup kita juga tidak selamanya beres. Ada kalanya semerawut juga. Tetapi, jika kita terus berusaha tanpa henti untuk membereskannya, maka paling tidak; orang juga tahu kalau kita terus berusaha untuk merapikan meja kita sendiri.

Bagaimana dengan sahabat2 selama ini, apakah sahabat2 termasuk orang yang suka mencampuri urusan pribadi orang lain (tanpa diminta)? A[pakah kita termasuk orang yang lebih tertarik dengan masalah pribadi orang lain? Kalau iya, coba tanyakan pada diri sendiri dengan jujur, apa alasannya? Aatau jangan2 kita mencampuri dan selalu ingin tahu kehidupoan orang lain, karena rasa iri hati kita terhadap orang yan hidupnya selalu kita ikuti/ kita jadikan pusat perhatian kita? Tanyakan dengan jujur, apakah kita merasa senang kalau memlihat orang yang selalu kita ingin tahu bagaimana kehidupan pribadinya,itu, mendapat kesusahan? Apakah kita telah menjadi oran gyang susah melihat lain senang dan senang bila melihat oranglian susah? Hanya kita sendiri ynag bisa menjawabnya.

Sementara tanpa kita sadari, sunngguh alangkah bahagianya seseorang yang kita perlakukan seperti itu, karena ia menjadi pusat perhatian, seperti selebritis, beruntunglah orang tsb, khususnya bila kita mengamatinya karena rasa iri hati dan ada dengki didalamnya.

Kita semua tahu, bahwa hidup didunia ini hanya sementara, smoga kita bisa mengisinya dengan hal2 yang jauh lebih bermanfaat untuk akhirat kita, karena setiap hati, pikiran kita, pendengaran, penglihatan kita, kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. Allah SWT berfirman “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS 17:36)

Dewi Yana

About these ads

Komentar ditutup.