KISAH SUKSES DAKWAH DI TANAH PAPUA oleh Laila Musyarofah

KISAH SUKSES DAKWAH DI TANAH PAPUA
oleh Laila Musyarofah pada 9 Juli 2012 pukul 14:12 ·

ustadz jafar ayomi Papua merupakan daerah yang masih cukup menjanjikan bagi dakwah Islam. Lahan yang melimpah untuk digarap. Di era lampau daerah ini pernah memiliki sebuah kesultanan Islam. Sayangnya, peradaban yang terbentuk pada akhirnya musnah akibat tsunami. Islam kemudian tetap bertahan hingga hari ini di MANOKWARI PAPUA BARAT. Sejumlah sisa peradaban Islam mulai dari manuskrip dan beraneka makanan khas dari dunia Islam masih dapat ditemukan di MANOKWARI Namun demikian daerah pedalaman yang lebih pelosok masih menunggu jamahan dakwah.

Sebut saja USTDZ JAFAR AYOMI seorang dai yang berasal dari MANOKWARI PAPUA BARAT merupakan salah satu awak dakwah yang masih giat menggarap pedalaman bumi Cendrawasih. Bertahun-tahun hidup di tengah masyarakat suku AYOMI membuatnya akrab dengan kehidupan rimba dan keseharian penduduk suatu suku di sana. Keberadaannya mulai diperhitungkan sebagai USTADZ teRtua yang layak dimintai nasihat dan pertimbangan. Sampai pada akhirnya komunitas suku itu mau menerima Islam sebagai jalan hidup dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki.

Bertahun-tahun USTADZ JAFAR AYOMI membimbing serta mengarahkan suku yang berada di bawah bimbingannya. Perlahan-lahan pengenalan Islam di kalangan masyarakat itu mulai menampakkan hasilnya. Meskipun demikian sejumlah adat yang bertentangan dengan Islam memang belum sepenuhnya dapat diubah. USTADZ JAFAR harus menjadi pamomong yang baik terhadap masyarakat pedalaman itu. Tindakannya dalam membina masyarakat dituntut harus strategik dan ekstra cerdas.

Sampai suatu ketika, salah satu pemuka masyarakat meminta pertimbangan kepada ISTADZ JAFAR tentang pesta babi. Tokoh suku tersebut telah mengetahui bahwa babi merupakan makanan yang diharamkan dalam Islam. Namun demikian mereka yang sudah tertarik dengan Islam tersebut belum seluruhnya mampu meninggalkan adat kebiasaan lama mereka untuk memakan babi. Sesepuh suku itu meminta kepada PAK USTADZ JAFAR agar diijinkan melakukan upacara Pesta Babi. Mereka berjanji bahwa itu adalah upacara terakhir dan setelah itu mereka akan benar-benar meninggalkan makanan tersebut.

USTADZ JAFAR tentu saja harus memutuskan dengan cermat pertimbangan yang paling tepat untuk mengatasi permasalahn itu. USTADZ JAFAR AYOMI dihadapkan dengan pilihan yang serba sulit. Di satu pihak babi merupakan makanan yang diharamkan dalam Islam. Dalam hal ini dirinya harus tegas. Namun di sisi lain, USTADZ JAFAR AYOMI tahu bagaimana kondisi keimanan masyarakat itu dan bagaimana masa depan dakwah di pedalaman yang digelutinya jika keinginan itu ditolak. Problem yang dihadapi oleh ISTADZ JAFAR adalah berhadapan dengan masyarakat tidak terdidik dengan tingkat berfikir yang relatif sederhana. Apalagi jika dilihat posisi babi dalam cara pandang masyarakat Papua, merupakan salah binatang yang paling familier di kalangan mereka.

Akhirnya USTADZ JAFAR AYOMI memutuskan untuk mempertimbangkan prioritas dakwah dengan mengijinkan masyarakat melakukan pesta babi. Tentu saja, USTADZ JAFAR bukan sekedar bertindak sembarangan. Dia menyatakan bahwa pesta babi itu harus dilakukan secara besar-besaran dan yang boleh disembelih hanya babi betina. Lha kok?

Masyarakat bersuka cita merayakan pesta babi terakhir itu. Boleh dikatakan semua babi betina di suku itu telah habis. Mereka jelas tidak berfikir sejak awal bahwa dengan punahnya babi betina maka perkembangan babi akan terhenti secara perlahan namun pasti. Apalagi kebanyakan suku pedalaman Papua banyak yang tidak saling berhubungan dengan suku lainnya.

Perlahan namun pasti babi di suku itu hampir punah. laporan dakwah ustadz mughis ayomi di poskan oleh : laila musyarofah

About these ads

Komentar ditutup.