Dan Aa Gym Pun Menangis By Dede Arif Rahman

Dan Aa Gym Pun Menangis
By Dede Arif Rahman

PADA tengah malam hari, saya kerap terjaga—dan kemudian diam-diam dengan begitu saja, entah sadar ataukah tidak, saya pindah ke kamar anak-anak saya. Di sana, pada awalnya saya hanya berdiri mematung di pintu kamar, sambil mendengarkan sunyi atau kadang-kadang suara para peronda membunyikan tiang listrik dengan tongkat atau mungkin batu.

Namun kemudian, saya beringsut perlahan, mendekat pada mereka, duduk di samping tempat tidurnya dan dengan rasa khawatir kalau-kalau mereka terganggu oleh kehadiran saya, saya membaringkan diri di samping mereka—mungkin di samping anak pertama, atau yang kedua. Kemudian saya diam, dan mata agak tak mau terpejam lagi. Saya pandangi mereka dalam-dalam, mengamati semua hal yang terjadi dan berubah pada mereka. Kadang mereka mendengkur—karena mungkin saking capeknya main dan beraktivitas seharian. Kadang juga mereka berbalik ke sana kemari. Dan saya hanya bisa tersenyum.

Di saat-saat seperti itu, pikiran saya melayap entah kemana—namun selalu bertumpu pada keduanya. Berbagai pertanyaan menyelinap, namun satu yang selalu hadir secara konstan; apa gerangan yang ada di pikiran mereka sekarang ini? Tiba-tiba saja saya mendapati bahwa anak saya pertama yang perempuan tak mau lagi dicium atau dipeluk di depan umum, dan anak laki-laki saya sudah bisa membaca. Tiba-tiba saja mereka sudah hampir bisa menghafal lebih dari setengah juz terakhir Al-Quran—sementara saya, masih ingat benar—baru bisa menghafal 1 juz terakhir saja ketika kuliah tingkat dua. Tiba-tiba saja begitu banyak yang dibutuhkan anak saya perempuan jika akan pergi ke sekolah, dan begitu banyak tiba-tiba yang lain…

Kemudian saya teringat istri saya—mereka-reka wajahnya setiap hari. Bagaimana ia melakukan semua itu? Dan bagaimana ia melakukannya tanpa hari ada satu keluhan pun yang sampai kepada saya? Saya memejamkan mata; ingin menangis rasanya. Memang agak lebay mungkin, dan hal-hal seperti ini terlampau biasa disampaikan.

Beberapa hari lalu, istri saya melaporkan bahwa ia menonton acara “Just Alvin” di sebuah stasiun televisi swasta. Bintang tamunya adalah KH Abdullah Gymnastiar—Aa Gym. Setelah beberapa saat percakapan ngalor-ngidul antara Aa Gym dan Alvin, sang pembaca acara, Alvin kemudian menampilkan slide show perkataan Ghaida, anak perempuan Aa yang beranjak dewasa. Dalam video itu, Ghaida berkata, “Dulu itu, saya hampir nggak pernah punya waktu dengan ayah, susah sekali bertemu dengannya…”

Aa Gym terdiam. Tubuhnya menggigil, dan kemudian menangis terisak dengan emosi yang masih terkontrol. Tangis yang—menurut istri saya, insyaAllah—tidak dibuat-buat. Dan mungkin tangis seperti itu juga yang terus saya ingat sampai kini.

About these ads

Komentar ditutup.