Hukum Tarik-Menarik Oleh: A Riawan Amin

Hukum Tarik-Menarik
Oleh: A Riawan Amin

Baru-baru ini, seorang rekan hadir dalam sebuah pelatihan motivasi.

Dan sebagaimana umumnya, peserta diberikan motivasi bahwa kita bisa mendapatkan, mencapai, dan menjadi apa saja yang diinginkan.

Syaratnya harus tahu pasti apa yang kita mau, kemudian secara konsisten memvisualisasikan atau menuliskan keinginan tersebut dan membacanya berulang-ulang.

Konsep motivasi ini sudah sangat umum dan diyakini oleh masyarakat dari beragam agama dan kepercayaan. Salah satu yang terkenal adalah the law of attraction atau hukum tarik-menarik.

Bahwa, pikiran kita yang dominan akan menarik keadaan yang sejenis dengan pikiran tersebut ke dalam kehidupan kita. Sebagian teman membenarkannya berdasarkan kesesuaian dengan hadis Qudsi yang diriwayatkan Bukhari. “Aku bersama prasangka hamba-Ku.”

Namun, benarkah demikian? Ketika kita memvisualisasikan atau mencatat keinginan-keinginan itu, sudahkah kita bertanya dari mana sumber keinginan tersebut? Apakah motif di balik keinginan itu?

Adakah bermotif ibadah ataukah sekadar ketamakan dunia? Apakah kita tahu pasti akan berakhir dengan kebaikan? Dari manakah datangnya, apakah hasil dari petunjuk yang didasarkan pada iman, hasil tahajud, istikharah, ataukah buah dari hawa nafsu?

“Tidak ada musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allh akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS At-Taghabun [64]:11).

Lihat juga peringatan dalam Surah al-Furqan [25]: 43-44, tentang manusia-manusia yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Padahal, keinginan tersebut berdasarkan hawa nafsu semata. Kita hendaknya berhati-hati dengan konsep-konsep motivasi sekuler ini. Karena terkadang mengandung kebenaran namun bersifat parsial.

Hukum tarik-menarik akan menjadi benar, hanya jika dielevasi ke atas pada tatanan yang lebih tinggi yaitu kekuasaan Allah Yang Mahakuasa. Selain itu, hendaknya diperluas cakrawalanya ke dalam konteks kehidupan yang luas dan lengkap, yang terdiri atas kehidupan dunia yang fana dan kehidupan akhirat yang abadi.

Artinya, benar bahwa Allah bersama prasangka hamba-Nya. Namun, bukan prasangka hamba yang mewujudkan keinginan-keinginan. Dengan mengangkatnya ke tatanan yang lebih tinggi, kita seharusnya meyakini bahwa kebersamaan Allah jualah yang akan mewujudkan keinginan-keinginan tersebut.

Tanpa izin-Nya, walaupun kita sudah jungkir balik menuliskan, memvisualisasikan, dan mengulang-ulang secara konsisten segala apa yang diinginkan, niscaya hal itu tidak akan bisa terealisasi. Sebaliknya, hal itu akan membuat kita stres.

Perwujudan keinginan kita yang baik itu pun harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Tidak semua keinginan baik akan mewujud ke dalam kehidupan yang singkat ini.

Bisa jadi kebersamaan dengan Yang Mahakuasa tersebut akhirnya mewujudkan keinginan baik kita, namun tidak di dunia ini, melainkan di kehidupan abadi kita. Bukankah ini lebih baik ketimbang perwujudan di dunia yang sementara? Orang-orang yang beriman pasti akan membenarkannya. Wallahu a’lam.

About these ads

Komentar ditutup.