Kualitas Buruk, Harga Jengkol Malah Bikin Dongkol

Kualitas Buruk, Harga Jengkol Malah Bikin Dongkol

jengkol-ilustrasi- 130603115021-742

 

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI — Harga jengkol di Kota Bekasi naik 100 persen. Jengkol yang biasanya dijual Rp 25 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 50 ribu.

Lauk yang menjadi menu andalan penjual nasi uduk ini mendadak menghilang peredarannya. Dari penglihatan Republika, Selasa (04/6), harga jengkol terbilang cukup tinggi di Pasar Baru Bekasi. Pasar tradisional warga Bekasi yang beralamat di Jalan Haji Juanda ini, ditemukan harga jengkol yang nilai jualnya mengalahkan harga jual ayam potong.

Melonjaknya harga jengkol ini, disinyalir diakibatkan kelangkaan jengkol di pasaran. Penggemar jengkol pun dibuat dongkol karena kelangkaan ini.

Penjual jengkol di Pasar Baru Bekasi, Sartini, mengakui, melonjaknya harga jengkol beberapa hari ini lantaran minimnya pasokan di pasaran. Pasar yang biasa menjual jengkol Palembang saat ini sama sekali tidak ada. Tidak adanya jengkol palembang ini disebabkan tak adanya pasokan dari Palembang.

“Masih belum panennya jengkol Palembang ini, mengakibatkan jengkol Kalimantan yang saat ini tersedia di pasaran seperti tidak ada saingan,” ujarnya. Menurut dia, sejak sepekan terakhir ini jengkol yang ada di pasaran merupakan kiriman dari Kalimantan. Sehingga, harganya terus merangkak naik.”Setiap hari naik per Rp 5 ribu, mulai dari harga Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu,” ucapnya.

Hal serupa dikatakan Andre, salah satu pedagang jengkol di Pasar Baru Bekasi. Dia mengatakan, tingginya harga jual jengkol ini sudah terjadi sejak sepekan ini. Dia menceritakan, kenaikan harga jengkol ini sudah dimulai semenjak awal 2013 ini, namun kisaran naiknya bisa dikatakan perlahan.

“Sejak awal 2013, kenaikan harga jengkol sudah mulai terasa. Harga sebelumnya Rp 9 ribu naik perlahan menjadi Rp 15 ribu, kemudian naik kembali pada April 2013 menjadi Rp 20 ribu, hingga seminggu ini mencapai harga Rp 50 ribu per kilogramnya,” ungkapnya. Andre pun menjelaskan, kelangkaan varian jengkol di pasaran menjadi penyebab tingginya harga jual.

Dia menyebutkan, biasanya ada empat varian jengkol yang dijual di lapaknya. “Biasanya ada empat jenis jengkol yang dijual di lapak saya. Ada jengkol Jepara, Sulawesi, Kalimantan dan Lampung. Saat ini Jengkol Lampung saja yang merajai pasar. Tiga jengkol varian lainnya menurut pemasok masih belum panen. Hal inilah yang memicu tingginya harga jengkol,” ungkap pria berambut pendek ini.

Dia menyesalkan, jengkol Lampung yang ada di pasaran saat ini pun kualitasnya buruk. Dia memaparkan, dengan kualitas seperti ini, banyak pembeli yang mengurungkan niatnya untuk membeli jengkol di kiosnya ini.

“Ini juga jelek bang jengkolnya. Pembeli banyak yang gak mau beli dengan kondisi jengkol yang jelek begini,” keluhnya kesal. Andre mengatakan, pembeli yang datang ke kiosnya ini biasanya ibu-ibu hamil yang tengah ngidam.

“Paling yang belanja ibu hamil yang lagi ngidam aja bang. Itu juga karena dia ngidam, coba kalau gak ngidam, mana mau dia belanja jengkol jelek begini,” sahut Andre.

Anton, pedagang jengkol di Pasar Baru Bekasi pun mengamini apa yang dipaparkan Andre. Dia mengatakan, hanya penggemar jengkol saja yang datang ke kiosnya untuk membeli jengkol Lampung ini.

“Jarang bang yang mau beli. Harganya tinggi banget. Paling yang tetap belanja jengkol mereka para penggila jengkol,” ungkapnya.

Sementara itu, Erik Hamzah (30) warga Bekasijaya, Bekasi Timur, ini mengaku semenjak harga jengkol naik, sangat kecewa. Dia mengakui, sangat heran karena beberapa hari ini masakan jengkol tidak ada. ’’Kadang beli nasi uduk, kok nggak ada jengkol, kenapa?,” terangnya.

Namun, setelah dijelaskan pedagang, ternyata harga jengkol di pasaran mengalami kenaikan harga. Bahkan, tak tanggung-tanggung mencapai 100 persen. ’’Sambil nunggu harga turun, konsumsi pete dulu,” ujarnya.

Dea (27 tahun), mengatakan, terpaksa tetap membeli jengkol, meskipun harga tengah melonjak tinggi. Dia menceritakan, suaminya merupakan penggemar berat jengkol.

“Mau gimana lagi mas, suami saya doyan banget jengkol. Nanti kalau gak beli, suami saya makan apa. Suami saya itu tiap makan harus selalu ada jengkol,” guman wanita berjilbab ini. Dia menjelaskan, semenjak menikah, suaminya selalu minta dibuatkan makanan dengan menu utama jengkol.

Ade mengeluhkan, sebaiknya pemerintah menanggapi kenaikan jengkol ini. “Masa pemerintah diam saja dengan tingginya harga jengkol ini. Bayangkan, satu kilogram jengkol harganya sama dengan dua ekor ayam potong. Itu kan gak wajar mas,” celotehnya kesal.

Risa, (26 tahun), mengatakan, membeli jengkol dikarenakan saat ini tengah ngidam jengkol. Dia mengakui, semenjak kehamilan anak keduanya ini, jengkol selalu menghantui hari-harinya.

“Aneh ya mas dengar saya ngidam jengkol?,” ungkap wanita berjilbab ini. Dia mengharapkan, pemerintah dapat menyikapi serius perihal tingginya harga jengkol ini.

“Pemerintah Kota Bekasi harus serius menanggapi lonjakan harga jengkol ini. Nanti saya gimana dong, masa tiap hari harus mengeluarkan dana besar untuk jengkol saja,” harapan Risa pada pemerintah.

About these ads

Komentar ditutup.