Sifat Mulia Sahabat Oleh: Ustaz M Arifin Ilham

Mengingat tuhan

 

Dzikir1

 

Sifat Mulia Sahabat
Oleh: Ustaz M Arifin Ilham

Perjalanan dakwah dengan mengikutkan sahabat dan asatidz az-Zikra dalam dua bus besar ke Pesantren al-Fatah, Temboro, Jawa Timur, beberapa hari lalu telah menyisakan pelajaran berharga.

Paling tidak menyegarkan kembali semangat dakwah yang pernah diusung oleh manusia-manusia hebat pada masa Rasululah SAW.

Kurun terbaik dalam menghelat dakwah tidak lain ada pada kurun sahabat. Bukan karena pentashih dan penyokong kebenaran masih berada di tengah-tengah mereka, yaitu Rasulullah SAW, tapi karena kejernihan hati mereka.

Ibnu Mas’ud RA berkata, “Saat awal penciptaan, Allah memeriksa setiap hati hamba-Nya; ditemukanlah hati Rasulullah SAW yang paling jernih dalam memantulkan kembali cahaya-Nya, sehingga pantaslah beliau yang diamanahi mengemban risalah agung-Nya.

Berikutnya, ditemukan hati para sahabat juga jernih dan kembali dapat memantulkan cahaya-Nya, sehingga pantas pula untuk menjadi pendamping Rasulullah dalam mengemban risalah-Nya.”

Kesuksesan dakwah para sahabat adalah buah dari perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Sehingga, telah mewujud pada mereka sifat-sifat yang mulia. Ada banyak sifat yang dimiliki para sahabat. Tapi, keenam sifat sahabat berikut ini mewakili sifat-sifat luhur lainnya.

Pertama, kekuatan tauhid. Keyakinan bahwa segala sesuatu tercipta dan terlaksana hanya atas izin Allah SWT. Hati dan kesadarannya dipenuhi dengan kekuatan iman. Kedua, shalat dengan khusyuk dan penuh tawadhu’. Penerjemahan atas kebenaran tauhid ada pada syariat shalat khusyuk. (QS al-Mukminun [23]: 1-3).

Ketiga, haus ilmu dan zikir. Kesenangan para sahabat adalah duduk di majelis-majelis Rasulullah SAW. Mereka bersimpuh, mengaji, dan mengkaji ayat-ayat Allah langsung dari lisan beliau.

Bahkan, jika dalam kesendirian, mereka segera menggantikan amalan lain yang tidak jauh nikmat yaitu berzikir kepada Allah. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS ar-Ra’d [13]: 28).

Keempat, berkhidmat kepada sesama Muslim (ikramul muslimin). Para sahabat sangat mengimani sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan selain akhlak yang baik.” (HR Abu Dawud dari Abu Darda’ RA). Karena itu hidup mereka diabdikan untuk berbuat baik dan kembali berbuat baik.

Kelima, selalu memperbaiki dan memperbaharui niat (tashihiun niat). Karena orientasi hidup para sahabat adalah akhirat, maka mereka selalu memperbaiki keadaan hidup mereka dengan niat mengikhlaskan semata hanya karena Allah. Apa pun yang mereka lakukan adalah ikhlas. (QS al-A’raf [7]: 29).

Keenam, selalu berdakwah di jalan Allah. “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak (taat) kepada Allah dan beramal saleh, dan mereka berkata sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim). (QS al-Hujurat [49]: 33).

Ayat ini benar-benar hidup di hati para sahabat. Karena itu, amalan yang tidak pernah mereka lewati ketika sedang tidak bersama Rasul adalah mengajak dan saling mengingatkan untuk memperkuat iman dan takwa serta berbuat kebajikan.

Selama tiga hari perjalanan dakwah ini, alhamdulillah kini hati lebih mampu untuk hidup bersama enam sifat mulia para sahabat Nabi SAW.

About these ads

Komentar ditutup.