WAKTU OH WAKTU .

Waktu oh waktu 1

 

Shaalih
Bismillaah …

Sesungguhnya, seorang Muslim yang benar-benar Muslim, yang sempurna akan keIslamannya, pasti akan peduli dengan waktu. Dimana waktu tersebut dapat dimanfa’atkan untuk kebaikan dan tidak pula digunakan untuk hal-hal yang mubazir dan tidak bermanfa’at, terlebih lagi maksiat …

Hal yang tidak bermanfa’at, meski tidak tergolong dosa, namun dengan pintarnya seseorang dalam menjaga waktu, dapat memasukkan dirinya ke dalam manusia yang bagus dan baik akan agamanya.

Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Di antara tanda KEBAIKAN KEISLAMAN seseorang adalah ketika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfa’at baginya.”

(HR. at Tirmidzi: 2318 dll.).

Didalam hadits ini terdapat kemuliaan yang luarbiasa akan waktu. Sanking mulia dan pentingnya ia, sehingga Allaahu Ta’ala bersumpah dengannya.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian ..”

(al ‘Ashr: 1).

Sesungguhnya hadits dan ayat diatas mengajak kita untuk memanfa’atkan waktu yang ada, serta menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu yang terbentang untuk sesuatu yang berguna ..

Ada hal yang bermanfa’at untuk dunia, ada hal yang bermanfa’at untuk akhirat, ada juga hal yang bermanfa’at untuk dunia dan akhirat. Apabila seorang Muslim menggunakan waktunya untuk salah satu dari hal yang telah disebutkan, maka ini tidaklah tercela. Bahkan sebagiannya dapat membuahkan pahala ..

Namun jika kita menghabiskan waktu dengan sia-sia, maka inilah awal dari kerugian kita ..

Nabi Muhammad, shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling pandai memanfa’atkan waktunya dipermukaan bumi ini. Dia tidak menyia-nyia dan membuang waktunya, tanpa keta’atan kepada Allaahu Tabaaraka wa Ta’ala. Tatkala ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha ditanyakan tentang Rasuul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dia menjawab:

“Akhlaq Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah al Qur’an.”

(HR Muslim).

Sungguh, apa yang digambarkan oleh al Qur’an; itulah Rasul kita, shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Diantara apa yang diterangkan oleh al Qur’an adalah:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allaah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring ..”

(Ali Imraan: 191).

Inilah di antara akhlaq Rasuul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ya’ni senantiasa beribadah kepada Allaahu Ta’ala dan selalu berada dalam keta’atan kepada Rabbnya, Subhaanahu wa Ta’ala. ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata:

“Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdzikir kepada Allaah disetiap waktu.”

(HR. Muslim).

Bahkan diantara sela-sela menyampaikan ilmu kepada para sahabat, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sempat membasahi lisannya dengan dzikir. Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu berkata:

“Kami pernah menghitung dzikir yang diucapkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majlis sebanyak seratus kali:

“Ya Allaah, ampunilah aku, dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat lagi Maha Pengampun.”

(HR. At Tirmidzi).

Duhai gerangan! Rasul yang jelas-jelas dianugerahi Syurga beserta jaminan didalamnya, masih tetap menunaikan kewajibannya selaku hamba terhadap Rabb, serta senantiasa mengingatiNya.

Bagaimana pula dengan kita yang saban waktu melakukan kesalahan dan dosa?!!

Perhatikanlah betapa ramai yang lupa kepada Rabbnya untuk beribadah tatkala sihat, dan betapa pula akhirnya kembali mengingat Penciptanya kala telah terbaring sakit?

Tumpuan, kemampuan dan upayanya selalu berada didepan pelupuk mata ketika sihat, namun ketika sakit menerpa, ketika tubuh terkapar tanpa daya; tumpuan, kemampuan dan upayanya barulah berpindah kepada Allaah, Rabb yang Menciptakannya.

“Dua ni’mat yang kebanyakan manusia terpedaya didalamnya; yaitu waktu sihat dan waktu lapang.“

(HR. Bukhari).

Betapa ramainya manusia, dikala banyak perkara-perkara sempit menimpa, mereka akan berusaha mati-matian dahulu memohon dan meminta kepada sesama manusia. Namun apabila seluruh pintu-pintu hati manusia menjadi buntu, tertutup, tanpa sedikitpun lowongan yang terbuka untuk menolong, barulah akhirnya dia sadar dan teringat akan keberadaan Rabb Jalla wa ‘Ala, sembari kembali pasrah kepadaNya ..

Sungguh ini termasuk sebuah kesalahan!
Tatkala Allaahu Ta’ala menjadi tempat pengaduan yang terakhir?
Seolah-olah bantuan manusia lebih dibutuhkan dan lebih diutamakan ketimbang bantuan Allaahu Ta’ala?!

Kendati demikian, Dia masih Pengasih dan Penyayang terhadap ciptaanNya. Meski Dia dijadikan harapan yang terakhir serta dilupakan oleh para hamba, namun Dzat Yang Maha Adil tetap senantiasa menganugerahkan ni’mat dan membukakan jalan bagi hamba-hamba yang mengingat, beribadah dan bermohon kepadaNya.

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah dibumi?”

(an Naml: 62).

Sangatlah penting bagi kita untuk menjaga waktu, terlebih tatkala sihat dan lapang, sehingga selaku hamba yang baik lagikan bagus agamanya, wajib kiranya kita perhatikan dengan apa waktu itu kita luangkan, serta untuk apa pula kita gunakan didalamnya.

Janganlah kita menjadi hamba-hamba yang lalai, bahkan sebaliknya, yaitu orang-orang yang hanya menghabiskan waktunya terbuang sia-sia lagikan percuma, sehingga kita melepaskan sebuah kesempatan untuk masuk dalam bagian umat Islam yang bagus dan baik akan agamanya ..

Toh, kelak setiap hamba akan diminta pertanggungjawaban terhadap waktu yang dihabiskan semasa hidup, dihadapan Rabbul ‘Izzati wal Jalaalah ..

Allaahu a’lam. —

Iklan

Komentar ditutup.