Diskusi Menyoal Beda Awal Puasa dgn KH Mustofa Bisri (Gus Mus) oleh Cece Ukon

 

Gus Mus

 

Diskusi Menyoal Beda Awal Puasa dgn KH Mustofa Bisri (Gus Mus)
oleh Cece Ukon (Catatan) pada 9 Juli 2013 pukul 21:06
KH. Mustofa Bisri (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang)

Tanya: mbah Kyai, kenapa di negara kita musti harus ada sidang jika di tanah rasul pun sudah di pastikan besok puasa? Gus Mus: Disana Negara Agama. Disini tidak.

(Rangkuman paparan Gus Mus sbb):
1/ Setiap menjelang Ramadan dan Idul Fitri, saya selalu menerima pertanyaan tentang kapan hari/tanggal mulai puasa dan kapan 1 Syawal.

2/ setiap kali selalu di-ulang2 pembicaraan soal HISAB dan RU’YAH. Seolah-olah itu merupakan rukunnya (menjelang) Ramadhan dan Idul Fitri.

3/ Yg jarang ~atau malah tak pernah~ dibicarakan justru mengenai siapakah yg berwenang menetapkan Awal Ramadhan dan Awal Syawal itu.

4/ organisasi keagamaan berhak menetapkan atau tidak? Bila Pemerintah (IMAM) yg berwenang menetapkan, mengapa ormas boleh menetapkan lain?

5/ Ini yang sering dilupakan orang: Ñegara kita ini sudah ‘disepakati’ sebagai bukan NEGARA AGAMA dan bukan NEGARA SEKULER. Karena bukan…

6/ Negara Agama, maka Pemerintah tidak bisa bertindak 100% sebagai IMAM dalam pengertian fiqih. Pemerintah tdk bisa melarang ormas keagamaan

7/ mengikuti penetapannya. Sebaliknya karena bukan Negara Sekuler, maka Pemerintah ikut juga mengurusi soal agama sebatas dimungkinkan.

8/ Jadi dalam hal ini, jangan disamakan dg ‘negara2 Islam’ atau yg menggunakan Fiqih murni. Di negara2 semacam itu, tidak pernah terdengar ada perbedaan

9/ Mengapa? Karena di negara2 tsb, hanya mengikuti penetapan dari yg berwenang, Pemerintah.

10/ Begitu Pemerintahnya menetapkan, orang tinggal melaksanakan, tidak ada yg mèmpersoalkan alasan Pemerintah, misalnya: apakah berdasarkan Hisab atau Ru’yah. Terlepas dari hal tsb..

11/ Pertanyaan2 masyarakat kita mengenai Kapan Puasa dan Kapan Idul Fitri, dari satu sisi, bisa diartikan sebagai KE-HATI2AN kaum muslimin dlm ‘me-ngepas2kan ibadah’ mereka.

12/ Asal kemudian tidak berlebihan mempertentangkan perbedaan seandainya terjadi.

13/ Lalu yg satu menganggap yg lain tdk sah atau malah mengharamkan. Meski seandainya HISAB dianggap ‘BID’AH’ dan RU’YAH dianggap ‘KUNO’,

14/ menurut keyakinan saya, Allah tidak ‘mempersoalkan’ hambaNya yg berpuasa dan ber’Ied berdasarkan HISAB maupun yg berpuasa dan ber’Ied berdasarkan RU’YAH

15/ Allah tahu semata semua mereka itu hanya ingin menjalankan ibadah secara benar. Seperti yang selalu saya katakan,

16/ Puasa dan Idul Fitri itu haknya Allah. Sedangkan Allah itu SYAKÜR, Maha nrimakké (Bhs Jawa).

17/Asal kita sudah usaha sungguh2 menjalankan perintah dan tidak berniat melawan, DIA, insyaAllah akan menerima.

18/ Sangat ironi bila Allah berkehendak meringankan kita, justru kita ingin memperberatkannya. ???? ???? ??? ????? ??? ???? ??? ????? (QS. 2:185)

Penutup diskusi: “lha, mbah Kyai, terus kesimpulannya?” » “Ya monggo, sak karepmu melu sing ngendi, le.Sing penting ngga menganggap yg lain ngga sah, karena negara kita bukan negara agama, terus sing penting puasa dan menjalankan perintah Allah dgn sebaik2nya. Ikhlas, hanya mengharapkan ridhaNya semata. Wallahualam bis’sawab..

Komentar ditutup.