Suamiku orang Tabligh … By :Maulana Al Hadromi

 

 

Jemaah Tablig

Cerpen: Suamiku orang Tabligh …

siti merenung jauh di balik tirai jendela rumahnya. Permandangan di luar rumah sungguh mendamaikan hatinya . Dia bersyukur ke hadrat Ilahi karena menempatkan dirinya tinggal di area kampung .. baginya kehidupan di desa lebih tenang dibandingkan hiruk pikuk kehidupan di kota.

Tiba-tiba hatinya merasa heran. saat ini dia sendirian di rumah mengenangkan suaminya yg sedang khuruj ke jalan Allah selama 3 hari.

“siti kesini ada berita yang hendak ibu sampaikan kepada siti? ibunya memanggil siti di waktu pagi dimana mereka sedang sarapan. “Apakah itu ibu, kenapa serius sekali kelihatannya..” siti memandang wajah ibunya.

Sejak ayahnya meninggal, ibunyalah tempat dia mencurahkan kasih sayang dan bergantung harap. kasih sayang pada ibunya tidak bertepi. bahkan Dia sanggup bersusah payah demi melihat ibunya senang.

“Kemarin, waktu kamu pergi ke sekolah, ada abdullah dan orang tuanya datang kemari. Dia hendak melamar kamu. Kalau kamu terima, 3 bulan lagi pernikahan akan dilakukan, bagaimana menurut kamu? pikirkanlah.” kata ibunya “Hah! .. Abdullah anak pak Hashim itu kah? Yang kerja di pabrik ujung kampung kita?” Eja agak terkejut bercampur gembira. “Ha’ah .. dialah.siapa lagi ..” Hati Eja berbunga-bunga. Dia sebenarnya memang menaruh hati pada Abdullah. Abdullah adalah seorang pemuda lulusan teknik yang Bekerja sebagai insinyur di pabrik kampung ini, karakteristik sederhana, berkopiah selalu di kepala dengan janggut , berpakaian jubah dan bercelana cingkrang, mencerminkan identitas islaminya. Sedangkan siti adalah gadis desa lulusan ilmu kependidikan, dan bekerja sebagai guru TK di dekat rumahnya. Apapun dia adalah seorang yang memelihara diri dan kehormatan. Menutup aurat yang sempurna seperti mana yang disyariatkan Allah. Tentu saja dengan nilai-nilai Islam yang diterapkan. Kasih sayang ibu padanya menyebabkan hidupnya dilindungi dari hal-hal yang tidak baik.

“Ahh .. alangkah gembiranya seandainya aku dapat memiliki Si Abdullah.” Bisik hati kecil siti. “hei siti dengar tidak apa yang ibu bicarakan?.” Sergah si ibu setelah melihat siti melamun sebentar. “Aah .. aa ..ya dengar ibu…. duh ibu ni, aku mah gimana ibu saja. Kalau ibu tarima, siti pun terima juga. Mana yang baik untuk ibu, Insha Allah baik juga untuk siti. “siti tersenyum penuh arti memandang wajah ibunya.

YA… SETELAH ITU MERKA MENIKAH…dengan walimah yang sederhana ..

sungguh beruntung mereka berdua…….

“siti sayang. siti gembira tidak kita dah jadi suami istri. “tanya Abdullah setelah mereka sah menjadi suami istri. “Harus gembira. Pria idaman yang siti impikan menjadi kenyataan. “Jawab Eja tersipu malu. “Sebenarnya siti pun wanita pujaan abang. Bila satu kali jumpa siti, hati abang berdegup kencang. Apalagi bila lihat siti pergi Kesekolah untuk mengajar anak muridnya, berpakaian jubah dan bertudung labuh. Dingin hati melihatnya.” kata Abdullah berterus terang kepada istrinya. “Benar kah .. Terimakasih ya abi. siti harap abi sudi bimbing diri siti ini jadi istri dan wanita solehah “jawabsiti. “InsyaAllah sayang. Bukan kah dalam al-Quran ada kata wanita yang baik untuk lelaki yang baik, dan wanita yang jahat untuk lelaki yang jahat ” siti tersenyum memandang wajah suaminya .. hatinya kini sudah dimiliki oleh insan yang didambakan selama ini.

Subhanallah…………

Pulang dari kerja, siti menyambut Abdullah dengan Salam dan mencium tangan suaminya dengan hati yang gembira. Dia menatap wajah suaminya yang kelelahan. “Banyak pekerjaan pa bang, letih sekali nampaknya..” tanya siti pada suaminya. “A’ah sayang. Kerja di pabrik itu menumpuk. Lagi pula, pabrik abang bulan depan penutupan. lagi sibuk-sibuknya”jelas Abdullah kembali. “Oh .. gitu ya ..” siti tersenyum memandang suaminya. Setelah berganti pakaian, mereka berdua menikmati minuman petang. Erm, air kopi habbatussauda ‘dengan kue “Sedap sekali kue ini, pandai sekali siti buatnya. Kalau makan enak-enak kayag gini .. bisa gemuk lah abang “. “hish…. abang ni .. biasa kok itu kue .. pandai-pandai abang ini” siti mencubit lengan suaminye karena usikan itu. “Ni abang mau kasih tau, besok abang mau keluar 3 hari.”. “Besok ya bang?. Kalau tidak keluar boleh tidak .. kesepian lah siti disini. abang tidak ada 3 hari di rumah” jawab siti.
Dia memang tahu, sejak menikah dengan Abdullah , setiap bulan memang wajib suaminya keluar dakwah selama 3 hari.
“Yah sayang .. sudah lupa kah?” “Ermm .. ingatlaah abang aku kan cuma tanya” Sebenarnya siti berat hati mengizin kan suaminya keluar fi sabilillah. Usia perkawinan mereka baru 4 bln. Seharusnya waktu yang ada dihabiskan bersama-sama karena mereka berdua masih dalam proses mengenal satu dengan lainnya. siti sendiri pun masih belum paham dengan usaha dakwah dan tabligh. Hatinya sedikit memberontak bila mengetahui Abdullah terlibat dalam usaha ini .. Apalagi rata-rata kawannya memandang negatif dengan usaha tabligh ni.

Memang dia akui Abdullah adlah seorang suami yang taat pada perintah Allah. Solat lima waktu berjamaah di masjid adalah wajib baginya. Tidak ada istilah lelaki shalat di rumah. Praktek tahajjud, tilawah al-quran dan zikir merupakan praktek hariannya. Dan yang pasti bila berbicara terbagi lah ilmu agama yang dimilikinya. Lantas,siti seharusnya bersyukur dengan Allah atas karunia ini. Cuma dia masih acuh tak acuh dengan kerja dakwah ini.

Perlu kah kita buat kerja dakwah ini? di zaman modern dan teknologi seperti sekarang ini?
orang-orang selalu berfikir, Kenapa tak dakwah dengan Radio, buku , tv, Internet, atau macam ustadz2 atau penceramah agama yang di buat sekarang ini.

Suatu malam siti dan abdullah berbicara tentang usaha dakwah dan tabligh.

“Sayang, apa yang sayang tahu pasal jemaah tabligh ini?” Tanya Badrul pada istri tercinta sambil membelai ubun-ubun istrinya.
“Entahlah bang. Yang siti tahu, orang berkata orang-orang tabligh ini suka tinggalkan anak dan istri berbulan-bulan. Tak beri nafkah lahir batin untuk keluarga. “Jawab siti jujur.

Abdullah tergelak mendengar jawaban istrinya. Itulah manusia menilai sesuatu dari luar tanpa mau memahami isi dalamnya. “siti sayang, coba siti pikir, Apa orang tabligh yang tinggal anak bini. lihat lah zaman sekarang, yang pergi kursus, yang kerja ke luar negeri ada juga yang kerja di laut tempat pengeboran minyak, sebulan di laut sebulan di darat, ada pula yang suami lanjut belajar bertahun-tahun di luar negeri, yang seperti itu apa kah tidak apa-apa? tidak ada seorang yang mempermasalahkan. Coba siti renung firman dalam al-quran yang mafhumnya: “Katakanlah: jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta benda yang kamu usahakan, dan bisnis yang kamu takut kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah, rasulNya , dan jihad di jalan Allah maka tunggulah olehmu, sehingga Allah mendatangkan siksaanNya, .. (At-taubah: 24)” jelas Abdullah kepada istrinya

“e’m benar juga kata abang. entahlah, siti pun tak tahu lah bang. siti sendiri pun baru mau belajar mengenali usaha dakwah tablligh ini.” jawab siti

“Sebenarnya usaha dakwah ini kerja nabi, siti kan tahu bagaimana kisah nabi, beliau adalah kekasih Allah. Sanggup bersusah payah buat dakwahkan kalimat tauhid ini, di ejek, kena lempar batu sampai berdarah, kena lempar dengan kotoran najis, berjumpa orang dari rumah ke rumah, lorong ke lorong, semata-mata hanya untuk mengajak manusia kembali kepada Allah, agar dapat hakikat Lailahaillallah, tidak menyembah makhluk tapi menyembah Allah yang Esa. Kita ini umat akhir zaman. Allah jadikan kita sebaik-baik umat, kan dalam al-quran firman Allah: ‘Kamu adlah sebaik-bai umat, yang lahir bagi manfaat manusia, (karena) kamu menyuruh berbuat segala hal yang baik dan melarang dari hal yang salah” (Ali-imran: 110) …’ Usaha yang kita lakukan sekarang ni hanya 10% saja dibandingkan usaha sahabat sahabiyah dahulu, mereka sanggup korban diri, harta, anak dan Istrinya, semata-mata hanya untuk syahid di jalan Allah, semata-mata agar kalimat Allah tegak di muka bumi ini. karena itu mereka yang telah banyak korban, Allah Taala telah ridha pada mereka dan menjanjikan surga untuk mereka. Lagipun sayang, abang tinggal siti ini bukan di padang pasir seperti Siti Hajar dan Ismail yang di tinggalkan Ibrahim. karena mereka ketaatan mereka kepada Allah sampai itu lah asbab untuk mereka hidup, tidak ada rumah, makanan dan tempat tinggal, tidak tetangga, tapi karena ridha dengan perintah Allah dan sebab dakwah, Ibrahim rela melakukannya. sedangkan siti ini abang tinggal, duduk dalam rumah yang nyaman, cukup peralatan rumahnya, kebutuhan sudah abang sediakan … sudah seperti ini masih juga mengeluh.

“Habis .. siti maunya abang berkepit duduk bawah ketiak siti 24 jam… gitu loh bang? “sambil tersenyum Abdullah sengaja membiarkan istrinya sambil mencubit ujung hidung istrinya yang mancung itu.

“tidak lah sampai seperti itu abangku tersayang. hanya saja siti cemburu, orang lain, bila suami pulang kerja, ada dirumah sampai malam,lalu boleh main dengan anak-anaknya, shalat pun dirumah berjamaah dengan istri dan anak-anak. Ada waktu bermesraan dengan keluarga. Tapi abang, balik kerja istirahat sebentar, lalu jam enam lebih hendak pergi ghast lah, mesyuarat lah, malam markaz lah .. kalau hari Senin sampai Kamis Balik pun kelewat malam. “siti menjelaskan situasi yang sedang dilalui ini.

“Itulah lima amal masjid. Yang kita pelajari keluar 3hari, 40hari, 4 bula, itu semua untuk kita belajar buat kerja nabi, untuk wujudkan suasana iman dan amal dalam berdakwah.Dan bila pulang ditempatan perjuangan kita adalah dengan mengaktifkan lima amal masjid ini. Fikir harian atau rapat harian, lalu khususi orang tertentu untuk waktu dua jam setengah, lalu buat taklim di rumah dan masjid, pergi ziarah di kampung sendiri dan desa tetangga dan setiap bulan keluar 3 hari dengan membawa jemaah yang baru. Lima amal masjid ni merupakan praktek masjid Nabawi, yang mana sahabat buat untuk dakwahkan Islam. oleh Sebab itu sekarang ini, kita hendak belajar meluangkan waktu untuk agama, dunia dan akhirat biar seimbang. Dunia ini hanya jembatan kita untuk akhirat .. coba kita jembatan.di jambatan mana ada orang bangun rumah, istana di atas jembatan. Orang mau memancing di atas jembatan pun di larang tau. “Terang Abdullah panjang lebar sambil melirik mata istrinya.

“Baik lah sayang. siti akan mencoba belajar memahami kerja dakwah dan tabligh ini. Meskipun sulit tapi siti akan berusaha untuk mengatasinya ” jawab siti kepada suaminya

“begitulah seharusnya istri abang yang cantik jelita ni. Nanti akan abang bawa siti jumpa ahlia karkun di kampung ni.”terang suaminya

“Hah, ahlia guru Abas itu,”siti terkejut

“dia dah banyak pengalaman keluar masturat loh, Boleh lah nanti siti belajar dari ahlianya.dan lagi siti boleh berkenalan dengan ahlia karkun bila pergi taklim mingguan masturat nanti. Jangan lupa beri tasykil untuk keluar masturat 3 hari,! “kata Abdullah

siti tersenyum memandang suaminya. “InsyaAllah bang” jawab siti

siti tersadar dari lamunannya. Dia menyeka airmatanya yang mengalir di pipi. Sesungguhnya dia hanya manusia biasa yang lemah untuk menghadapi hal ini. mungkin dia terlalu berharap Abdullah menjadi hak milik mutlak. Tetapi dia lupa, bahwa manusia ini adalah pinjaman sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya Allah telah membeli pada orang mukmin itu dirinya dan hartanya dengan memberikan surga untuk mereka” (At-Taubah: 111) Dia harus kuat dan sabar. Dunia ini hanya pinjaman dan akhirat juga yang kekal abadi. Kalau di dunia ini ada pangkat, harta, derajat tapi tidak mengamalkan agama dalam kehidupan, sudah tentu semuanya sia-sia saja. “

“ya…, aku harus kuat, kuat untuk memperoleh keridhaan Allah. Biarkan manusia yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti usaha dakwah dan tabligh ini. Tapi aku akan selalu berdoa semoga Allah istiqomah dan kekalkan aku, suami dan generasiku hingga hari akhirat dalam usaha ini, dan semoga Allah beri paham pada mereka yang memandang salah, membenci atau menghina kerja ini. Ameen “bisik hati siti…….

Iklan

Komentar ditutup.