BILA SESOSOK JASAD JENAZAH DI FOTO INI ADALAH DIRI KITA By :Ust Ahmad St

 

Mayat fb

BILA SESOSOK JASAD JENAZAH DI FOTO INI ADALAH DIRI KITA ….

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Bila sesosok jasad di depan kita itu adalah diri kita … Mungkin pagi kemarin kita masih berjalan2 dengan teman2 kita …

Mungkin siang kemarin kita masih sempat mendengar sayup-sayup tausiah …

Atau mungkin sempat sejenak tidur bersantai menikmati hari …

Mungkin sore kemarin kita masih tertawa dan bercanda bersama teman2 …

Tapi kini, inilah kita, terbujur kaku …

Wajah cakap kita tak bisa tersenyum lagi …
Tangan kuat kita tak bisa diangkat lagi …
Pikiran cerdas kita tak bisa berputar lagi …
Kaki lincah kita tak bisa bergerak lagi …

Di kanan kiri kita, mungkin ada ayah ibu kita … atau ada saudara2 kita … atau ada sahabat2 kita … Yang menangisi kepergian kita, tapi mereka tak bisa berbuat apa2 …

Kita berusaha berbicara pada mereka …

Oh ayah … ada yang belum kusampaikan padamu, betapa aku ingin lebih banyak mengajakmu bicara …

Oh ibu … ada yang belum kuucapkan padamu, betapa aku menyesal lebih banyak aku membantah perkataanmu daripada mendengarkanmu dengan khusyu …

Oh saudara2ku … apa yang kutinggalkan selain rasa sakit hati pada diri kalian karena buruknya sikapku? ..

Oh sahabat2ku, aku sering lupa menyapamu dengan senyuman tulus setiap saat aku bertemu kalian …

Oh, betapa aku ingin mengatakan aku mencintai kalian … aku menyayangi kalian …!!! Dengarkah kalian? Walau seberapa buruk sikapku, aku mencintai kalian!!! Dengarkah …??

Tapi tidak ada yang mendengar kita … karena lidah kita kini kelu … tak bisa berkata lagi …

Kita kelak akan diarak oleh keluarga dan kerabat, menuju peristirahatan terakhir …

Saat itu, mungkin merupakan perjumpaan terakhir ..
Karena setelahnya, kita akan sendiri bersama tanah yang akan membaur dengan tubuh kalian …

Kaku … bisu … diam … hanya keheningan yang menjadi teman kita saat itu …

Kita sendirian! …

Datanglah malaikat Munkar dan Nakir mendekat dan menanyakan kepada kita …

Siapa Tuhanmu?

Apakah kita bisa menjawab lantang “Allah”? Lidah kita gemetar, ia tak bisa berbohong lagi, ia tak bisa kaugunakan lagi untuk menutupi kepalsuan kita …

Aku ingin menjawab Allah, tapi, lidah ku ini tak bisa menyebutnya … yang kuingat adalah aku terlalu banyak mencintai duniaku …

Siapakah nama yang selalu terngiang dalam pikiranku dan terucap dalam lisanku selama ini, teman, .. pacar? .. Bila selama ini dalam sehari-hari, yang kita ingat bukanlah Allah, yakinkah kita masih bisa mengingatnya di alam kubur ini? Kalaupun kita mengingatnya, yakinkah lidah kita tidak akan kaku karena tak terbiasa ia mengucapkan itu?

Saat yaumil hisab datang … Seperti apakah kisah hidup kita ini kelak akan kita ceritakan? Tidak, saat itu lidah kita dikunci .. Akal cerdik kita dihentikan … Saatnya kejujuran berbicara .. Lihatlah tangan kita, kelak ia akan akan menjawabkan apa yang telah kita lakukan ..

Sentuhlah kaki kita, kelak dialah yang akan menjawabkan apa yang telah kita lakukan. Rasakan hati kita, kelak dialah yang akan berteriak tentang apa yang dia rasa dan niatkan selama ini …

Mereka akan berteriak dengan tangis terpendam karena saat itu ia tak bisa lagi berbohong menutupi kesalahan kita … tak bisa lagi membisu menahan aib kita … tak bisa lagi membela diri kita …

Setelah semua terungkap nanti … yang ada hanya tinggal penyesalan …

Apalah artinya rasa senang di dunia dulu?

Apa makanan enak kita pagi tadi masih ada gunanya kini? Apa novel yang kita baca kemarin masih ada manfaatnya saat ini? Atau film yang kita tonton minggu lalu masihkah menyenangkan kita kini? Handphone yang baru kita beli itu, apakah ada di samping kita saat ini?

Pujian-pujian teman kita bahwa kita hebat dalam berbagai hal apakah masih bisa kita banggakan kini? Tatapan kagum adik-adik kelas kita, apakah masih dapat kita lihat kini? Permintaan tolong dari orang-orang sekitar kita, apakah masih membuat kita merasa penting saat ini?

Bila setelah tirai diturunkan, tap! Drama telah usai. Perjalanan telah berakhir. Kita turun dari panggung kehidupan dan di situlah hidup kita yang sebenarnya…

Apa yang kita bawa di tangan kita?

Mungkin yang kita bawa adalah hutang2 yang belum terbayar? Amanah2 kita yang terlalaikan? Rasa sakit hati teman2 kita yang diabaikan?

Lalu mana amal kita? Ya Allah, cukupkah ini untuk perjalanan panjang ini? Kemarin saja ada kebaikan yang kita tunda. Nanti saja lah, kan masih ada waktu. Namun kini? Masihkah ada? ..

Di mana kita kelak di akhirat berada? Di deretan orang-orang dengan wajah bersih bersinar? Atau deretan orang-orang yang menunduk karena hangus wajahnya karena banyaknya dosa yang selama ini disembunyikan?

Di manakah kelak rumah abadi kita? Apakah di Syurga tempat dimana segala yang kita inginkan tersedia? Atau di Neraka? Tempat dimana segala yang kita pinta adalah sia-sia? Tempat balasan atas hal-hal maksiat yang telah kita lakukan di dunia?

Setiap muslim akan masuk surga, bukan?

Namun apakah sebelumnya kita sempat merasakan api neraka itu? Yang satu hari seperti seribu tahun lamanya? Merasakannya untuk semenit saja sanggupkah kita? Hanya karena dosa yang tidak kita pintakan taubatnya?

Bukan, bukan amal kita yang akan memasukkan diri kita ke Syurga .. Tapi rahmat Allah SWT! Maka hati kita, jagalah selalu pada harapan akan ridho Allah … Sikap kita, jagalah selalu dalam ikhlas padaNya .. Lisan kita, jagalah selalu agar selalu membuahkan cinta padaNya … Harapkanlah Allah dalam hati, Karena hanya Allah yang dapat menolongmu, Sahabat …

Maka mulai hari ini hitunglah segala amal … hitunglah segala kesalahan kita … menangislah karena amal itu belum juga cukup menutupi semua dosa kita … Jagalah terus diri kita dalam kebaikan … Karena kita tak tahu kapan batas akhir hidup kita …

Pada akhir cerita kehidupan kita, apakah akhir yang indah atau buruk? .. Apakah kita yakin, kelak kita akan mati dalam kondisi sebaik ini? .. Apakah kita mati dalam maksiat, atau dalam amal ibadah? .. Apakah kita mati saat kita sedang berbuat sia2, atau saat kita sedang berbuat kebajikan? ….

Karena hidup ini hanyalah perjalanan sementara sahabat … Kisah senangnya hanya hiburan sesaat … Kisah sedihnya hanya ujian sementara …

Alam akhirat itulah hidup kita yang sebenarnya sahabatku .. Maka tanyalah dirimu .. buat apa aku di dunia ini? Tugas apa yang harus kutuntaskan di sini? Bagaimanakah aku mengisi perjalanan ini? Apa yang harus kusiapkan untuk hidupku nanti? Bagaimana akhir hidupku ini nanti kurencanakan?

Tanyakan pada dirimu … cari tahu oleh dirimu … kerjakan olehmu saat ini … mulai detik ini … karena waktu tak dapat menunggu …

…. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ….

Wallahu a’lam bishshawab, ..
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat …
# BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI #

Komentar ditutup.