MUHASABAH BY : DEWI YANA

Aib keburukan

 

 

Sahabat2ku, perjalanan hidup seorang muslim tidak selamanya berada diatas rel kebaikan, tetapi kadangkala ada rambu-rambu yang dilanggar seperti lalai melalaikan shalat (tidak sholat), iri hati, dengki, dusta, ghibah, memfitnah, mendzolimi orang lain, dan perbuatan2 maksiat lainya.

Oleh karena itu, sebaiknya kita harus bisa menyediakan waktu untuk muhasabah/introspeksi diri, mengkaji dan mengevaluasi diri kita, mencoba untuk bercermin agar noda dan dosa yang melekat dalam diri menjadi terlihat jelas dan kita bisa segera melakukan perbaikan.

Alangkah baiknya apabila kita selalu mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dan juga melakukan persiapan untuk menggapai masa depan yang lebih baik, Allah SWT berfirman “HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BERTAKWALAH KEPADA ALLAH DAN HENDAKLAH SETIAP DIRI MEMPERHATIKAN APA YANG TELAH DIPERBUATNYA UNTUK HARI ESOK (AKHIRAT); DAN BERTAKWALAH KEPADA ALLAH, SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN.” (QS. Al Hasyr [59]:18)

Ibnu Katsir menerangkan, yang dimaksud “hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)” adalah introspeksilah diri kalian sebelum nanti dihisab oleh Allah SWT, dan perhatikanlah amal sholeh apa yang telah kau investasikan untuk bekal akhir nanti.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda:” BERUNTUNGLAH ORANG YANG SELALU SIBUK DENGAN AIBNYA SENDIRI DAN MENINGGALKAN AIB ORANG LAIN. (HR. Addailami)

Dari Syadad bin Aus r.a dari Rasulullah saw bersabda: “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’) Hadits ini menggambarkan pentingnya muhasabah dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Muhasabah dalam pengertian bahasa adalah proses menghitung-hitung. Adapun di dalam khazanah keislaman, muhasabah ini dimaksudkan dalam usaha seorang muslim dalam melakukan tazkiyyatun nafs atau penyucian jiwa, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia shalat.” (QS. 87:14-15).

Muhasabah berarti memperhitungkan amal perbuatan diri, apabila ia mendapati dirinya melakukan perbuatan baik (amal shalih) dalam mentaati Allah maka ia bersyukur kepada Allah SWT dan berusaha semaksimal mungkin mempertahankanya agar tetap istiqomah.

Sebaliknya apabila ia mendapati banyak perbuatan dosa dan melanggar aturan Allah, maka ia harus menyesali perbuatan tersebut dan bertobat, dengan memohon ampun kepada Allah atas kesalahannya (beristigfar) dan kembali kepadaNya (bertaubat) serta kemudian melakukan kompensasi kesalahan itu dengan memperbanyak perbuatan baik, meminta maaf pada orang yang telah dia dzolimi, mengembalikan hak2 orang lain (apabila ada hak orang lain yg telah diambilnya dengan cara dzalim)

Muhasabah ini dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan seorang muslim. Sebagian ulama mengajarkan muhasabah harian seiring dengan amal2 harian (amalan yaumiyyan) yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti shalat malam (qiyamul lail), tilawah Quran, dzikir, dll. Muhasabah ini semakin banyak dilakukan akan semakin baik.

SAHABAT2KU, SETIAP HARI YANG KITA LALUI, KITA PASTI ADA DISALAH SATU DARI TIGA GOLONGAN INI :

1 Golongan yang beruntung yaitu orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Kebaikan hari ini lebih banyak dari hari kemarin sedangkan keburukan semakin berkurang.

2. Golongan merugi yaitu orang yang kebaikan dan keburukan masih sama sepeti hari kemarin. Tak ada perubahan dalam diri dan perbuatannya setelah bermuhasabah.

3. Golongan yang celaka yaitu orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Kebaikan semakin berkurang sedangkan keburukan semakin bertambah.

Semua terserah kita, kitalah yang menentukan masuk dalam golongan mana kita hari ini.

TERDAPAT BEBERAPA ASPEK YANG PERLU DIMUHASABAHI OLEH SETIAP MUSLIM, ANTARA LAIN :

1. Yang pertama kali harus di muhasabah adalah aspek Ibadah, karena ibadah merupakan tujuan utama kita diciptakan. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 56)

2. Yang ke dua adalah aspek pekerjaan, usia dan rezeki. Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Nabi saw bersabda, ”Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.” (HR. Tirmidzi)

3. Aspek yang tidak kalah penting untuk kita muhasabah adalah aspek kehidupan sosial, yakni hubungan kita dengan sesama manusia. Karena hubungan kita dengan sesama manusia memegang peranan sangat penting. Rasulullah saw bersabda Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda: “Tahukah kamu siapa yang bangkrut itu?”, mereka (sahabat) berkata: “Ya Rasulullah, orang yang bangkrut menurut kami ialah orang yang tidak punya kesenangan dan uang”

(kemudian) Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang (pada hari kiamat) membawa pahala sholat, zakat, puasa dan haji. Sedang (ia) pun datang (dengan membawa dosa) karena memaki-maki orang, memfitnah, memukul orang, mendzolimi orang dan mengambil harta benda orang (hak–hak orang), maka kebaikan-kebaikan orang (yang menzalimi) itu diambil untuk diberikan kepada orang-orang yang terzalimi. Maka tatkala kebaikan orang (yang menzalimi) itu habis, sedang hutang (kezalimannya) belum terbayarkan, maka diambilkan kajahatan-kejahatan dari mereka (yang terzalimi) untuk di berikan kepadanya (yang menzalimi), kemudian ia (yang menzalimi) dilemparkankedalam neraka (HR. Muslim)

Sahabat2ku, ketika cahaya kesadaran datang menghampiri, terasa begitu banyak sesal yg menggumpal dlm hati. Teringat akan orang2 yang pernah kita sakiti, iri hati kita, kedengkian kita, sifat hitung2an/pelitnya kita, rasa bangga diri dan kesombongan kita, tentang prilaku diri yg begitu sering melakukan kekhilafan.

Betapa kurang bersyukurnya kita akan semua rahmat dan karuniaNya untuk kita. Masih banyaknya kita mengeluh dengan ujianNya yang sebenarnya adalah rahmatNya, buruksangkanya kita pada orang lain, menuduh orang lain tanpa bukti. Telah begitu panjang perjalanan yang kita lalui, yang tanpa kita sadari, telah begitu banyak kita menorehkan tinta hitam dalam sejarah kehidupan kita.

Sahabat2ku, setiap tapak kaki kita yang tertinggal sesungguhnya adalah saksi dari perjalanan hari2 kita. Hanya orang yang bodoh yang membiarkan hari2nya yang tersia-siakan dengan kebathilan, hanya orang yang jahil yang membiarkan waktu hidupnya tercampakan karena tidak mempergunakan kesempatan yang diberikan Allah dan tidak memanfaatkannya untuk kebaikan.

Dan diriwayatkan dari Umar bin Khatab ra beliau berkata, ‘hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia. HR. Turmudzi(Keterangan: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dalam Jami’nya, kitab Shifatul Qiyamah War Raqa’iq Wal Wara’ An Rasulillah saw, bab Minhu, hadits no. 2383. – Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab Al-Zuhud, Bab Dzikrul Maut Wal Ist’dad Lahu, hadits no. 4250. – Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam Musnad Al-Syamiyin, hadits Syadad bin Aus, hadits no. 16501.)

Kehidupan kita di dunia ini, akan sangat menentukan kehidupan kita di akhirat kelak. Untuk itu marilah kita perbanyak melakukan muhasabah/ instrospeksi diri, karena sebaik-baik manusia adalah yang selalu mengevaluasi dengan bermuhasabah diri dalam setiap perbuatan yang telah ia lakukan.

Tulisan ini sebagai pengingat bagi diri sendiri, semoga bermanfaat buat sahabat2 semua

Dewi Yana

Komentar ditutup.