MENJADI PRIBADI YANG MEMPESONA By : Nuhaa Wati

 

Ahlak dan ikhlas

Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (40:61)

MENJADI PRIBADI YANG MEMPESONA

Pada dasarnya secara umum manusia ingin mendapatkan kesuksesan dalam hidup. Namun mengapa banyak orang yang belum mendapatkan kesuksesan, mereka merasa gagal. Pertanyaannya mengapa bisa gagal? Jawabannya adalah kemungkinan terbesar mereka gagal karena tidak tahu bagaimana caranya untuk sukses.

Jika seseorang ingin menjadi penyanyi tentu ia harus tahu bagaimana caranya menjadi penyanyi. Jika seseorang ingin menjadi orator, maka hal yang harus dilakukan adalah mengetahui bagaimana caranya agar menjadi orator. Jika seseorang ingin menjadi pilot, maka dia harus tahu cara bagaimana menerbangkan pesawat. Jika seseorang ingin menjadi pengusaha, tentu ia harus tahu bagaimana kiat-kiat dan cara-cara menjadi pengusaha. Dan banyak hal-hal lainnya sebagai contoh.

Begitu pula lah dengan sukses. Sudah bisa dipastikan untuk mendapat kesuksesan perlu cara dan jalan yang ditempuh. Itulah yang berkembang dewasa ini, betapa banyak forum dan lembaga yang menawarkan berbagai macam cara untuk meraih sukses, baik dalam berkarir maupun dalam bisnis. Karena memang masih banyak dianatara kita yang gagal.

Tak dapat kita pungkiri kegagalan-kegagalan itu muncul akibat tidak adanya pengetahuan bagaimana cara mencapai kesuksesan. Kegagalan itu pun sangat bergantung pula dengan landasan berpikir pribadi seseorang yang melihat bagaimana sebenarnya ukuran sukses.

Ada yang membuat ukuran sukses jika sudah punya kekayaan dengan jumlah tertentu. Ada yang membuat ukuran sukses jika sudah mendapatkan jabatan dan kedudukan tertentu. Ada pula yang membuat ukuran sukses jika sudah mendapatkan pengakuan dan pujian atas prestasi tertentu. Ada yang membuat ukuran sukses apabila diterima dalam suatu perkumpulan atau kelompok elit tertentu. Dan sebagainya. Sungguh ukuran-ukuran sukses tadi begitu empiris dan tidak baku, untuk itu marilah kita gunakan ukuran sukses yang sudah ditunjukkan tuhan dan dicontohkan Rasul-Nya

Apakah seorang Muhammad Rasulullah SAW merupakan sosok manusia sukses? Kami yakin 100 % jawaban kita secara serentak ”Ya, tentu saja beliau merupakan pribadi yang sukses”. Sekarang tahukah kita bagaimana sosok Rasulullah tersebut.

Beliau adalah manusia pilihan yang mendapatkan amanah dari Allah SWT untuk menyampaikan berbagai pesan-Nya kepada manusia. Bagaimana caranya menjadi pedagang yang selalu beruntung. Bagaimana caranya menjadi orang tua. Bagaimana caranya menjadi seorang anak. Bagaimana menjadi seorang isteri, menjadi seorang suami. Bagaimana caranya berhubungan dengan orang lain. Intinya Beliau menyampaikan pesan Tuhan kepada manusia bagaimana caranya menjadi manusia.

Beliau juga diakui dunia bukan hanya dari kalangan Islam, sebagai pemimpin yang sukses dan paling berpengaruh dalam catatan sejarah seperti yang ditulis oleh Michael Hart dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah.

Rasulullah berhasil membina suku-suku di Jazirah Arab yang ketika itu merupakan pusat perdagangan dunia. Bahkan bukan hanya untuk sukunya sendiri. Ternyata beliau menaklukan semuanya berkat akhlak, charakter dan kepribadiannya yang menarik. Sehingga seantero penduduk negeri ketika itu mengenal dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya dengan gelar Al-Amin.

Gambaran kepribadian Rasulullah diantaranya, beliau selalu tersenyum bahkan mengajarkan kepada umatnya bahwa senyum merupakan bagian dari sedekah. ”At-tabassumu shodaqoh” senyum adalah sedekah. Beliau juga selalu bersyukur, tidak pernah mengeluh dan tetap bersabar. Kita masih ingat ketika Rasul dilempari dengan batu dan kotoran oleh penduduk Thaif beliau tidak memintakan malaikat Jibril untuk menimpakan bukit kepada mereka padahal malaikat sudah menawarkan pilihan itu. Subhanallah…

Kondisi orang-orang yang pantang mengeluh, tetap bersabar dan berbuat kebajikan atau amal sholeh telah dilukiskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS Hud : 11)

Nabi Muhammad juga sebagai sosok penolong dan pemurah, bahkan sering mengabaikan kepentingan pribadi dan keluarganya hanya karena lebih mendahulukan kepentingan orang lain. Ketika suatu hari beliau didatangi pengemis yang meminta makanan, padahal hari itu beliau dan juga putrinya Fatimah sama-sama belum makan. Beliau dengan ikhlas memberikan jatah makan yang sebelumnya disiapkan untuknya dan juga putrinya. Ini suatu bukti pengamalan firman Allah SWT;

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah, 2 : 177)

Rasulullah juga dikenal sebagai sosok yang Tidak pernah marah, tidak pernah kata-katanya menyakiti hati. Hal tersebut dapat tergambar dalam kisah Anas Bin Malik, seorang pembantu rasulullah yang mengaku bahwa beliau tidak pernah marah dan mengeluarkan kata-kata menyakitkan, selama sekian tahun Anas hanya mendapati beliau marah ditandai dengan wajahnya memerah, ”tangannya mengusap kepala ku kemudian menyuruh ku pergi sesuka hati ku.” Ungkap Anas.

Rasulullah senang menutupi aib orang lain, rendah hati dan tidak sombong. Suatu saat ketika perjalanan dari Madinah ke Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah Muhammad terlihat menarik unta sementara Abu Bakar berada di atas punggung unta. Beliau bukan saja menjadi penumpang setia namun bersedia bergantian dengan Abu Bakar selama perjalanan. Lihatlah seorang pemimpin besar tidak malu untuk menuntun unta yang dinaiki bawahannya, Ini bukti kerendahatian beliau.

Kepribadian beliau yang lain ialah Menepati janji, tidak pernah mau membicarakan orang lain dan tidak pernah berburuk sangka kepada orang lain seperti halnya larangan yang telah difirmankan Allah dalam surat Al-Hujarat ayat 12.

Kepribadian berikutnya yang dimiliki rasulullah adalah selalu Hadir pada kesusahan atau kebahagiaan orang lain. Telah terbukti ketika orang yang selalu memaki-maki dan meludahi beliau setiap perjalanan berangkat sholat Subuh tiba-tiba tidak nampak lagi di tepi jalan tempat biasa ia memaki. Kemudian Rasulullah menanyakan kepada sahabat yang lain kemanakah gerangan orang yang biasa meludahi ku. Sahabat menjawab bahwa ia sedang sakit. Maka Rasululullah pun datang menjenguk orang tadi.

Beliau juga Sangat ramah, menyapa terlebih dahulu (dia yang meminta semua pengikutnya harus menjadi orang ramah mengucapkan salam).Tidak membeda-bedakan orang lain. Beliau juga Rapi dan sering para sahabat menjumpainya saat sedang bersisir. Beliau Sangat bersih dan wangi, mengajurkan bersiwak atau mengosok gigi, memakai wangi-wangian.

Yang tak kalah hebatnya dari kepribadian beliau adalah Pema’af. Ketika Du’Tsur mengejar Rasulullah untuk membunuhnya dengan harapan mendapatkan 100 ekor unta sebagai imbalan sayembara pemuka Kafir Qurais bagi siapa saja yang mendapatkan Muhammad dalam keadaan hidup atau mati. Di suatu lembah Du’tsur mencoba menghampiri Rasulullah dengan wajah dan ucapan mengerikan serta hunusan pedangnya yang tajam namun Rasulullah terselamatkan oleh kebesaran kalimah Allah. Setelah itu posisi pedang berpindah tangan, Rasul pun membalikkan arah pedang ke leher Du’tsur yang sudah mulai ketakutan sambil bertanya ”Wal An man yamna’uka minni” Sekarang siapa yang akan menolongmu? dengan nada memelas Du’tsur menjawab tidak ada Muhammad melainkan jika engkau mau mema’afkan dan memberiku ampun. Rasulullah pun mema’afkan dan menyeruhnya untuk pulang.

Peristiwa ini senada dengan Firman Allah SWT:

“Berikanlah kemaafan dan suruhlah dengan kebaikan serta pedulikanlah orang-orang yang bodoh itu.” (al-A’raf: 199)

Dan masih banyak lagi kepribadian-kepribadian beliau yang belum kita ceritakan disini. Sungguh betapa mempesonanya kepribadian Rasulullah…

Tidak diragukan lagi bahwa ummat manusia tidak akan mungkin mampu menggapai cita-cita sebagaimana yang dicanangkan Allah SWT seandainya di tengah-tengah mereka tidak ada orang yang memiliki akhlak mulia atau kepribadian mempesona.

Rasulullah sendiri sepanjang hidupnya telah membuktikan kebenaran dan keampuhan pribadi beliau yang sangat mempesona. Ia adalah seorang tokoh sejarah yang sangat sukses. Dalam banyak hal, kesuksesannya itu berhasil diraih karena ia selalu mengedepankan akhlak yang lembut dan menyentuh saat berinterakasi dengan umatnya.

Mari kita lihat

Mengapa Rasulullah mendapatkan kepercayaan sebagai Al-Amin yang berhak mengangkat dan memindahkan hajar Aswad? Jawabannya tentu karena Rasulullah memiliki kepribadian yang mempesona.

Mengapa seorang saudagar kaya Khadijah meminta Rasul agar memperisterinya, sementara semua mahar dan kelengkapan pernikahan yang harganya luar biasa mahal ditanggung sendiri oleh Khadijah? Jawabannya tentu karena Rasulullah memiliki kepribadian yang mempesona.

Mengapa Rasulullah berhasil menaklukkan kota Mekkah, mengajak seluruh penduduknya memeluk agama Islam tanpa cara kekerasan dan pertumpahan darah? Jawabannya tentu karena Rasulullah memiliki kepribadian yang mempesona.

Mengapa Rasulullah saat berdagang laku lebih cepat dari kebiasaan orang lainnya yang berdagang? Jawabannya tentu karena Rasulullah memiliki kepribadian yang mempesona.

Dan masih banyak lagi rahasia kesuksesan beliau yang kita bongkar dengan pertanyaan mengapa dan mengapa. Jawabannya hanya dengan satu ungkapan karena Rasulullah memiliki kepribadian yang mempesona.

Hal ini terekam dalam Al-Quran saat Allah SWT menyatakan bahwa seandainya Nabi Muhammad tidak bersikap lemah lembut, maka umat manusia niscaya akan menjauh darinya.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Ali-Imran, 3 : 159)

Saat menerangkan tentang kepribadian Rasulullah SAW, Ayatullah Khamanei menyatakan, “Nabi yang mulia adalah kumpulan keutamaan semua nabi dan para kekasih Allah. Beliau adalah naskah terlengkap dari semua kebajikan yang ada pada diri para utusan Tuhan sepanjang sejarah. Ketika nama Nabi Muhamad kita sebut, kita seakan-akan sedang mendeskripsikan kehadiran seluruh nama cemerlang dari orang-orang suci, mulai dari Nabi Ibrahim, Nuh, Musa, Isa, Luqman, serta semua nama dari para imam yang suci.”

Sementara Rahbar menambahkan, “Di antara bintang-bintang yang bertaburan menghiasi jagad semesta, ada bintang-bintang tertentu yang sangat cemerlang dan memancarkan cahaya seakan-akan ia adalah sebuah galaksi. Padahal, galaksi sendiri sebenarnya adalah sebutan untuk sekumpulan bintang-bintang. Rasulullah di tengah-tengah itu, para kekasih Allah ibarat bintang besar yang kekuatan cahayanya menyerupai galaksi di tengah-tengah bintang-bintang lainnya. Nabi Muhamad adalah pribadi cemerlang, sebagaimana cemerlangnya galaksi di jagad raya.”

Tak heran jika Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak dan budi pekerti. Karena memang sejak zaman nabi Adam AS dan Rasul-rasul berikutnya hingga Nabi Isa AS Tauhid Ketuhanan telah sempurna diturunkan oleh Allah SWT. Tentu misi diutusnya Muhammad Rasulullah SAW sebagai rencana Tuhan untuk membentuk akhlak dan kepribadian manusia. Sesuai dengan Sabdanya: Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak. ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik”

Dengan perkataan lain maksudnya kira-kira bahwa “Umat Islam harus menjadi orang-orang yang mempesona”

Allah dengan tegas memberikan penjelasan dalam Al-Qur’an:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dapat pula kita fahami bahwa Ajaran Islam adalah rangkaian cara-cara bagaimana meniru dan mencontoh Muhammad SAW dalam segala sisi kehidupan baik hubungannya antara manusia dengan Tuhan maupun hubungannya antara manusia dengan manusia.

Dengan perkataan lain “Seorang Islam harus menjadi seorang Muhammad” menjadi duplikatnya menjadi fotocopy darinya baik secara lahir maupun secara bathin. Bukan hanya batinnya saja tapi lahir atau zahirnya jangan kita abaikan. Semuanya tergambar dalam kepribadian Rasulullah yang kita sering kenal dengan istilah akhlak.

Jika semua orang Islam berkepribadian seperti Rasulullah. Betapa mempesonanya akhlak orang Islam.

Dari berbagai uraian tadi setidaknya dapat kita lihat hal-hal sebagai berikut, diantaranya bahwa;

1. Akhlak adalah ajaran utama Islam

2. Akhlakul Karimah membuat pribadi yang mengamalkannya menjadi seorang yang mempesona

3. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk menjadi pribadi yang mempesona

4. Kecantikan dari dalam – Inner beauty – yang bukan polesan adalah akhlakul karimah

5. Akhlakul karimah dapat mengantarkan seseorang kepada kemuliaan & kejayaan dunia, popularitas, kekuasaan, uang (kalau mau) dan lain-lain, serta bila dijalankan dengan keimanan yang teguh juga mengantar seseorang ke sisi terbaik Tuhannya

6. Sebagai orang beriman dan hamba yang sholeh kita harus memandang bahwa Tujuan Akhlakul Karimah atau berkepribadian menarik dan mempesona adalah Allah semata, tentu jika membuahkan kemuliaan di dunia hanyalah sebagai akibat, bukan tujuan. Pastilah berbeda dengan orang yang tidak beriman, yang memandang bahwa berkepribadian menarik dan mempesona karena ada maunya, karena menjadikan keuntungan dan uang sebagai tujuan. Dan ini tentu nol nilainya di hadapan Tuhan. Sebab Allah tidak melihat itu semua, Dia hanya melihat hati yang menjadi barometer kemuliaan di sisi-Nya.

Akhirnya marilah kita sadari bahwa ajaran Islam adalah tentang pribadi yang mempesona, rahmatan lil’alamin menebarkan kasih sayang untuk seantero alam di jagad raya ini. Mari kita baca lagi buku-buku tentang apa dan bagaimana Rasulullah. Baca dan baca lagi karena itulah ajaran Islam. Baca pula pesan Tuhan yang dikatakan Rasulullah melalui hadits-haditsnya. Juga janganlah kita lupa agar terus membaca rohani kita, baca dan baca dengan berdzikir sebanyak-banyaknya sebab itu pun perintah Allah dan dilakukan oleh Rasulullah.

Mari kita sadari pula bahwa Anggapan dan pandangan “beragama itu berat” harus disingkirkan jauh-jauh dari pemikiran kita. Kita buang anggapan tersebut dan gantikan dengan kesadaran bahwa “beragama itu mempesona”. Sadarilah bahwa selaku umat nabi Muhammad, bila tidak melaksanakan akhlakul karimah, kita berdosa. Dengan perkataan lain orang Islam wajib berakhlakul karimah, wajib mempesona kepribadiannya.

Marilah tetap yakin dan percaya serta tetap memegang teguh nilai-nilai ajaran Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an dan penjelasan lain yang lebih rinci melalui hadits Rasul-Nya.

Selanjutnya dimanapun kita berada, apapun profesi kita mari miliki dan amalkan kepribadian yang menarik lagi mempesona karena itulah perintah Tuhan untuk menggapai segala kesuksesan. Semoga kita sukses di dunia dan di akhirat Amin Ya Rabbal Alamin —

Komentar ditutup.