Mujahidah Cahaya Surga

itikaf-

Itikaf kecil

 

Mujahidah Cahaya Surga
Bismillaahirrohmaanirrohiim
10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan dan disunnahakannya I’tikaf
Pada sepuluh terakhir dibulan ramadhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih bersungguh sungguh dan memperbanyak dalam beribadah dan beramal. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah radiyallahu ‘anha menuturkan .

“Bahwasannya Nabi shalllallahu ‘alaihi wasallam bersungguh sungguh (beribadah dan beramal –ed) pada sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan yang tidak seperti bersunguh-sungguh dihari lainnya.” (HR. Muslim)
Dan dalam hadits yang lain Aisyah radiyallahu ‘anhu menuturkan :

“Nabi shallallahu ‘alalihi wasalalm apabila masuk sepuluh hari terakhir (di bulan ramadhan –ed) mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan istrinya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diantara bentuk untuk mengisi sepuluh malam terakhir dibulan ramadhan adalah dengan melaksankan i’tikaf.
I’tikaf adalah menetapnya seorang muslim yang mumayyiz di masjid dalam rangka untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Yang hukumnya sunnah, hal ini berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :

“(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (Qs. Al-Baqarah : 187)
Dari Aisyah menuturkan :
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh terakhir dibulan ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian ber’itikaf istri-istri beliu setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarat-syarat I’tikaf
1. Muslim yang mumayyiz dan berakal. Tidak sah i’tikaf dari seorang kafir, orang gila dan anak kecil.
2. Niat (niat beri’tikaf dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’aala),Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya segala amalan tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. I’tikaf dimasjid
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman

“Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (Qs. Al-Baqarah : 187)
4. Masjid yang digunakan untuk i’tikaf yang biasa dipakai shalat jama’ah
5. Bersih dari hadats akbar (besar). Tidak sah i’tikaf dalam keadaan junub, haid dan nifas.
Pembatal-Pembatal I’tikaf
1. Keluar masjid dengan sengaja tanpa adanya hajat (kebutuhan).
2. Jima’ (berhubungan suami istri) walau seandainya dilakukan pada malam hariAllah Subhaanahu wata’aala berfirman :

“ (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (Qs. Al-Baqarah : 187)
3. Hilangnya akal. Rusaknya i’tikaf dengan gila dan mabuk.
4. Haidh dan nifas
5. Murtad
Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :

“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu.” (Qs. Az-Zumar: 65)

Kapan mulainya i’tikaf di sepuluh terakir dibulan ramadhan
Barangsiapa yang berniat i’tikaf di sepuluh terakhir dibulan ramadhan, maka dia masuk sesaat sebelum terbenamnya matahari pada hari ke dua puluh satu Ramadhan. Dikarenakan sepuluh terakhir itu dimulai dengan terbenamnya matahari. Ia mulai beri’tikaf pada malam itu. Dan keluar dari i’tikaf setelah terbenamnya matahari di hari terakhir bulan ramadhan. Insya Allah inilah pendapat yang terpilih.

Hal-hal yang disunnahkan bagi orang yang i’tikaf
Memperbanyak ibadah kepada Allah dengan shalat, dzikir, membaca AL-Qur’an, berdoa , memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya serta ibadah-ibadah lainnya.

Hal-hal yang dibolehkan bagi orang yang i’tikaf
Keluar dari masjid untuk berwudhu, atau untuk buang hajat. Bagi orang yang beri’tikaf boleh untuk makan dan minum di sertai dengan menjaga kebersihan masjid.
Wallahu a’lam bis shawwab. —

Komentar ditutup.