AGAR HIDUP INI MENJADI IBADAH, TERASA NIKMAT DAN BAHAGIA, By : Dewi Yana

Berharaf pada allah

Allah mengganti nya dng lebih baik

 

 

Setiap manusia pasti punya keinginan dan cita2 yang ingin diraihnya, kadang keinginannya itu terwujud seluruhnya dan kadang hanya sebagian saja yang bisa terwujud jadi kenyataan, dan bahkan kadang ada yang tidak terwujud sama sekali.

Dalam hidup ini kadang kita memang tidak bisa meraih semua yang kita inginkan, kadang kita hanya bisa meraih sebagian dari impian2 dan keinginan kita. Namun jika kita mampu menyadari bahwa semua itu adalah pengaturan Allah yang terbaik untuk kita, maka kita akan bersyukur atas karuniaNya itu.

Kita punya keinginan dan Allah juga demikian, namun hanya keinginan Allah lah yang akan terwujud jadi kenyataan. Kewajiban amal ibadah manusia dalam hidup ini adalah berencana, berikhtiar dan berjuang dengan sungguh-sungguh dengan segala potensi yang ada. Namun mengenai hasil usaha, Allah SWT yang mutlak memiliki kehendak dan kuasa untuk menentukannya.

Jika keinginan manusia sesuai dengan kemauan Allah, maka tercapailah apa yang diinginkan oleh manusia itu. Namun jika Allah menghendaki yang lain, yang berbeda dengan kemauan manusia, maka walaupun manusia sudah melakukan perencanaan, doa dan usaha yang sungguh2 yang akan terjadi adalah yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Sehingga orang yang memaksakan adanya sesuatu yang Allah belum menghendakinya, akan tersiksa dan menderita oleh keinginannya sendiri, karena tidak mungkin dapat tercapai dan terwujud. Disinilah diperlukan ketawakalan dalam setiap keinginan dan ikhtiar kita.

Sahabat2ku, kita harus meyakini bahwa di dalam hidup ini ada dua kehendak, yaitu kehendak Allah dan kehendak makhluk. KEHENDAK ATAU KETETAPAN ALLAH PASTI AKAN TERJADI, sedangkan kehendak makhluk mungkin bisa terjadi, namun mungkin juga tidak. Allah SWT berfirman, ”Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku/terlaksana” (QS. Al-Ahzab : 38).

Kadang ada dari kita, yang merasa kesal, sedih, kecewa, tidak bahagia di saat keinginan belum berhasil diraih. Pada tahap2 tertentu, itu wajar2 saja, namun jika berlebihan apalagi sampai mengakibatkan kita putus asa, itu sangat tidak baik.

Sebenarnya yang menyebabkan semua itu adalah kita lupa, bahwa kita adalah makhluk Allah yang hidupnya PASTI berada di dalam garis “Takdir Allah” yang telah ditetapkan-Nya. Kita hanya mampu berkeinginan, berencana dan berusaha, sedangkan apa yang akan terjadi, tercapai atau tidak, berhasil atau tidak berhasil, yang berkuasa menentukan bukan kita, tetapi Allah SWT dan hal itu hakikatnya sudah tertulis di dalam ketetapan Takdir Allah.

Sahabat2ku, kadang kita begitu sangat menginginkan sesuatu dalam hidup ini, dan kita terus menerus menginginkannya serta berusaha memperjuangkannya dengan segenap kemampuan yang ada. Dan kadang kita begitu sedih dan kecewa, bila ternyata apa yang sangat kita inginkan itu tidak terkabul/terwujud.

Namun, disaat Allah menunjukkan kita pada kenyataan, bahwa apa yang kita inginkan itu ternyata membawa dampak yang tidak baik untuk kita, maka barulah kita, menyadarinya begitu sangat besar perlindungan dan kasih sayang Allah SWT pada kita, yang menghindarkan kita dari apa yang kita inginkan tsb.

Ini semua cukup menjadi pemahaman bagi kita, bahwa ketika Allah tidak mengabulkan keinginan kita, itu berarti Allah menghindarkan kita dari suatu yang kurang baik bagi kita, Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui. Jadi tawakal dan menyerahkan keinginan kita pada pengaturan Allah adalah yang terbaik

AGAR HIDUP INI MENJADI IBADAH, TERASA NIKMAT DAN BAHAGIA, BERIKUT BEBERAPA LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN:

1. Kita serahkan semua keinginan kita pada Allah. Bebaskan akal pikiran kita dari beban mengatur apa yang akan terjadi dalam hidup ini. Kita serahkan sepenuhnya beban ini kepada Allah. Kita menyadari bahwa apa yang akan terjadi di dalam hidup ini sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Qadha’ dan Qadar-Nya. Kita juga meyakini bahwa yang Allah tentukan untuk kita adalah yang terbaik. “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216).

Yang harus kita lakukan adalah menyiapkan diri menghadapi kenyataan, yaitu segera menyambutnya dengan rasa syukur apabila ”nikmat” yang datang menghampiri kita, dan segera menyambutnya dengan sabar ,jika yang menimpa kita adalah ”kesulitan atau musibah”. Syukur akan mendatangkan tambahan nikmat, sedangkan sabar adalah jalan memperoleh pahala yang tidak terbatas terbatas. “…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar : 10).

Inilah diantara keajaiban orang beriman. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, itu adalah kebaikan dan jika tertimpa musibah ia bersabar, itu adalah kebaikan. Tidak ada keajaiban ini kecuali bagi seorang yang beriman.

2. Fokuskan hati, akal dan seluruh anggota badan kita untuk memperhatikan, memikirkan dan melaksanakan kewajiban kita beribadah kepada Allah, beramal shalih, dakwah, serta kerja di bidang usaha yang dibenarkan oleh hukum syari’ah-Nya, yakni pada awalnya kita membuat rencana dengan sebaik2nya dan secermat2nya. Disaat melaksanakannya kita kerahkan seluruh daya dan upaya disertai doa yang tiada putus-putusnya. Namun pada akhirnya, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah yang Maha Kuasa Menentukan hasilnya, atau dengan kata lain kita bertawakal padaNya. Jika usaha kita berhasil, kita bersyukur kepada Allah dengan tidak berlebihan dan jika usaha kita tidak berhasil, kita menyikapinya dengan kedewasaan iman dan ketawakalan. Insya Allah bila kita lakukan semua itu, kita akan tetap bisa merasa bahagia atas amal dan usaha yang kita telah lakukan, apapun hasilnya.

Semua hidup yang terasa nikmat dan bahagia diatas adalah buah dari iman yang benar kepada takdir Allah SWT dan buah dari ketwakalan kita padaNya. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. 57. Al-Hadiid : 22-23).

Saya yang menulis ini juga masih belajar, saya sharing tulisan ini, semoga bermanfaat buat sahabat2

Dewi Yana

Komentar ditutup.