Tuhan, Aku Rindu BY : Keken

 

Allah kabbah 3

Tuhan, Aku Rindu

BY : Keken

akan ku buka sedikit rahasia ku kepada-Mu
agar Kau tahu,
apa yang kucari selama ini
telah ku kecup setiap sudut raudhah-Mu
meski ia berselimut tagub,
meski ia samar di dalam kabut

aku tahu,
di setiap sayu yang merayu,
Kau selalu menuntun rindu ku untuk membuka tabir-tabir itu
aku pun mulai mengurai derai-derai tabir itu,
dengan butiran-butiran tasbih yang mengalun

karenanya,
di setiap tasbihku,
asmara-Mu selalu menyala merah
membawaku duduk,
tunduk dan merunduk

dan di setiap senja,
aku pun mulai bergelantungan di pundak cinta-Mu,
meski tanpa mahkota,
dan meski hati hanya bisa berkabung dalam luka

namun,
di pelana malam,
Kau selalu kuangkat dalam diam
kulupakan semua kenangan di senja lara,
kutitipkan pada benang-benang kusut di tubir yang kelam

aku selalu meyakinkan diri ini,
rindu pasti kan datang mengetuk hati
rindu pasti kan datang dengan gema yang bertalu-talu
meski dalam sesahutan ratapan yang tiada henti

namun,
di setiap pagi yang kusongsong,
dalam riba-riba yang kosong
Kau tak pernah hadir
sedangkan rindu tak kan bisa disembunyikan,
tak kan ada yang mampu melakukannya

begitu juga aku
yang selalu membentur rindu di dinding-dinding hari
hingga dinding-dinding itu kotor dan berlumut
namun, ia selalu ku bersihkan dengan air dari telaga cinta
dan aku berharap,
dinding-dinding itu kan kembali bersinar terang

Kau pasti tahu
aku adalah lelaki yang selalu berdiri di atas janji
dan sekarang,
kupenuhi janjiku
aku kan berjalan dan mencari gunung yang tertinggi
dan kuharap di puncaknya kelak,
jiwa-Mu kan memayungi hatiku sepanjang hari

oh..
di ketinggian puncak ini,
aku melihat semuanya dengan jelas
istana-istana itu
tembok-tembok itu
gerbang dan pagar-pagar itu
semuanya terbuat dari emas dan permata

oh..
wahai pintu-pintu munajat jiwaku,
kumohon,
membukalah segera,
aku ingin menghirup dan meresap nafas-nafas-Nya
bergegaslah,
sebelum senja menutup tirai sandiwaranya

dan kini,
biarkan aku berdiri di puncak ini
hingga melambai semua panji-panji rindu yang ku bawa
kan ku gambar peta cintaku dari sini
dengan melihat benua
dan muara-muara yang membelah

aku yakin,
kan segera datang tanda dari harga sebuah kesetiaan
kan terpaut dua keping hati di antara dua keping jiwa
seperti Tursina yang rindu kepada Musa
aku pun tetap di sini, menunggu Kau tiba

Komentar ditutup.