Renungan Diri

 

renungan diri

Renungan Diri
Membaca tulisan yang baik itu seperti menasehati diri sendiri, dan kita merasa tidak terhina dengan tulisan itu. Meski, barangkali, yang menulis itu bukanlah siapa-siapa di mata kita.

Terima kasih padamu yang dengan rela berbagi hikmah atas apa yang telah direnungkan, juga (mungkin) dengan sudi menyembunyikan namamu dalam sebuah tulisan yang bagus sekali berikut. Tulisanmu menggugah nuraniku, menggetarkan jiwa, menjadi satu oase dalam kehidupanku. Semoga kebaikan senantiasa ada padamu.

Renungan Diri

Ketika aku berpikir negatif pada seseorang, tanpa sadar aku telah menghakimi orang itu.

Lebih mudah mana?
Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka.

Lebih mungkin mana?
Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman, atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri..?

Lebih mudah mana?
Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan, atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?

Lebih penting mana?
Berusaha menguasai orang lain, atau belajar menguasai diri sendiri?

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada orang lain.

Bukan orang lain yang bikin aku bahagia, melainkan sikap diriku sendiri-lah yang menentukan, aku bahagia atau tidak.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali. Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu BELAJAR dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik.

Hidup adalah PROSES, Hidup adalah BELAJAR.
Tanpa ada batas umur.

JATUH… berdiri lagi.
KALAH… mencoba lagi.
GAGAL… bangkit lagi.

Have a nice and blessed day. ({})
Copy-Paste dari status FB seorang teman
yang juga mendapatkan renungannya dari sebuah grup WhatsApp.

One Response to Renungan Diri

  1. satu dua mengatakan:

    Reblogged this on Selamat Datang.