Pertemuan Maya by:kurniawangunadi

 

Maya burung

Pertemuan Maya

Pertemuan kita tentu bukan sebuah kebetulan. Bahkan pertemuan di dunia maya sekalipun. Jika aku mengagumimu diam-diam tentu bukan tanpa alasan. Kamu memang mengagumkan meski sekalipun aku tak tahu seperti apa wujud aslimu. Kita bertemu tapi tidak pernah bertemu. Aneh kan?

Pertemuan itu pasti diukuti oleh banyak alasan. Barangkali agar aku belajar darimu. Hai, aku selalu membaca tulisan-tulisanmu setiap kali kesempatan. Kau mengagumkan dengan apa yang kamu sampaikan meski aku sendiri tak tahu, dibalik sana apakah kamu konsisten dengan apa yang kamu tuliskan tersebut.

Aku kagum pada setiap jengkal kata yang kau sambungkan. Pada setiap gambar yang kau sajikan ketika selesai perjalanan. Seolah-olah kau manusia paling bebas dari masalah di muka bumi ini. Sempat-sempatnya berbagi cerita ditengah sibuknya menjelang UAS Thermodinamika.

Sesekali ada rasanya aku ingin menyapamu, sekedar mengutarakan kekagumanku seperti : Hai, tulisannya bagus sekali, keep writing ya! , atau sejenisnya. Tapi itu hanya keinginanku yang tak perlu aku wujudkan rasa-rasanya. Untuk apa, tidak terlalu berdampak signifikan pada hidupku bukan? Hanya mengurai rasa penasaran tentang siapa kamu.

Aku mengenalmu tapi tak sungguh-sungguh mengenalmu. Namanya juga maya, nama aslimu aku tak tahu. Seperti apa dirimu dan bagaimana warna suaramu apalagi. Aku hanya memburu kata-kata yang kau sampaikan setiap hari. Aku menunggu sarapan dan makan malam yang kau sajikan melalui rangkaian kata.

Kau mengusik cara berpikirku dan aku menyukai cara mengusikmu, kau tidak membiarkan aku berpikir tenang dan terus meneruskan menularkan pemikiranmu yang menantang. Aku menyukai pikiranmu. Ah, aku tidak tahu kalau “menyukai” telah melahirkan banyak varian.

Sebenarnya, aku hanya penasaran pada siapa dibalik kata-kata yang aku resapi ini. Seperti ada sosok manusia ideal yang tanpa cacat sedikitpun sedang asik dengan tuts keyboard komputernya. Memikirkan kata yang hendak ditulis. Dengan kacamata nya mungkin dan setumpuk buku referensi. Aku tidak tahu.

Aku ingin mengenalmu tapi aku malu memulai sedang kamu tidak membuka diri. Siapa kamu?

Aku sadar kamu juga manusia, penuh kekurangan dan memang banyak kekurangan, aku tidak mau berekspektasi tinggi tentang siapa dirimu. Mungkin hanya kapasitas ilmu yang membedakan kita. Dan yah, mungkin aku kagum pada ilmu yang kamu miliki dan merasa senang atas pertemuan kita ini (sepertinya ini pertemuan sepihak ya ) karena aku banyak belajar darimu.

Jadi, bagaimana cara membuka perkenalan denganmu?

Bandung, 16 Juni 2013

Wahai pemilik kata, siapakah gerangan?

by:kurniawangunadi

Komentar ditutup.