Mengenai Kriteria by :kurniawangunadi

Wanita madrasah anak & suami

 

Mengenai Kriteria

Aku percaya bahwa cinta yang aku alami tidak lagi soal urusan rupa dan urusan usia. Aku sampai pada satu titik dimana aku tidak memedulikan permasalahan tidak mendasar.

Ketika aku bertanya kepada seorang temanku yang hendak mencari seseorang, aku bertanya tentang syarat/kriteria apa yang di ajukan tentang perempuan yang dicarinya itu.

“Pertama, dia perempuan. Kedua, dia muslimah. Dua syarat itu cukup”, dia menjawabnya yakin dilanjutkan dengan senyum. Penuh keyakinan.

“Serius? Yakin?”, aku justru yang ragu ketika mendengarnya.

“Ya, lebih dari serius, syarat yang aku ajukan cukup dua itu saja”, katanya sambil membenarkan kacamata yang sudah tepat posisi.

Bagaimana mungkin kamu seyakin itu padahal aku sendiri memberikan banyak kriteria, apa kabar kriteria dia yang penyayang atau penyabar, dia yang bisa memasak, dia yang hemat, dia yang cantik, dia yang berkerudung atau tidak, dia yang dekat, dia yang bacaan kitabnya merdu dan bagus, atau dia yang dari jurusan ini atau itu.

Temanku justru tersenyum saja mendengarkan pertanyaan dan pernyataan panjang lebarku.

“Hahaa aku tidak peduli yang itu, aku memperbesar peluangku untuk bertemu dengannya. Bukankah secara matematis, semakin banyak kriteria semakin kecil peluang”, temanku menjawab santai.

“Apa kamu siap jika ternyata dia jelek, atau di pencemburu, dia tidak masak, atau dia tidak berkerudung seperti yg lain, atau dia seperi ini dan itu”, saya mengajukan banyak kemungkinan.

“Siap, lebih dari siap. Kekhawatiran seperti itulah yang membuatmu kesulitan sendiri kawan, terlalu banyak kriteria, menuntut yang baik-baik saja”

Aku berpikir.

“Aku hanya memberikan dua kriteria tadi-perempuan dan muslimah-, bagiku itu sudah lebih dari cukup, aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik dan aku percaya kepada pilihan-Nya. Jika ternyata dikemudian aku mendapati dia cantik, dia penyabar, dia cerdas, atau dia pandai memasak, Allah memberikanku lebih dari yang aku harapkan, jika sebaliknya ternyata dia pemarah, dia tidak penyabar, dia lemah atau apapun maka aku percaya Allah menitipkan seseorang untuk aku jadikan ladang pahala untuk membimbingnya dan aku harus bersabar untuk itu”. Dia mengatakannya penuh keyakinan.

“Percaya kepada pilihan-Nya?”, aku tersadar.

“Iya, aku meminta Dia yang memilihkannya, dan aku akan menerima dengan ikhlas pilihan-Nya tersebut”.

“Keyakinan macam apa ini ?”, aku bertanya retoris. Temanku tersenyum memasang muka meyakinkan.

Bandung, 29 Juli 2013

Komentar ditutup.